Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 11 April 2026

China Tuding Trump Memulai Perang Dingin Baru

Redaksi - Kamis, 07 Januari 2021 11:28 WIB
342 view
China Tuding Trump Memulai Perang Dingin Baru
AP PHOTO/SUSAN WALSH
Foto tertanggal 29 Juni 2019 menunjukkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan KTT G-20 di Osaka, Jepang.
Beijing (SIB)
China menuduh pemerintahan Trump berusaha menekan perusahaan asing, karena Bursa Efek New York bergerak untuk menghapus tiga perusahaan yang berbasis di China. Penghapusan tersebut terjadi setelah tekanan selama berbulan-bulan. Termasuk tuduhan dari Presiden Donald Trump bahwa China menggunakan pasar Amerika Serikat (AS) untuk mengumpulkan uang bagi militernya. "Jenis penyalah-gunaan keamanan nasional dan kekuasaan negara untuk menekan perusahaan China tidak sesuai dengan aturan pasar dan melanggar logika pasar," kata juru bicara Kementerian Perdagangan China dalam pernyataan, menurut Reuters pada Minggu (3/1).

Secara terpisah, Wang Yi mengatakan pada Sabtu bahwa kebijakan Trump sama dengan upaya untuk menekan China dan memulai Perang Dingin baru. Menurutnya, hubungan China-AS telah mencapai persimpangan jalan baru, dan jendela harapan baru terbuka. Dia berharap bahwa pemerintahan AS berikutnya akan kembali ke pendekatan sensitif. “Dialog dengan China diharap bisa dilakukan, memulihkan hubungan bilateral normal dan memulai kembali kerja sama,” Wang mengatakan dalam wawancara dengan Kantor Berita Xinhua yang disponsori negara.

Presiden terpilih Joe Biden mengatakan AS harus bekerja erat dengan sekutu globalnya saat perselisihan dengan China muncul. Pekan lalu di Delaware, dia mengatakan AS bersaing dengan China. Beijing diminta bertanggungjawab atas pelanggarannya dalam hal perdagangan, teknologi, hak asasi manusia, dan bidang lainnya. “Posisi kami akan lebih kuat ketika kami membangun koalisi mitra, dan sekutu yang berpikiran sama untuk membuat tujuan bersama dengan kami, dalam membela kepentingan dan nilai-nilai kita bersama, "katanya seperti dilansir Business Insider pada Minggu (4/1).

Pejabat di Beijing pada Sabtu mengatakan mereka akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mendukung perusahaan China yang dihapus dari daftar di Wall Street. Pada November, Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang menuduh pejabat China semakin mengeksploitasi pasar AS.

Perintah itu berbunyi: "Perusahaan-perusahaan itu, meskipun tetap tampak swasta dan sipil, secara langsung mendukung aparat militer, intelijen, dan keamanan China, serta membantu dalam pengembangan dan modernisasi mereka."

Pada Desember, legislator AS mengesahkan Holding Foreign Companies Accountable Act, satu tindakan yang mengharuskan perusahaan terdaftar menunjukkan bukti bahwa mereka tidak dimiliki atau dikendalikan oleh pemerintah asing. "Komunis China telah menjadi pengganggu di bursa saham Amerika Serikat selama bertahun-tahun, dan itu berhenti hari ini," kata Senator John Kennedy, penulis undang-undang itu, dalam pernyataan. “Akibatnya, China Unicom Hong Kong, China Mobile, dan China Telecom masing-masing akan dihapus dari daftar awal bulan ini,” kata NYSE dalam pernyataan yang diposting setelah pasar ditutup pada Kamis (31/12).

Perdagangan saham perusahaan American Depositary akan ditangguhkan sebelum pasar dibuka pada 7 Januari, menurut NYSE. Hingga Oktober, ada 217 perusahaan yang berbasis di China terdaftar di tiga bursa saham AS terbesar, menurut statistik AS. Nilai pasar total mereka sekitar 2,2 triliun dollar AS (Rp 30,5 triliun). (Rtr/Business Insider/kps/d)
Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru