Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 14 Februari 2026

Menteri Jepang Ambil Cuti Melahirkan Khusus Ayah

Redaksi - Kamis, 16 Januari 2020 21:31 WIB
146 view
Menteri Jepang Ambil Cuti Melahirkan Khusus Ayah
internasional.kompas.com
Seorang menteri Jepang menuturkan, dia bakal mengambil cuti melahirkan bagi ayah.
TOKYO (SIB)
Seorang menteri Jepang menuturkan, dia bakal mengambil cuti melahirkan bagi ayah. Langkah pertama bagi pejabat publik di Negeri "Sakura". Menteri Lingkungan Shinjiro Koizumi menyatakan, sangat sulit baginya membagi waktu antara tugas negara dan anaknya yang baru lahir. Karena itu seperti dilansir AFP Rabu (15/1), menteri berusia 38 tahun itu bakal mengambil cuti melahirkan bagi ayah. "Saya ingin mengambil cuti selama dua pekan secara fleksibel, mengecualikan sejumlah tugas penting," papar Koizumi.

Politisi Partai Liberal Demokratik itu berkata, dia berharap langkahnya bisa menjadi inspirasi bagi bapak lain mengikuti jejaknya. Koizumi menjelaskan, dia tidak akan mengambil cuti itu secara beruntun. Dia berujar bakal bekerja dari rumah, atau mempersingkat jam kerjanya. Nantinya, cuti itu akan diambil dalam periode tiga bulan sejak anaknya lahir, buah cintanya dengan presenter Christel Takigawa.

Tokyo merespons dengan menyatakan mendukung langkah putra dari mantan Perdana Menteri Jepang, Junichiro Koizumi," tersebut. Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga mengatakan, dia berharap tindakan Koizumi memberikan dampak positif bagi pola pengasuhan dari sisi ayah. Dilaporkan, tidak ada catatan apakah pernah ada menteri yang mengambil cuti melahirkan bagi ayah. Namun, Koizumi merupakan yang pertama kali mengumumkannya.

Secara umum, sebenarnya pemerintah Jepang sudah menawarkan cuti orangtua bagi para pekerja yang telah mempunyai anak. Baik ayah maupun ibu bisa mendapat cuti selama setahun, dengan tambahan selama enam bulan jika mereka tidak mendapat tempat pengasuhan anak yang layak. Namun, hanya enam persen dari para bapak yang mengambil cuti itu. Berbanding 80 persen dengan ibu yang menggunakannya delapan minggu pasca-melahirkan. Dan dari para pria yang mengambil cuti khusus ayah, lebih dari 70 persen menggunakannya kurang dari dua pekan.

Aktivis menyatakan, data itu merupakan buah dari tekanan oleh atasan serta budaya yang menciptakan jam kerja panjang. Karena itu, sejumlah pegawai sampai menggugat atasannya karena "pata-hara", atau terjemahan bebasnya rundungan karena mengambil cuti. (AFP/kps/f)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru