Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 02 November 2026

WHO: Tidak Ada Bukti Orang yang Terkena Covid-19 Bisa Kebal

Redaksi - Senin, 27 April 2020 18:16 WIB
352 view
WHO: Tidak Ada Bukti Orang yang Terkena Covid-19 Bisa Kebal
AFP
Petugas di kota Venesia, mengenakan masker untuk mencegah penularan virus corona. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menekankan, belum ada bukti bahwa orang yang terpapar Covid-19 bisa kebal dan tidak akan terinfeksi lagi.
JENEWA (SIB)
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menekankan, belum ada bukti bahwa orang yang terpapar Covid-19 bisa kebal dan tidak akan terinfeksi lagi. Peringatan itu menunjukkan, kabar rencana untuk menerbitkan "paspor imun" malah akan berdampak kepada virus yang terus menyebar. "Saat ini tidak ada bukti bahwa orang yang sembuh dari Covid-19 bakal imun dan tidak akan terpapar dari infeksi kedua," ulas WHO.

Hingga Jumat (24/4), otoritas kesehatan dunia itu menyatakan belum ada penelitian bahwa sembuh dari virus corona bisa memberikan kekebalan dari serangan kedua. Sejumlah negara mulai mengembuskan ide menerbitkan dokumen imun berdasarkan tes serologi, yang menunjukkan adanya antibodi pada darah. Ide itu muncul di tengah upaya pemerintahan setempat untuk perlahan-lahan mengembalikan ekonomi yang kolaps karena lockdown guna mencegah pandemi.

Dilansir AFP, Sabtu (25/4), efektivitas tes itu belum teruji benar dengan data sains yang ada tidak bisa membenarkan penerbitan "paspor imun". WHO menerangkan, mereka masih belum menemukan adanya temuan valid bahwa kekebalan tubuh bakal menjamin seseorang tidak akan terjangkit Covid-19 untuk kedua kalinya. "Orang yang merasa kebal dengan infeksi kedua karena menerima hasil tes imun positif bakal mengabaikan imbauan kesehatan," ujar WHO. "Karena itu, penerbitan sertifikat semacam itu bisa meningkatkan risiko penyebaran yang berkelanjutan," lanjut organisasi tersebut.

Organisasi di bawah PBB itu melanjutkan, mereka yakin tes serologi itu butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikan akurasinya. Secara khusus, tes itu harus bisa membedakan respons imun yang dihasilkan tubuh selama terinfeksi, dengan tipe lain dari keluarga coronavirus. Tipe yang dimaksud adalah virus yang menyebabkan Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS), dan Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS).

WHO menjelaskan, mereka yang pernah terinfeksi salah satu dari dua jenis virus itu bakal memproduksi antibodi yang akan menuai reaksi dengan antibodi dari Covid-19. Karena itu, badan yang dipimpin Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus tersebut menekankan pentingnya tes serologi untuk membedakannya.

Seluruh Dunia Capai 202.000 Orang
Sementara itu, lebih dari 202.000 orang, tepatnya 202.864, korban meninggal karena pandemi Covid-19 terjadi di seluruh dunia. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Universitas John Hopkins maupun situs Worldometers, sebanyak 2,9 juta orang terinfeksi.

Angka itu muncul setelah Amerika Serikat ( AS) mencatatkan lebih dari 50.000 korban meninggal, dan menjadi negara paling terdampak Covid-19.

Sejak kematian pertama karena virus corona terjadi di China pada 11 Januari, lebih dari 200 negara dan teritori kini sudah melaporkan kasus positif. Selain AS, Italia, Spanyol, Prancis, dan Inggris menjadi negara dengan angka kematian tertinggi di dunia, dilaporkan BBC, Sabtu (25/4). Kementerian Kesehatan Inggris mengumumkan pada Sabtu, lebih dari 20.000 orang mengembuskan napas terakhir di rumah sakit seluruh negara. Menteri Dalam Negeri Priti Patel menyebut jumlah itu "tragis dan menakutkan" seraya menyatakan bahwa negara saat ini tengah berduka. Karena angka itu tidak menyertakan data mereka yang meninggal di rumah atau panti jompo, diperkirakan jumlahnya bakal lebih tinggi.

Prancis, yang datanya mencakup korban di fasilitas perawatan lansia, mencatat adanya kenaikan hingga 369 kematian pada Sabtu. Total, terdapat 22.614 mortalitas sejak Maret, tetapi Paris mengemukakan angka korban di rumah sakit mulai mengalami penyusutan. Selain itu, pemerintah setempat mengklaim jumlah pasien yang dirawat di ruang perawatan intensif menurun dalam 17 hari terkahir.

Pada awal pekan ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menuturkan terdapat tren kenaikan di Afrika, Eropa Timur, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Direktur Jenderal Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan, pandemi di kawasan barat Eropa mulai stabil atau menunjukkan penurunan. Fakta tersebut, kata dia, berkebalikan di sejumlah negara yang mulai mengumumkan adanya penambahan kasus positif Covid-19. "Sementara beberapa negara yang sempat terpapar parah di awal wabah kini mulai memperlihatkan adanya kenaikan kembali," ungkap Tedros.

Salah satunya adalah Singapura, yang sempat mendapat pujian karena dianggap bisa menangani penyakit yang pertama terdeteksi di Wuhan itu. Kini, Singapura kembali direpotkan dengan melonjaknya infeksi, terutama di sektor industrial dan pekerja yang tinggal di asrama. Masih di Asia, China yang merupakan episentrum awal virus corona tidak melaporkan adanya kematian selama 10 hari terakhir. Adapun Korea Selatan saat ini sudah memasuki hari kedua di mana mereka tidak mengumumkan mortalitas baru. (AFP/BBC/kps/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru