Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026

WHO Kategorikan Virus Corona Berstatus Risiko Tinggi di Dunia

* China Kekurangan Peralatan Medis, Korban Tewas Jadi 106 Orang
Redaksi - Rabu, 29 Januari 2020 20:38 WIB
619 view
WHO Kategorikan Virus Corona Berstatus Risiko Tinggi di Dunia
Foto: Dok. Istimewa
Ilustrasi. WHO memasukkan virus corona ke dalam kategori tinggi. 
Beijing (SIB)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan penyebaran virus corona ke dalam risiko sangat tinggi di China, sementara untuk tingkat global dan regional dikategorikan sebagai risiko tinggi. Dilansir AFP, Badan Kesehatan PBB--yang berbasis di Jenewa--merevisi kesalahan laporan sebelumnya yang dirilis pada Kamis (23/1) dengan memasukkan penyebaran virus corona sebagai risiko global.

Koreksi penilaian ini bukan berarti WHO mengumumkan kondisi darurat kesehatan global terkait penyebaran virus corona. Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pengubahan status lantaran wabah ini memiliki potensi tinggi menyebar di skala global. "Virus corona darurat dan masuk kategori sangat tinggi di China, tetapi belum menjadi darurat kesehatan global," ungkap Ghebreyesus usai mengunjungi Negeri Tirai Bambu baru-baru ini. "WHO menilai wabah tersebut berisiko sangat tinggi di China, dan tinggi risikonya di skala global dan dunia," tambahnya. Dilansir AFP, penilaian risiko virus corona oleh WHO dilakukan mencakup tingkat keparahan, penyebaran, dan kapasitas untuk mengatasi kasus tersebut.

Sementara itu, pemerintah China menyatakan, mereka mengalami kekurangan alat medis untuk memerangi virus corona yang sudah menewaskan 106 orang. Pernyataan itu diungkapkan Wakil Kepala Biro Administrasi Medis Komisi Kesehatan Nasional, Jiao Yahui, dalam konferensi pers. Dilansir SCMP Selasa (28/1), Jiao mengatakan, kekurangan alat medis menjadi batu sandungan terbesar China dalam menanggulangi virus corona.

Dia menuturkan, Beijing sebenarnya sudah mengerahkan 6.000 personel kesehatan dari berbagai negara ke Hubei, provinsi yang menjadi sumber penyebaran virus. Jiao menjelaskan lebih dari 4.000 tenaga medis sudah sampai, dengan sekira 1.800 sisanya bakal sampai pada Selasa malam waktu setempat. Di sana, mereka akan bekerja di Wuhan, kota yang pertama kali melaporkan adanya virus China, dan kota-kota yang masih berada di Hubei. Adapun di Wuhan, lebih dari 10.000 ranjang rumah sakit sudah dipersiapkan untuk menangani para pasien yang positif terinfeksi.

Meski begitu, Jiao berujar bala bantuan yang dikerahkan pemerintah pusat tidak bisa langsung bekerja karena kurangnya peralatan. Misalnya adalah pakaian pelindung. "Selain masalah kekurangan pakaian pelindung, beberapa alat medis yang kami punya tidak bisa didistribusikan ke garis depan," ungkap Jiao. Di Shanghai, sprai anti-virus spektrum luas telah dikembangkan dan disemprotkan di bangsal darurat Pusat Klinik Kesehatan Publik untuk melindungi tim medis. Namun, Direktur Pusat Kesehatan Institut Penyakit Menular Xu Jianqing, sprai tersebut tidak bisa digunakan mengingat belum mendapat persetujuan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China membeberkan laporan manajemen risiko berdasarkan 2.744 kasus yang terinfeksi virus corona pada Minggu (26/1). Dalam laporan yang dirilis, Senin (27/1), badan itu menyebut penularan utama virus Wuhan itu melalui pernapasan serta kontak fisik.

Dalam laporan itu, virus corona tersebut sangat menular, dengan jumlah reproduksi (rerata kasus yang mengalami peningkatan) berada di angka 2-3. "Saat ini, belum ada bukti sahih yang menyatakan bahwa penyakit itu dapat menular selama masa inkubasi," terang badan pengendalian penyakit. Lembaga itu memaparkan, ada kemungkinan jumlah orang yang tertular, baik di Wuhan maupun Provinsi Hubei, meningkat karena transimisi komunal.

Dalam laporan itu, dikatakan rasio orang yang terinfeksi dari pria ke perempuan mencapai 1,16:1, dengan 0,6 persen yang tertular berusia di bawah 15 tahun. Kemudian 16,8 persen pasien sudah mengalami pneumonia, dengan tingkat kematian tidak kurang dari tiga persen, jelas lembaga itu. Pakar unit penyakit menular di Rumah Sakit Ditan Li Xingwang berkata, pasien dengan level infeksi ringan bisa pulih dalam waktu sepekan. Sementara pasien yang sudah menunjukkan gejala lebih serius membutuhkan waktu perawatan selama dua pekan atau lebih, berdasarkan data yang ada.

Li menyebut, beberapa pasien tidak memperlihatkan gejala pneumonia, mereka hanya mengalami demam ringan hingga batuk-batuk. Sementara yang lain menderita mulai dari kesulitan bernapas hingga mengalami kegagalan dalam sistem pernapasan," beber Li.

Dinyatakan Sembuh
Sementara itu, Komisi Kesehatan Nasional China mengonfirmasi jumlah kasus virus corona di wilayah China daratan bertambah menjadi lebih dari 4.500 kasus. Sementara jumlah pasien yang dinyatakan sembuh bertambah menjadi 60 orang. Seperti dilansir televisi nasional China Global Television Network atau CGTN, Selasa (28/1), data terbaru dari Komisi Kesehatan Nasional China menyebut saat ini total 4.515 kasus virus corona terkonfirmasi di berbagai wilayah China daratan. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 976 pasien dalam kondisi kritis di rumah sakit setempat. Sementara untuk kasus diduga (suspect) virus corona saat ini dilaporkan mencapai 6.973 kasus di wilayah daratan utama China.

Komisi Kesehatan Nasional China juga menyebut 60 pasien virus corona di wilayahnya, dinyatakan telah sembuh dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Data ini tercatat pada Senin (27/1) tengah malam waktu setempat. Tiga pasien di antaranya dilaporkan sebagai petugas medis yang terinfeksi virus corona saat merawat para pasien yang terinfeksi virus yang sama.

Laporan CGTN menyebut tiga petugas medis itu telah dinyatakan sembuh dan dipulangkan dari Rumah Sakit Serikat Wuhan pada Selasa (28/1) siang waktu setempat. Ketiga petugas medis itu merupakan bagian dari 15 petugas medis di kota Wuhan yang terinfeksi virus corona saat merawat para pasien. Pada Minggu (26/1) waktu setempat, sedikitnya 11 petugas medis lainnya dinyatakan negatif virus corona.

Menurut Komisi Kesehatan Nasional China, ada sejumlah standar yang diberlakukan dalam menyatakan seorang pasien telah sembuh dan membebaskannya dari karantina hingga memperbolehkannya pulang dari rumah sakit. Standar pertama adalah suhu tubuh pasien berada di angka normal dalam sedikitnya tiga hari terakhir. Standar kedua adalah peningkatan sistem pernapasan yang sangat jelas terlihat. Standar ketiga adalah hasil tes virus corona menunjukkan negatif sebanyak dua kali secara berturut-turut, dengan interval pengambilan sampe minimal satu hari.

Jumlah korban tewas akibat virus corona melonjak jadi 106 orang di wilayah China. Dari jumlah itu, sebanyak 100 orang meninggal di Provinsi Hubei yang menjadi pusat wabah virus corona, kemudian masing-masing satu orang meninggal di Provinsi Hebei, Provinsi Henan, Provinsi Heilongjiang, Provinsi Hainan, juga di kota Beijing dan Shanghai. Sejauh ini, belum ada korban tewas dari luar wilayah China daratan.

Sejumlah pakar lembaga di China mengumumkan, mereka berhasil mengungkap asal virus corona yang saat ini mewabah dan menuai kekhawatiran dunia. Peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China (CDC) menyatakan, mereka telah mengumpulkan sampel untuk diteliti. Hasilnya, seperti dilansir Xinhua visa News.com.au Senin (27/1), asal virus corona itu berasal dari Pasar Seafood Huanan di Wuhan.

Pasar yang kemudian ditutup sejak patogen itu menyebar dilaporkan menjual berbagai macam hewan liar. Mulai anak serigala, rubah, hingga burung merak. Dalam keterangan CDC, sebanyak 31 dari 33 sampel positif diambil dari zona barat yang merupakan tempat perdagangan hewan liar. "Hasilnya menyatakan bahwa penyebaran virus corona baru mempunyai relevansi tinggi dengan perdagangan binatang liar," ujar CDC. Pasar Seafood Huanan sebenarnya sudah menjadi sorotan karena dianggap sebagai asal muasal patogen mematikan. Namun, sampel yang positif itu membenarkan dugaan tersebut. Keberadaan pasar basah itu membuat virus dengan gampang melompat baik dari hewan hidup atau pun mati, serta manusia seperti penjual dan pembeli.

Virus corona yang pertama kali muncul di kota Wuhan sejak Desember 2019, telah menyebar ke 16 negara termasuk Amerika Serikat (AS). Wilayah administrasi khusus seperti Hong Kong dan Macau juga Taiwan ikut dilanda wabah virus corona, dengan delapan kasus virus corona terkonfirmasi di Hong Kong, tujuh kasus di Macau dan lima kasus di Taiwan.

