Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Rusia - Polandia Saling Usir Diplomat

* Putin Yakin Krisis di Ukraina Bisa Diselesaikan
- Selasa, 18 November 2014 11:11 WIB
250 view
Moskow (SIB)- Pemerintah Rusia menyatakan beberapa diplomatnya telah diusir dari Polandia. Sebagai balasan, sejumlah diplomat Polandia juga telah meninggalkan Rusia setelah Moskow mengambil langkah-langkah terkait pengusiran diplomatnya.

Kementerian Luar Negeri Rusia tidak menyebutkan alasan pengusiran diplomat Rusia tersebut. Kedutaan Polandia juga menolak berkomentar. Menurut sumber diplomatik, empat diplomat Polandia telah meninggalkan Rusia pada Minggu, 16 November waktu setempat.

"Otoritas Polandia telah mengambil langkah yang tidak bersahabat dan tidak berdasar," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (17/11). "Sehubungan dengan hal itu, Rusia telah mengambil langkah-langkah sebagai respons dan sejumlah diplomat Polandia telah pergi meninggalkan wilayah negara kami karena aktivitas-aktivitas yang tidak cocok dengan status mereka," imbuh kementerian.

Sebelumnya pada Sabtu, 15 November, pemerintah Jerman menyatakan bahwa seorang diplomatnya telah diusir dari Moskow. Pengusiran ini terjadi setelah seorang diplomat Rusia yang bekerja di Bonn diusir pemerintah Jerman. Ini terjadi seiring laporan media bahwa diplomat tersebut adalah mata-mata.

Sebelumnya, pada Minggu (16/11), stasiun televisi Rusia mengabarkan mantan anggota parlemen Latvia, Aleksejs Holostovs, diusir dari negeri itu dengan tuduhan melakukan aksi spionase. Rusia juga menuding seorang perwira polisi Estonia melakukan spionase dan menahan polisi itu sejak September lalu meski para pemimpin Barat mendesak Moskwa segera melepaskan perwira Estonia tersebut.

Hubungan antara Moskow dan negara-negara anggota Uni Eropa telah dilanda ketegangan akibat krisis di Ukraina. Juga akibat sanksi Uni Eropa yang diterapkan setelah Rusia mencaplok Crimea dari Ukraina. Polandia pun merupakan salah satu negara yang paling keras mengkritik Rusia atas perannya dalam konflik di Ukraina.

Sebelumnya Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan seharusnya ada cara yang memungkinkan untuk menyelesaikan krisis di Ukraina. "Saya yakin, kita seharusnya menemukan cara untuk menyelesaikan krisis itu, namun saya juga khawatir dengan ancaman pemusnahan suku. Kami khawatir akan penyimpangan ke arah Neo-Nazi, karena beberapa orang berani mengenakan lambang Swastika dan SS di pakaian mereka," kata Putin.

Putin juga mengritik Pemerintah Ukraina, yang menggunakan jalan kekerasan daripada dialog untuk menghadapi lawan politiknya di daerah timur sehingga menyebabkan krisis, namun dirinya tetap yakin akan ada solusi atas masalah tersebut. "Dapatkah seseorang menemukan jalan keluar dari keadaan ini? Ya, saya yakin pasti ada jalan," katanya.

Putin yang pernah menjadi agen KGB di Jerman Timur juga percaya Ukraina memiliki masa depan yang cerah meskipun harus dibentuk kerangka kerja yang bisa membuat kaum minoritas merasa seperti di rumah. "Ini adalah bangsa yang besar, namun ada satu hal yang hilang yaitu pemahaman bahwa untuk menjadi sukses, stabil dan tumbuh, setiap orang harus memiliki perasaan nasionalisme tidak peduli apapun bahasa yang digunakan baik itu Hungaria, Rusia, Ukraina dan Polandia," kata Putin.

Putin juga menjelaskan pencaplokan Krimea sah dan demokratis berdasarkan hukum internasional, karena parlemen daerah dan masyarakat telah menggunakan hak pilihnya dalam referendum. Putin menambahkan bahwa pengerahan tentara Rusia ditujukan untuk mencegah pertumpahan darah, namun ia terkejut atas reaksi dari dunia Barat.

Putin yang memiliki banyak pendukung di wilayah Jerman Timur, mengatakan bahwa dia dan Kanselir Angela Merkel sama-sama bekerja untuk menenangkan keadaan di Ukraina. Dia mengatakan yang terpenting adalah waktu yang tepat untuk bereaksi dengan cara, analisis dan pemahaman dari sebuah kesalahan serta terus bekerja untuk mencari solusi. (Detikcom/Ant/AFP)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru