Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 24 Agustus 2026

Krisis Tidak Buat Impian Anak-Anak Suriah Sirna

- Selasa, 18 November 2014 11:14 WIB
219 view
Damaskus (SIB)- Krisis berkepanjangan tidak membuat mimpi anak-anak di Suriah sirna. Mereka masih bisa tersenyum dan memiliki impian hari esok yang lebih baik. Sementara itu negeri mereka telah dirongrong konflik yang telah merenggut banyak korban jiwa selama lebih dari tiga-setengah tahun.

Krisis berkepanjangan di Suriah telah telah berkecamuk sangat lama. Masyarakat Suriah diselimuti kekhawatiran mengenai kondisi hidup yang buruk atau kekhawatiran mengenai bagaimana bentuk masa depan mereka. Bahkan anak-anak yang telah secara langsung terpengaruh oleh perang yang berkecamuk tampak memiliki tekad lebih kuat ketimbang menyerah.

Salah satunya Ahmad, anak yang berumur 13 tahun. Dia berjalan menyeruak kerumunan orang di Pasar Hamidieyeh di bagian kuno yang dikelilingi tembok di ibu kota Suriah, Damaskus. Ia akan mengirim segelas kopi buat seorang pelanggan yang kebetulan adalah pemiliki toko pakaian yang mengelola usahanya cuma beberapa meter dari satu kedai kopi.

"Saya bekerja di satu kedai kopi sebagai pesuruh yang melayani kopi dan teh. Saya juga belajar dan saya berprestasi di sekolah," kata Ahmad, sebagaimana diberitakan Xinhua, Senin (17/11). Ahmad adalah satu dari ribuan anak yang telah memilih untuk melakukan pekerjaan sederhana untuk membantu keluarga mereka, yang miskin dan terperosok ke dalam kesulitan ekonomi akibat krisis.

Anak laki-laki lainnya, Muhammad Badawi berjualan bunga mawar. Dengan percaya diri berdiri di satu sudut Wilayah Hamidieyeh. Anak berusia 14 tahun itu memegang seember bunga mawar merah yang diikat ke pinggangnya saat ia membujuk "sepasang kekasih" untuk meyakinkan sang pria agar membelikan kekasihnya bunga mawar merah.

Remaja tersebut mengatakan ia berhenti sekolah sebab ia harus menunjang keluarganya sebagai satu-satunya pencari nafkah buat keluarganya. "Saya tidak sekolah sebab saya adalah tulung-punggung keluarga. Saya bisa menabung dengan menjual bunga mawar dan merintis karir kecil ini. Saya biasa menjual bunga mawar kepada pasangan kekasih yang lewat di jalan ini. Saya memiliki impian untuk memiliki toko bunga mawar ketika saya dewasa," kata Badawi.

Melihat anak di bawah umur menarik gerobak atau memegang kotak di bagian kuno Kota Damaskus telah menjadi pemandangan yang kian lumrah. Sementara itu Abdul-Rahman mengatakan ia masih bersekolah. Tapi pria 11 tahun tersebut masih membantu saudaranya di tokonya pada siang hari. "Saya saat ini membantu saudara saya di tokonya, ketika saya pulang dari sekolah setiap hari. Tapi ketika saya dewasa, saya ingin menjadi dokter,” kata Abdul-Rahman.

Itu lah kondisinya bagi "kelas pekerja" di kalangan anak-anak dan remaja di Ibu Kota Suriah. Anak-anak dari keluarga yang lebih baik di Suriah juga memiliki mimpi mengenai masa depan yang lebih baik. Mereka kelihatan tak peduli terhadap upaya yang orangtua mereka lakukan untuk menjauhkan mereka dari bekerja dan berhenti sekolah. Namun banyak keluarga Suriah belum lama ini telah enggan mengirim anak mereka ke sekolah atau pindah ke tempat yang lebih aman di dalam Ibu Kota Suriah agar juga lebih dekat dengan sekolah yang lebih aman.

Selama krisis, lebih dari 40 serangan terjadi di Suriah. Mulai dari pemboman mortir sampai bom bunuh diri telah ditujukan ke sekolah di seluruh Suriah. Pada Oktober 2014, lebih dari 40 anak meninggal. Ketika itu sebuah mobil yang dipasangi bom meledak di permukiman pro-pemerintah, Ekrima, di Provinsi Homs di Suriah Tengah. (Ant/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru