Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Mendagri Inggris Terkejut Ada 13.000 Budak di Negaranya

- Senin, 01 Desember 2014 12:03 WIB
284 view
London (SIB)- Walau sering bersuara keras menuding persoalan hak asasi manusia (HAM) di negara lain, ternyata ada setidaknya 13.000 orang di Inggris, yang menderita dalam kondisi perbudakan. Termasuk perempuan yang dipaksa menjadi pelacur.

Dilansir dari Daily Mail, Minggu (30/11), Menteri Dalam Negeri Theresa May, mengatakan jumlah itu mengejutkan, karena empat kali lipat lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya. Data dari Badan Kejahatan Nasional, hanya tercatat 2.744 kasus perbudakan pada 2013.

"Skala perkiraan masalah di Inggris modern mengejutkan, dan angka-angka baru ini menegaskan pentingnya tindakan segera," ucap May. Skala perkiraan yang baru, kata May, didasari pada analisa statistik kepala peneliti kementerian, Profesor Bernard Silverman.

Langkah itu bertujuan untuk menghitung jumlah korban, yang tidak melapor ke badan penegak hukum. "Perbudakan modern kerap kali tersembunyi, jadi merupakan tantangan besar untuk mengakses jumlahnya," kata Silverman. "Data yang terkumpul jelas tidak lengkap, dan harus ditangani sangat hati-hati karena sensitivitasnya. Strategi baru, dibuat berdasarkan kerangka yang digunakan untuk penanganan terorisme, menetapkan rencana koordinasi antara pemerintah dan badan penegakan hukum.

Walau sebagian besar korban adalah warga negara asing, dokumen yang akan diserahkan pada parlemen Inggris itu, menekankan bahwa orang dewasa dan anak-anak di Inggris juga secara sistematis menjadi mangsa. Pada kata pengantarnya, May mengatakan gadis-gadis di Inggris menjadi korban pemerkosaan, pemukulan, dan dieksploitasi sebagai pelacur. Sementara para pria, dipaksa bekerja dengan waktu yang panjang. "Wanita dipaksa menjadi pelacur, dan anak-anak dieksploitasi secara sistematis. Pembantu rumah tangga dikurung, dan dipaksa bekerja dengan waktu yang panjang hingga malam hari, dengan gaji yang kecil atau bahkan tidak dibayar," ujar May. (dailymail/vvn/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru