London (SIB)- Kelompok radikal ISIS kembali mengklaim telah mengeksekusi mati warga Amerika Serikat. Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron pun ngeri atas pemenggalan pekerja kemanusiaan bernama Abdul-Rahman Kassig tersebut. "Saya ngeri atas pembunuhan berdarah dingin Abdul-Rahman Kassig," ujar Cameron seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (17/11). "ISIL telah kembali menunjukkan kebobrokan mereka," imbuhnya menggunakan nama lain ISIS.
Dalam video pemenggalan Kassig yang dirilis ISIS, juga terlihat pemenggalan setidaknya 18 pria yang digambarkan sebagai personel militer Suriah. Cameron menyebut Kassig "seorang pekerja kemanusiaan yang tidak memikirkan diri sendiri yang pergi ke wilayah tersebut untuk membantu".
Kassig merupakan pekerja sosial yang diculik di Suriah pada tahun lalu. Dia adalah mantan militer AS yang kemudian mendapatkan pelatihan untuk menjadi petugas medis. Dia menjadi salah satu pendiri organisasi Sera yang fokus untuk membantu kamp pengungsian di perbatasan Suriah.
Pemenggalan pria berumur 26 tahun itu direkam dalam sebuah video dan diunggah ke internet pada Minggu, 16 November. Dalam video itu, ISIS juga mempertontonkan pemenggalan 18 orang warga Suriah yang teridentifikasi merupakan tentara dan pilot.
Orangtua Kassig, Ed dan Paula, lewat jejaring media sosial Twitter mengaku sakit hati ketika mendengar insiden itu. “Dia kehilangan nyawanya karena rasa cinta ke masyarakat Suriah dan keinginannya untuk membantu menghilangkan penderitaannya,†demikian tulis orangtua Kassig.
Sebagaimana diketahui, Kassig mendirikan sebuah kelompok bantuan. Ia melatih sekira 150 warga sipil memberikan bantuan secara medis kepada orang-orang di Suriah. Kelompoknya juga memberikan makanan, perlengkapan memasak, pakaian dan obat-obatan kepada orang-orang yang membutuhkan.
“Kami tahu dia sudah menemukan rumahnya di antara masyarakat Suriah. Dia sedih ketika mereka mengalami sakit,†demikian pernyataan Ed dan Paula. Sementara itu, Pemerintah AS memastikan keaslian video yang dirilis kelompok kejam tersebut.
Sampai saat ini, ISIS yang menguasai sebagai besar wilayah Iraq dan Suriah telah membunuh lima sandera dari kalangan barat. Empat korban pemenggalan lainnya adalah Alan Henning dan David Haines (Inggris) serta James Foley and Steven Sotloff yang merupakan warga Amerika.
Sementara Amerika Serikat akan mempercepat misi pelatihan bagi tentara Irak dalam rangka melawan militan ISIS. Pelatihan akan melibatkan tentara AS yang telah berada di Irak selama beberapa minggu terakhir. Menteri Pertahanan Chuck Hagel menuturkan bahwa pasukan operasi khusus telah dipindahkan ke Provinsi Anbar, dalam beberapa hari terakhir untuk memulai tugas mereka melatih tentara AS. Demikian disampaikan Hagel ketika mengunjungi Pusat Pelatihan Nasional Militer AS di Fort Irwin, California.
Secara terpisah, juru bicara Pentagon atau Kementerian Pertahanan AS, Laksamana Muda John Kirby menyebutkan, sekitar 50 tentara AS yang tergabung dalam operasi khusus telah berada di pangkalan udara Ain al-Asad, Irak untuk mempersiapkan misi pelatihan. Pangkalan udara tersebut, menurut Kirby, menjadi basis bagi banyak tentara AS selama perang Irak tahun 2003 hingga 2011 lalu.
Menurut Hagel, Jenderal Militer Lloyd Austin selaku kepala pasukan AS di wilayah tersebut menyarankan agar tentara AS memulai pelatihan dengan melibatkan 1.600 personel militer AS yang telah berada di Irak. Kirby menambahkan, puluhan negara telah menyatakan komitmen verbal untuk membantu misi pelatihan ini. AS berharap bahwa percepatan pelatihan militer AS ini mampu mendorong negara lain yang menjadi mitra untuk melakukan hal serupa.
"Kami sepakat dengan rekomendasi Jenderal Austin untuk mengerahkan pasukan operasi khusus yang dia miliki di Irak dan memberikan mereka beberapa misi awal dengan militer Irak di Provinsi Anbar untuk semacam melanjutkan misi, mempercepat misi," jelas Hagel.
"Jadi iya, kami melakukan apa yang kami bisa dengan sumber daya yang kami miliki, untuk mempercepat misi itu," tandasnya. Sebelumnya, Reuters melaporkan, tim khusus militer AS terlihat mulai mempersiapkan misi pelatihan tentara Irak di pangkalan udara Ain al-Asad. Persiapan ini, menurut Reuters, lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.
Diduga Bergabung ke ISISEmpat orang bersaudara asal Sydney, Australia, kini dikhawatirkan telah bergabung dengan kelompok teroris ISIS di Suriah. Mereka mengirim SMS terakhir ke ibu mereka yang menyatakan, "Sampai jumpa di surga". SMS ini dikirim pekan lalu, dan hingga kini belum ada kabar lebih lanjut dari keempat bersaudara ini. Dalam SMS itu juga mereka mengatakan, "Kami telah tiba di Bilad al-Sham" (maksudnya Suriah).
Pria paling tua dari keempatnya berusia 28 tahun, disusul adiknya 25 tahun, 23 tahun, serta yang paling muda berusia 17 tahun. Tadinya, mereka minta izin ke orangtuanya untuk berlibur ke Thailand. Menteri Imigrasi Australia Scott Morrison telah menghubungi pihak keluarga keempat pria tersebut.
Kepada radio setempat, Menteri Morrison mengatakan, keempat bersaudara ini berada dalam situasi yang tidak masuk akal. "Begitu mereka menyeberang dan bergabung dengan kelompok pembunuh (ISIS), maka dengan sendirinya mereka menjadi musuh Australia," katanya.
Keempatnya dikabarkan terlihat untuk terakhir kalinya di Turki, namun sekarang dipercaya telah berada di Suriah. Menteri Morrison menyatakan pemerintah akan mencoba mengungkap bagaimana keempatnya terjerat dalam radikalisasi.
Seorang kerabat keluarga keempat orang ini, Dr Jamal Rifi, mengungkapkan pihak keluarga sangat terpukul dan berharap pemerintah bisa memulangkan keempat bersaudara tersebut. Dr Rifi mengungkapkan, keempat orang ini dikenal berperilaku baik dan tindakan (bergabung ke ISIS) sama sekali tidak sejalan dengan perilaku mereka selama ini.
"Kami belum bisa memastikan apa yang terjadi dengan mereka, dimana mereka berada, dan mengapa mereka tidak menjawab ketika dihubungi," ujar Dr Rifi. Ia mengatakan, dua di antara bersaudara ini tidak cocok menjadi pejuang karena ukuran badannya yang over size, memiliki berat badan 140 kg dan 130 kg. "Meskipun mereka telah menyeberang ke Suriah, belum tentu mereka bergabung dengan ISIS," tambahnya.
(Detikcom/f)