Tinggalkan Wuhan
Sekira lima juta orang dilaporkan pergi dari kota Wuhan yang menjadi asal muasal wabah virus corona di China. Perginya jutaan orang dalam rangka liburan Tahun Baru Imlek itu terjadi sebelum karantina diberlakukan secara resmi terhadap kota berpenduduk 11 juta orang tersebut. Seperti dilaporkan televisi nasional China Global Television Network atau CGTN, Selasa (28/1), hal tersebut diungkapkan oleh Wali Kota Wuhan, Zhou Xianwang, dalam konferensi pers pada Minggu (26/1) waktu setempat.

Kota Wuhan dan belasan kota lainnya di Provinsi Hubei telah dikarantina sejak 23 Januari lalu, yang dimaksudkan untuk mengendalikan penyebaran virus corona. Namun sayangnya diketahui bahwa banyak orang telah pergi meninggalkan kota Wuhan sebelum karantina diberlakukan.

Kota Wuhan merupakan kota industri dan kota perdagangan di wilayah China bagian tengah. Wuhan juga menjadi lokasi bandara terbesar di Provinsi Hubei. Kota ini juga memiliki pelabuhan. Terlepas dari itu, kota Wuhan juga merupakan salah satu kota imigran domestik terbesar di China, atau dengan kata lain memiliki banyak warga pendatang. Jadi tidak aneh jika banyak orang pergi meninggalkan kota Wuhan saat atau menjelang liburan Tahun Baru Imlek, yang merupakan liburan terpenting di China.

Menurut data Biro Kebudayaan dan Pariwisata Wuhan, sekira 2,4 juta orang pergi meninggalkan kota Wuhan saat musim liburan Tahun Baru Imlek tahun 2018 lalu. Laporan Big Data Lab dari Baidu, perusahaan layanan web terkemuka di China, menyebut populasi imigran terbesar di Wuhan berasal dari kota Xinyang yang ada di Provinsi Henan, kemudian diikuti oleh kota Chongqing di China bagian barat daya. Populasi imigran di Wuhan juga diketahui berasal dari Nanyang, Zhumadian, Guangzhou, Zhoukou, Beijing, Shangqiu, Shenzhen dan Changsha. Lima kota di antaranya diketahui ada di Provinsi Henan.

Oleh karena itu, saat liburan Tahun Baru Imlek, banyak orang meninggalkan Wuhan untuk pulang ke kampung halaman mereka, khususnya kota-kota di atas. Data Baidu Map juga mengungkapkan bahwa sebelum karantina diberlakukan, sekira 60-70 persen orang meninggalkan kota Wuhan untuk pergi ke beberapa kota lainnya di Provinsi Hubei. Ada juga yang bepergian ke wilayah Provinsi Henan, Provinsi Hunan, Provinsi Anhui, Wilayah Chongqing dan Provinsi Jiangxi.

Di dalam Provinsi Hubei, kota Xiaogan dan Huanggang menjadi dua kota yang paling banyak didatangi pelancong dari Wuhan. Mulai 10-22 Januari tahun ini, orang-orang yang meninggalkan Wuhan untuk pergi ke Xiaogan dan Huanggang mencapai masing-masing 13,03 persen dan 12,64 persen setiap harinya.

Kota Wuhan juga terkenal di kalangan wisatawan karena arsitekturnya, makanan mie pedas yang khas dan lokasinya yang dekat dengan Sungai Yangtze. Menurut data penerbangan domestik dari Flight Master, platform travel terkemuka China, kota-kota seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, Chengdu, Haikou, Kunming, Xiamen, Shenzhen, Sanya dan Nanning menjadi tujuan utama bagi orang-orang yang terbang dari bandara Wuhan periode 30 Desember 2019 hingga 22 Januari 2020.

Sekira 20 hari sebelum karantina diberlakukan, lebih dari 60 ribu orang tercatat terbang dari Wuhan menuju Beijing. Lebih dari 50 ribu orang lainnya terbang dari Wuhan, masing-masing, menuju Shanghai, Guangzhou dan Chengdu. Untuk wilayah di luar China daratan, Hong Kong menjadi tujuan utama para penumpang yang terbang dari Wuhan. Namun jumlahnya untuk tahun ini tidak mencapai lebih dari 10 ribu orang. Untuk tujuan luar negeri, kota Bangkok di Thailand menjadi tujuan utama bagi orang-orang yang terbang dari Wuhan. Dilaporkan bahwa 10 ribu penumpang terbang dari Wuhan ke Bangkok pada periode 30 Desember 2019 hingga 22 Januari 2020. Singapura dan kota Tokyo di Jepang menjadi dua tujuan favorit lainnya. (SCMP/kps/AFP/dtc/CNNI/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru