Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 11 April 2026

Pusat Penampungan Kaum Disabilitas Tak Luput dari Serangan Israel

* Ribuan Warga Sydney Kecam Serangan Militer Israel di Gaza
- Selasa, 15 Juli 2014 11:51 WIB
751 view
 Pusat Penampungan Kaum Disabilitas Tak Luput dari Serangan Israel
SIB/rtr
Anak-anak Palestina yang mengungsi dari Beit Lahiya tertidur di ruangan satu kamp pengungsian milik PBB di Gaza City, Senin (14/7). Israel terus melancarkan serangannya ke kantung-kantung militan Hamas di Jalur Gaza dengan alasan mengakhiri ancaman roket
Gaza (SIB)- Serangan udara yang dilancarkan Israel atas wilayah Gaza tidak pandang bulu. Bahkan satu tempat yang menampung kaum disabilitas pun tak luput dari serangan Israel. Para penghuni Mobarat Felestin Centre di Beit Lahiya, Gaza baru saja selesai sahur ketika rudal pertama jatuh menimpa atap bangunan pada Minggu, 13 Juli waktu setempat. Rudal pertama tersebut biasanya merupakan peringatan standar dari militer Israel bahwa serangan besar akan dilancarkan.

Namun orang-orang di dalam pusat penampungan disabilitas tersebut tidak paham soal peringatan itu. Apalagi dengan keterbatasan fisik dan mental, mereka tak mungkin bisa meloloskan diri dari tempat tersebut sebelum serangan besar terjadi. Dan benar saja, lima menit kemudian, pesawat tempur Israel membombardir bangunan tersebut.

Sebagian besar bangunan pun hancur. Dua wanita Palestina tewas dan empat lainnya mengalami luka-luka parah dalam peristiwa mengenaskan itu. Demikian seperti diberitakan kantor berita AFP, Senin (14/7). Salah satu korban adalah Soha Abu Sada, wanita berumur 42 tahun yang kehilangan salah satu kakinya dalam serangan itu. "Inilah nasib rakyat kami, bahkan mereka yang sudah menderita pun harus mengalami kematian yang mengerikan," cetus Abu Rashida, seorang wanita yang merupakan kerabat korban. Korban tewas lainnya adalah Ola Ushahi, wanita Palestina berumur 30 tahun.

Pusat penampungan kaum disabilitas tersebut telah berada di Gaza selama 24 tahun. Selama ini gedung tersebut berkali-kali lolos dari gempuran Israel. Namun organisasi tersebut pindah ke lokasi sekarang sekitar tiga tahun lalu, dan seorang tetangga menyebutkan, seorang anggota kelompok militan Jihad Islam dan keluarganya pernah tinggal di gedung tersebut. Namun keberadaan mereka saat ini tidak diketahui.

Namun hal ini dibantah keras pihak Mobarat Felestin yang menegaskan bahwa organisasi mereka tidak terkait politik ataupun militan manapun. Sejauh ini, militer Israel belum mengeluarkan pernyataan mengenai serangan ini. Namun Kementerian Pertahanan Israel menyampaikan, penyelidikan akan dilakukan atas serangan ke pusat kaum disabilitas tersebut.

Sebanyak 172 warga Palestina telah tewas dan sekitar 1.230 orang lainnya terluka akibat bombardir Israel di Gaza yang telah memasuki hari ketujuh ini. Hari Sabtu, 12 Juli waktu setempat merupakan hari paling berdarah selama operasi militer Israel ini, yakni menewaskan 56 orang.

Militer Israel memulai operasi yang diberi nama Operation Protective Edge ini pada Selasa, 8 Juli dini hari waktu setempat. Israel berdalih bahwa operasi ini dilancarkan untuk menghentikan serangan-serangan roket ke wilayah Israel yang dilancarkan kelompok-kelompok militan di Gaza.

Sejak operasi Israel tersebut dimulai, serangan roket dari Gaza ke wilayah Israel kian meningkat. Menurut militer Israel, sekitar 715 roket Gaza telah mendarat di wilayah negeri Yahudi itu. Sementara 160 roket lainnya berhasil ditembak jatuh dengan sistem antirudal Israel, Iron Dome.

Kecam Serangan Militer

Unjuk rasa menentang serangan militer Israel ke Gaza di Sydney diikuti ribuan orang. Mereka mendesak Israel menghentikan serangan udara Israel ke Gaza. Sekitar 2000 – 3000 orang pengunjuk rasa, Minggu (13/7), berkumpul di depan Balai Kota Sydney, mereka membawa beragam spanduk berisi kecaman terhadap Israel dan meneriakan kalimat “Bebaskan, Bebaskan Palestina, Bebaskan Gaza!”. Aksi yang berlangsung selama beberapa jam itu berlangsung damai.

Aktivis pro-Palestina, Damian Ridgewell, dalam kesempatan itu menyampaikan orasi berisi kecaman pedas dan mengatakan desakan internasional terhadap Israel untuk menghentikan kekerasan di Gaza. "Hari ini kita berdiri berdampingan dengan ratusan orang di dunia yang mengecam kejahatan Israel dan kita berdiri dalam solidaritas untuk Palestina,” katanya. "Orang yang dengan kesadaran mengatakan "Tidak" kepada Israel. Mereka mengatakan "Tidak"  kepada dukungan pemerintah federal kepada kejahatan  perang yang dilakukan oleh Israel dan pembasmian etnis. Kita katakan kita berada di pihak Palestina!" "Seluruh warga dunia di New York, Afrika Selatan, Norwegia  berunjuk rasa, sebanyak 15.000 orang di  London – kita ikut ambil bagian dalam solidaritas selama beberapa hari untuk warga Palestina dan menentang keras pembunuhan berdarah yang dilakukan Israel."

Namun aksi itu diwarnai perkelahian antar sesama pengunjuk rasa. Polisi sampai harus turun tangan melerai perkelahian di belakang panggung utama di depan Balai Kota tersebut. Perkelahian itu terjadi ketika beberapa orang pro-Palestina tidak terima dengan kelompok pengunjuk rasa yang membawa bendera yang mewakili organisasi militan berbasis di Lebanon, yaitu Hizbullah.

Dengan bendera kuning tersampir dibahunya, pria Iran Mahdi Naseri mengatakan ia juga menjadi target, ketika seorang wanita berupaya untuk merobek bendera yang dipegangnya.  "Saya tidak menyangka akan diserang seperti itu oleh sesama pengunjuk rasa ,” katanya. "Bendera ini adalah bendera Hizbullah .. mereka melawan Zionisme. "Kita semua sama ... kita berjuang untuk hal yang sama ... kami ingin keadilan. Saya menentang terorisme, saya menentang pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak  bersalah." (ABC Australia/AFP/dtc/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru