Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 14 April 2026

Hamas Ajak Hezbollah Perangi Israel

* Puluhan Turis Israel Dievakuasi dari Maladewa
- Jumat, 01 Agustus 2014 10:40 WIB
631 view
Hamas Ajak Hezbollah Perangi Israel
SIB/ist/AP Lefteris Pitarakis
Seorang bocah palestina dengan gaya uniknya berdiri di depan gedung berlantai enak yang hancur di hantam serangan udara Israel di Kota Sabra, Jalur Gaza, Kamis (31/7). PM Benjamin Netanyahu menegaskan Militer Israel akan menghancurkan Jaringan terowongan
Gaza (SIB)- Kelompok Hamas menyerukan agar kelompok Hezbollah dari Lebanon bergabung dalam perjuangan melawan Israel.

 Pernyataan itu disampaikan pada Rabu (30/7) di hari ke-23 operasi militer Israel yang sudah menewaskan setidaknya 1.300 warga Palestina.

"Kami harap front Lebanon akan terbuka dan kita akan berjuang menghadapi Israel bersama-sama," kata Wakil Kepala Biro Politik Hamas, Mousa Abu Marzouk seperti dikutip kantor berita Rusia, RIA Novosti. Abu Marzouk kemudian mengajak Hezbollah, yang kini tengah membantu rezim Bashar al-Assad di Suriah, memerangi Israel dari Lebanon selatan yang berbatasan dengan negeri Yahudi itu. "Tak perlu diragukan lagi bahwa perlawanan dari Lebanon akan sangat berarti," kata Abu Marzouk yang berdomisili di Kairo, Mesir itu.

Dalam pidatonya pekan lalu, pemimpin Hezbollah Hassan Nasrallah mengatakan kelompoknya akan mendukung perlawanan Gaza terhadap Israel.

"Hizbullah dan kelompok militan Lebanon lainnya berdiri di samping rakyat Palestina dan membantu Hamas mengatur strategi, juga berusaha menyelesaikan konflik," ujar Nasrallah. Dia menegaskan pihaknya optimistis bisa menjadi "tembok pertahanan" bagi Hamas dan menghancurkan Israel.

Keyakinan itu lantaran keberhasilan Hizbullah menghadapi Israel pada 2005 silam.

Sementara Presiden Bolivia Evo Morales menghapuskan kebijakan bebas visa bagi warga Israel.

Bahkan, Morales memasukkan Israel ke kategori negara teroris karena pembantaian militer mereka atas rakyat Palestina di Jalur Gaza dalam beberapa pekan terakhir.

Hal ini disampaikan Morales dalam pidatonya di kota Cochabamba. Menurut Morales, keputusan pencabutan bebas visa bagi warga Israel dalah karena negara itu "tidak menghargai prinsip dan tujuan Piagam HAM PBB." "Sebagai sebuah negara, sebagai manusia, kami telah membuat keputusan tegas untuk menghapuskan kesepakatan visa bagi Israel yang sudah berlaku dari 17 Agustus 1972, dan ditandangani oleh rezim diktator di Bolivia yang memungkinkan warga Israel masuk Bolivia secara bebas tanpa visa masuk," kata Morales.

Menurut Morales, berdasarkan keputusan ini, Israel masuk dari negara kategori 1 ke 3 untuk prosedur pemberian visa ke Bolivia. Dengan kategori baru ini, pengajuan visa dari Israel akan dtinjau oleh Badan Imigrasi Nasional Bolivia.

 "Saudaraku, masuk ke kategori 3 dengan kata lain kita menganggapnya sebagai negara teroris. Untuk itu, kita harus hati-hati," kata Morales.

Sebelumnya tahun 2009, hubungan diplomatik antara Bolivia dengan Israel meregang setelah pemerintah Morales menyatakan solidaritasnya terhadap Gaza. Menurut Morales, serangan Israel ke Gaza adalah "kejahatan terhadap kemanusiaan."

Saat ini sudah lebih dari 1.300 orang gugur di Gaza akibat serangan Israel.

 Pemerintah Israel menyatakan siap dengan pertempuran jangka panjang. Sementara itu, upaya gencatan senjata masih juga belum membuahkan hasil.

Dievakuasi dari Maladewa
Para wisatawan Israel dievakuasi dari pulau wisata Maladewa setelah seorang warga Israel merusak sebuah spanduk yang menyamakan bendera Israel dengan lambang swastika Nazi. Demikian Pemerintah Maladewa, Rabu (30/7). Akibat perusakan itu, warga Pulau Thulusdloo, tak jauh dari ibu kota Male, menggelar unjuk rasa sehingga sebanyak 30 turis Israel terpaksa dievakuasi dari pulau tersebut.

Pejabat di kantor presiden Maladewa, Mohamed Shareef, mengatakan, proses evakuasi turis Israel itu dilakukan untuk keselamatan mereka sendiri.

"Potensi insiden buruk terhadap mereka sangat besar sehingga kami harus mengevakuasi para turis itu," ujar Shareef.

Shareef mengatakan, Pemerintah Maladewa tidak melarang warga Israel memasuki kepulauan itu, meski mengakui negeri itu menentang aksi kekerasan Israel di Gaza. "Kami tidak melarang mereka datang. Namun, turis Israel harus ingat mereka mengunjungi sebuah negara dengan penduduk 100 persen Muslim. Dan kami mendukung Palestina tanpa syarat," ujar Shareef.

Shareef melanjutkan, Pemerintah Maladewa telah mengambil sejumlah langkah untuk menunjukkan sikap mereka terhadap Israel. Salah satunya, Pemerintah Maladewa telah menerapkan larangan terhadap barang-barang buatan Israel serta membatalkan tiga kerja sama dengan Israel di bidang kesehatan, pariwisata, dan pendidikan.

Sementara tiga kerja sama yang dibatalkan itu sebelumnya diteken pada 2009 oleh pemerintahan lama.

Sejauh ini, ketiga kesepakatan itu masih berbentuk dokumen dan belum diimplementasikan. Maladewa, yang dikenal dengan pantainya yang indah dan pulau-pulau karangnya yang tersembunyi, menarik jutaan wisatawan setiap tahun, tetapi hanya sekitar satu persen yang datang dari Israel. (kps/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru