Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026

Pabrik Tiongkok Produksi Baju Pelindung Ebola

* WHO: Jumlah Korban Tewas Akibat Ebola Menurun
- Jumat, 07 November 2014 11:33 WIB
347 view
Beijing (SIB)- Jauh dari wilayah terdampak virus Ebola, sebuah pabrik di Tiongkok bekerja keras memproduksi baju pengaman bagi para pekerja medis. Baju pengaman tersebut akan dikirimkan sejauh 11 ribu kilometer ke negara-negara Afrika Barat. Pabrik Weifang Lakeland Safety Products yang ada di kota Anqui, Provinsi Shandong memperkerjakan 100 buruh untuk memproduksi baju pengaman ini secara besar-besaran. Target saat ini mencapai 6 ribu baju per hari. Pihak pabrik berencana menaikkan target menjadi dua kali lipat pada Januari 2015 mendatang. Seperti dilansir NDTV, Kamis (6/11).

Setiap helai baju pengaman dirangkai oleh buruh serta mesin yang ada di pabrik tersebut hingga akhirnya dikemas secara ketat. Tak boleh ada celah atau lubang sedikitpun karena bisa berisiko menularkan virus mematikan tersebut. Setiap baju pengaman yang terbuat dari plastik berwarna kuning ini, dijahit dengan rapi kemudian setiap sambungannya direkatkan dengan setrip perekat yang kuat.

"Desain retsleting ganda memudahkan Anda untuk membuka baju pengaman tersebut dari bawah ketika Anda butuh untuk mengambil sesuatu dari dalam baju pengaman tersebut," tutur manajer pabrik tersebut, Wang Ximin.

"Kami memasang setrip perekat di sepanjang bagian depan baju, agar memastikan tertutup dengan benar demi memastikan kontaminasi tidak akan masuk," imbuhnya. Anda bisa merenggangkan kaki Anda dan berjongkok dengan mudah dalam baju pengaman tersebut. Terasa sangat nyaman saat dikenakan. Sangat nyaman," terang Ximin.

Baju pelindung bernama ChemMAX dan MicroMAX yang terbuat dari polyethylene dan polypropylene tersebut, diproduksi untuk perusahaan Amerika Serikat, Lakeland Industries yang merupakan penyuplai utama baju pengaman Ebola di Afrika. "Kami sangat bangga bahwa pakaian pelindung dari pabrik kami bisa digunakan oleh orang-orang yang berjuang melawan Ebola," tandas Ximin.

Sementara itu Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengoreksi jumlah korban yang tewas akibat penyakit mematikan Ebola yang berada di delapan negara. Berdasarkan data terbaru, total korban tewas mencapai 4.818 orang.  Jumlah pasien yang terjangkit Ebola yakni 13.042 orang. Angka ini berbeda dibandingkan sebelumnya yang menyebut korban tewas mencapai 4,951 orang dan yang telah terjangkit berada di angka 13.567 pasien.

Angka kematian terbesar masih tercatat berada di tiga negara yang ada di kawasan Afrika Barat yakni Liberia yang mencatat sebanyak 2.697 orang tewas dari 6.525 kasus yang ada. Kemudian, Sierra Leone menyebut sekitar 1.070 orang tewas dari 4.759 pasien yang terjangkit penyakit mematikan itu.  Terakhir, Guinea yang mencatat 1.041 warga yang meninggal dari 1.731 kasus yang ada.

Sementara, status untuk Nigeria dan Senegal tetap belum berubah. Kedua negara itu masih dinyatakan bebas Ebola.  Sebelumnya, terdapat 20 kasus di Nigeria. Sebanyak 8 pasien dinyatakan meninggal. Di Senegal ada satu kasus dan belum ada yang dilaporkan tewas.

Di Mali, tercatat satu kasus Ebola yang berakhir kematian, yakni gadis berusia 2 tahun asal Guinea. Satu kasus Ebola di Spanyol, berhasil disembuhkan.  Di Amerika Serikat, tercatat ada 4 kasus. Satu orang di antaranya, seorang warga asal Liberia, dinyatakan tewas.  Tidak dijelaskan alasan adanya perubahan angka ini oleh pejabat di markas WHO di Swiss. (Detikcom/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru