Moskow (SIB)- Pemerintah Rusia ikut mengomentari kerusuhan yang terjadi di Ferguson, Missouri, Amerika Serikat. Rusia menyebut AS munafik dan tidak berhak menguliahi Rusia soal HAM. Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan dua pernyataan terkait kerusuhan di Ferguson, dalam satu hari. Dalam pernyataannya, Rusia menyindir AS untuk tidak lagi menceramahi dan menguliahi negara lain soal HAM. "Fokus pada permasalahan domestik yang meluas dengan menegakkan HAM," sebut Kementerian Luar Negeri Rusia dalam pernyataannya seperti dilansir Reuters, Kamis (27/11).
"Ledakan kemarahan publik seperti itu dan reaksi yang tidak tepat dari aparat penegak hukum memastikan kembali bahwa ini bukan insiden tersendiri, melainkan kegagalan sistemis dalam demokrasi Amerika, yang juga gagal menangani perpecahan akibat ras, diskriminasi dan ketidaksetaraan," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.
Lebih dari 400 orang, baik di Ferguson dan sekitarnya maupun di wilayah lainnya di AS, ditangkap terkait kerusuhan dan aksi protes yang meluas. Sebagian besar warga AS kecewa atas putusan pengadilan Missouri untuk tidak mengadili polisi kulit putih, Darren Wilson yang menembak mati remaja kulit hitam, Michael Brown pada Agustus lalu.
Sementara itu, hubungan antara AS dengan Rusia memang semakin memburuk dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya AS menuding Rusia sengaja mengganggu stabilitas Ukraina. AS juga berulang kali mengecam Presiden Vladimir Putin karena memaksakan pendapat politiknya.
Ketegangan Rasial
Rakyat Amerika terpecah dalam menyikapi keputusan juri agung untuk tidak menuntut seorang polisi kulit putih yang menembak mati seorang remaja kulit hitam tidak bersenjata di pinggiran kota St Louis, Missouri. Sejumlah warga marah melihat apa yang dinilai sebagai ketidakadilan terhadap warga kulit hitam Amerika, sementara lainnya menyerukan untuk menghormati proses hukum.
Ferguson, Missouri, membara setelah demonstrasi penuh kemarahan pada malam sebelumnya yang membuat sejumlah toko dibakar dan banyak mobil dirusak. Gubernur Missouri Jay Nixon hari Selasa (25/11) mengerahkan pasukan Garda Nasional ke kota yang sebagian besar dihuni warga kulit hitam itu untuk mencegah terjadinya kerusuhan dan penjarahan baru.
Kelompok-kelompok warga kulit hitam di seluruh Amerika telah bersuara menentang apa yang mereka sebut sebagai ketidakadilan rasial yang terus berlanjut. "Kita tidak bisa terus-menerus mengadakan acara pemakaman dan membiarkan terus terjadinya pembunuhan seperti ini," ujar William Barber, Presiden organisasi kulit hitam, NAACP, di North Carolina.
Demonstrasi berlangsung di seluruh Amerika memprotes keputusan juri agung di kota Ferguson. Selain di St Louis, demonstrasi juga terjadi di kota-kota lain, termasuk di New York. Banyak demonstran mengatakan, mereka berdemonstrasi untuk menarik perhatian pada masalah yang lebih luas. "Saya tahu banyak di antara kita bersimpati kepada Michael Brown, tetapi ia hanya satu dari ribuan korban," komentar seorang pemrotes.
Sejumlah mahasiswa di Universitas Indiana mengheningkan cipta selama beberapa menit untuk mengenang korban Michael Brown. Sejumlah siswa SMA di Minneapolis keluar dari ruang kelas mereka untuk memprotes keputusan juri. Di bagian Amerika Barat Laut, demonstran di Los Angeles menunjukkan kemarahan atas cara polisi memperlakukan warga kulit hitam pada umumnya. "Saya tidak heran. Di Amerika, polisi dan penjaga keamanan kulit putih membunuh seorang warga kulit hitam setiap 28 jam. Jadi, hal ini tidak mengherankan saya. Saya kira yang lebih penting adalah apakah orang-orang yang berkumpul di sini dan di jalan-jalan, siap untuk menghentikan pembunuhan terhadap warga kulit berwarna di dalam komunitas kita sendiri," kata Pete White, seorang warga Los Angeles.
Pemimpin minoritas DPR dari Fraksi Demokrat, Nancy Pelosi, menyatakan kekecewaan atas keputusan juri dan mengatakan lebih banyak yang harus dilakukan untuk mengatasi ketidakpuasan warga kulit hitam Amerika. "Reaksi ini saya kira perlu dibahas dengan baik. Ada rasa tidak senang dan tidak puas dalam masyarakat tentang hubungan antar-ras," ujar Pelosi.
Tampaknya lebih banyak kemarahan ditujukan pada sistem penegakan hukum dibanding pada 12 juri yang dipilih secara acak dari penduduk Missouri. Banyak warga Amerika menyerukan aturan baru yang bisa mengurangi penggunaan senjata api oleh polisi.
Penjualan Senjata Meningkat
Penjualan senjata di Missouri, Amerika Serikat (AS), meningkat sejak kerusuhan di Ferguson. Seorang pemilik toko senjata di St Louis, yang dikutip dari laporan PressTV, Kamis (27/11) mengatakan, penjualan senjata di tokonya meningkat enam kali lipat. Ribuan orang dilaporkan terlibat dalam demonstrasi di 100 kota AS, selama beberapa hari. "Kita telah melihat peningkatan jumlah penjualan senjata, terutama karena orang memiliki ketakutan dengan apa yang terjadi di Ferguson. Terutama dua malam lalu, saat suara letusan senjata terdengar di mana-mana," kata seorang petugas polisi, Paul Bastean.
Bastean yang memiliki fasilitas tempat latihan menembak, mengatakan jumlah orang yang datang ke tempatnya meningkat. Ada sedikitnya 18.000 peluru ditembakkan, hanya dalam satu hari, pada Selasa 25 November lalu.
Kerusuhan di Ferguson dapat dihentikan setelah 2.200 pasukan Garda Nasional dikerahkan ke Ferguson, untuk membantu polisi. Presiden AS Barack Obama, yang merupakan pemimpin kulit hitam pertama AS, tampak mulai berhati-hati dalam berkomentar setelah kerusuhan.
Sebelumnya, Obama menyebut ada rasa tidak percaya yang mendalam, antara polisi dan minoritas (kulit hitam). Pernyataannya itu dinilai tidak membantu menenangkan situasi, bahkan turut mendorong pecahnya kerusuhan, pada Senin malam. Penduduk Ferguson yang berjumlah 21.000 orang, terdiri dari 63 persen warga kulit hitam dan 34 persen orang kulit putih.
Situasi kota Ferguson, Missouri, Amerika Serikat kini berangsur-angsur tenang. Meskipun beberapa orang masih menggelar aksi protes atas putusan ABG Ferguson di tengah salju yang mulai turun. Seperti dilansir Reuters, Kamis (27/11), jalanan kota Ferguson yang sebelumnya mencekam, berangsur-angsur kembali kondusif. Aksi protes lain di Ferguson dan sekitarnya tidak begitu marak seperti sebelumnya. Hanya belasan orang yang masih berkumpul di luar markas polisi distrik St. Louis yang menaungi kota Ferguson, di bawah hujan salju pada Rabu (26/11) waktu setempat.
Beberapa pendeta setempat, mengenakan rompi oranye, terlihat di antara para demonstran yang masih berkumpul pada Rabu (26/11) malam waktu setempat. Beberapa dari mereka hanya berdiri diam di tengah hujan salju. Sejumlah pengguna jalan yang lewat spontan membunyikan klakson sebagai wujud dukungan terhadap aksi tersebut.
(Rtr/dtc/Ant/Voa/AP/kps/q)