Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Erdogan Janji Bersihkan Suriah dari Milisi Kurdi Setelah AS Tarik Pasukan

- Minggu, 23 Desember 2018 17:30 WIB
241 view
Istanbul (SIB)- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjanji akan mengusir milisi Kurdi yang didukung AS dan juga kelompok milisi ISIS dari Suriah. Pernyataan itu disampaikan Erdogan menyusul keputusan AS untuk menarik pasukannya dari negara konflik tersebut. "Dalam beberapa bulan ke depan kita akan melihat operasi yang bertujuan untuk menyingkirkan milisi YPG (Unit Perlindungan Rakyat Kurdi) dan elemen-elemen Daesh (ISIS) dari tanah Suriah," kata Erdogan di Istanbul, Jumat (21/12). 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah membuat pengumuman pada Rabu (19/12) malam tentang pernyataan kemenangan atas ISIS di Suriah. Selain itu Trump juga memerintahkan untuk segera dilakukan proses penarikan sekitar 2.000 pasukan AS dari Suriah. Sebelumnya, pada pekan lalu, Erdogan telah mengumumkan akan segera memulai operasi militer baru yang dipimpin pasukan Turki. Erdogan menyatakan menyambut keputusan Trump, namun menegaskan bahwa pihaknya akan tetap waspada karena pengalaman buruk di masa lalu. 

Pernyataan itu mengacu pada kekecewaan Ankara atas kegagalan pemerintahan AS dalam mewujudkan janjinya agar berhenti memberikan dukungan militer kepada YPG untuk melawan ISIS. November tahun lalu, para pejabat Turki mengatakan bahwa Trump telah berjanji untuk tidak memasok persenjataan kepada milisi YPG di Suriah, meski Gedung Putih tidak menyatakan janji itu secara eksplisit. Dukungan militer AS kepada milisi YPG telah mengawali dimulainya peranan negara itu dalam pertempuran di Suriah yang bertujuan untuk melenyapkan kelompok teroris ISIS. 

Sebelumnya diberitakan, Erdogan mengatakan pada 12 Desember bahwa Turki akan memulai operasi militer baru di Suriah utara dalam beberapa hari ke depan, namun pada 14 Desember, dia berbicara dengan Trump melalui telepon. Menurut harian Turki, Hurriyet News, pada Jumat (21/12), keputusan Trump untuk mundur dari Suriah terkait dengan komunikasi telepon tersebut. Sementara Turki mengatakan akan menunggu sedikit lebih lama sebelum meluncurkan operasi militer baru ke Suriah. 

Dipicu Pertanyaan Erdogan?
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan menarik pasukan dari Suriah setelah mendengar pertanyaan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Kabar itu muncul dari dua pejabat AS dan satu pejabat Turki anonim sebagaimana diwartakan Associated Press Jumat (21/12). Para pejabat itu menjelaskan, Trump dan Erdogan melakukan percakapan telepon pada 14 Desember, sehari pasca-pertemuan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan koleganya Mevlut Cavusoglu. 

Dalam pertemuan itu, Pompeo dan Cavusoglu sepakat agar dua pemimpin negara bisa berdiskusi terkait ancaman Erdogan meluncurkan serangan melawan Kurdi Suriah yang didukung AS. Pompeo, Menteri Pertahanan James Mattis, dan anggota tim keamanan nasional kemudian menyiapkan daftar pembicaraan kepada Trump. Inti dari daftar itu Trump bakal meminta Erdogan untuk menahan diri. Sumber itu menuturkan, awalnya Trump sepakat dengan daftar yang diajukan stafnya. "Pembicaraan berlangsung lancar. Semua pihak menyerukan mundur dan menawarkan Turki satu 'kemenangan kecil' seperti mengamankan wilayah perbatasan," kata sumber itu. 

Namun, Erdogan merespon Trump dengan mempertanyakan alasan AS masih di Suriah untuk mengalahkan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Erdogan mengklaim ISIS kini telah kehilangan 99 persen wilayahnya. "Jadi, mengapa kalian masih di sana?" tanyanya kepada Trump. Dia menambahkan Turki bisa menangani sisa anggota ISIS. Dengan Erdogan masih di telepon, Trump bertanya kepada Penasihat Keamanan Nasional John Bolton. Trump bertanya mengapa pasukan AS masih di Suriah jika apa yang dikatakan Erdogan benar. Bolton, tutur sumber itu, mengaku wilayah ISIS kini hanya satu persen. 

Namun Bolton menekankan dia beserta tim keamanan nasional sepakat bahwa perang melawan ISIS masih berlangsung, di mana itu lebih dari sekadar merebut wilayah. Namun, penjelasan Bolton rupanya tidak membuat Trump puas. Dia segera memerintahkan penarikan pasukan yang mengagetkan tidak hanya Bolton namun juga Erdogan. Erdogan memberikan peringatan Trump bahwa penarikan secara tergesa-gesa bakal memberikan dampak yang tidak menguntungkan. 

Namun Trump tetap pada pendiriannya semula namun tidak memberikan rincian waktu penarikan itu sebelum mengakhiri telepon. Imbas dari keputusan itu, sepanjang akhir pekan tim keamanan nasional berusaha mendapat solusi untuk membatalkan, menunda, atau mengurangi efek penarikan pasukan itu. Pompe, Mattis, dan Bolton tercatat dua kali pada pekan ini ke Gedung Putih untuk mengubah pendirian Trump. Namun sia-sia saja. Satu video pendek yang diunggahe ke Twitter Rabu (19/12) menjadi pengumuman Trump soal penarikan pasukannya di Suriah. "Sudah waktunya membangun kembali negeri kami dan membawa anak muda itu ke tempat mereka berasal," tutur Trump. Keputusan tersebut mengagetkan sekutu AS dan memberikan dampak yakni mundurnya Mattis dari jabatannya. (AP/AFP/Kps/h)
Editor
:
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru