Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 14 April 2026

Wali Kota Wuhan Bela Keputusannya Tutup Kota

* Kunjungi Wuhan, PM China Temui Pasien Virus Corona dan Staf Medis
Redaksi - Selasa, 28 Januari 2020 20:31 WIB
234 view
Wali Kota Wuhan Bela Keputusannya Tutup Kota
Foto: AFP
Polisi Hong Kong menangkap seorang pendemo dari lokasi perumahan Ming Estate, di Fanling, Minggu (26/1) waktu setempat. Ratusan warga melayangkan protes keras sebagai bentuk kekecewaan atas rencana perubahan apartemen, yang berlokasi diperbatasan
Beijing (SIB)
Wali Kota Wuhan di China, Zhou Xianwang menyebut penanganan yang dilakukan pemerintahnya atas krisis wabah virus corona di kota itu tidak cukup baik. Dia pun menyatakan siap untuk mundur jika memang diharuskan. Hal tersebut disampaikan Zhou dalam wawancara dengan media pemerintah China, CCTV di tengah kemarahan publik atas manajemen krisis kota tersebut, khususnya mengenai penutupan kota Wuhan.

Zhou membela keputusannya untuk menutup Wuhan yang berpenduduk 11 juta jiwa itu, sebagai cara efektif untuk mengendalikan penyebaran wabah coronavirus ini. Zhou menambahkan, dirinya dan kepala partai Komunis kota Wuhan, Ma Guoqiang siap bertanggung jawab atas penutupan kota tersebut. "Jika masyarakat ingin mengejar akuntabilitas (tentang penutupan itu) dan publik punya opini yang kuat, kami bersedia mundur," ujarnya seperti dilansir Channel News Asia, Senin (27/1).

Sementara itu, Perdana Menteri (PM) China Li Keqiang berkunjung ke kota Wuhan yang menjadi pusat wabah virus mematikan, corona. Dengan kunjungannya tersebut, Li menjadi pemimpin paling senior China yang mendatangi kota itu sejak wabah terjadi dan memicu kekhawatiran global.

Seperti dilansir Channel News Asia, Senin (27/1), dengan mengenakan masker, Li berada di Wuhan untuk menyelidiki dan memimpin upaya-upaya yang telah berlangsung untuk mengendalikan virus corona di kota berpenduduk 11 juta jiwa yang dikarantina tersebut.

Menurut Dewan Negara China atau kabinet China, Li berada di kota tersebut untuk menemui para pasien dan staf medis di garis depan. PM Li ditunjuk sebagai kepala kelompok kerja untuk menanggulangi wabah coronavirus, yang bermula dari satu pasar di Wuhan yang menjual hewan liar untuk dikonsumsi. Kelompok itu telah mengumumkan perpanjangan libur Tahun Baru Imlek yang semula dijadwalkan berakhir pada 30 Januari, untuk mengurangi penyebaran virus corona.

Hingga kini wabah virus corona telah menewaskan 80 orang di China dan menginfeksi lebih dari 2.300 orang di penjuru negeri itu. Secara khusus, China telah mengisolasi Provinsi Hubei, khususnya kota Wuhan yang diyakini sebagai tempat asal-muasal virus corona yang telah menyebar ke negara-negara lain. Penutupan itu telah membuat kota Wuhan bak kota mati.

Sebagai upaya pengendalian pencegahan wabah virus corona, otoritas China juga memerintahkan pelarangan sementara perdagangan hewan liar. Virus corona diduga tersebar melalui daging hewan liar seperti kelelawar dan ular.

Ubah Pulau Wisata
Pemerintah Hong Kong menyiapkan kamp karantina khusus di Lady MacLehose Holiday Village untuk warga yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Pulau wisata seluas 13,2 hektare itu berada di kawasan hutan lindung Taman Wisata Sai Kung. Dilansir CNN, pemerintah Hong Kong sejak 23 Januari lalu telah mengubah lokasi liburan tersebut menjadi pusat karantina untuk menampung orang yang terinfeksi virus corona. Satu pos pemeriksaan didirikan di pintu masuk area taman nasional yang tenang untuk memantau orang-orang yang masuk dan keluar.

Departemen Layanan Hiburan dan Kebudayaan, Lady MacLehose Holiday Village mengatakan area mereka bisa menampung 268 tenda berkemah dan 52 bungalow. Lokasi ini menjadi tempat ketiga kamp karantina korban terduga terinfeksi virus corona.

Sebelumnya pemerintah China juga telah mengubah Lei Yue Mun Park dan satu bangunan di kota Fanling untuk menjadi pusat karantina orang yang diduga terinfeksi virus corona. "Untuk mengatasi kebutuhan karantina di masa depan, Departemen Kesehatan telah menghubungi pengelola desa wisata di bawah organisasi non-pemerintah lain sebagai tempat potensial sebagai pusat karantina," tulis pemerintah Hong Kong dalam pernyataannya.

Hanya saja, rencana pemerintah untuk membuat pusat karantina mendapat protes keras dari warga di kota Fanling. Ratusan warga melayangkan protes keras hingga melemparkan bom molotov sebagai bentuk kekecewaan pembangunan pusat karantina di Fanling, daerah yang berbatasan dengan China. Bangunan apartemen tidak berpenghuni itu rencananya akan diubah dan digunakan sebagai pusat karantina sementara warga yang diduga terinfeksi virus corona.

Warga sempat memblokade jalan dan bentrok dengan polisi pada Minggu (26/1). Pedemo juga meminta pemerintah Hong Kong menutup daerah perbatasan dengan China untuk mencegah penyebaran virus corona. Hingga saat ini Hong Kong telah mengonfirmasi delapan kasus penyebaran virus corona.

Kementerian Kesehatan Hong Kong mengatakan hingga Senin (27/1) siang ada 107 orang yang sedang dikarantina dan 77 kasus terduga virus corona. Pemerintah mencatat 2.000 orang telah terinfeksi virus corona di China. Penyebaran virus corona hingga kini telah mencakup Amerika Serikat, Prancis, Australia, Thailand, Filipina, dan Singapura. (CNN/CNA/dtc/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru