Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 23 Agustus 2026

Virus Ebola Masih Bisa Menyebar

* Kasus Baru Flu Unggas Terdeteksi di Belanda
- Selasa, 02 Desember 2014 13:52 WIB
233 view
Freetown (SIB)- Kepala misi penanggulangan Ebola di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Anthony Banbury, mengaku risiko penularan virus tersebut ke berbagai belahan dunia masih terbuka lebar. Kepada BBC di Freetown, Sierra Leone, Bambury mengatakan ada peluang virus Ebola bisa tersebar ke kawasan lain di Benua Afrika atau bahkan ke Asia, Amerika Latin, Amerika Utara, dan Eropa. "Itulah mengapa begitu penting untuk mewujudkan nol kasus Ebola secepat mungkin," kata Banbury.

Pada Oktober lalu, Banbury mengatakan di hadapan Dewan Keamanan PBB bahwa pada Desember dia menargetkan 70% dari semua yang terinfeksi Ebola harus ditangani dan 70% korban meninggal dimakamkan secara aman jika penyebaran ingin dihentikan.

Anthony Banbury mengaku risiko penularan virus Ebola ke berbagai belahan dunia masih terbuka. Target tersebut, menurut Bambury, dipenuhi di sebagian besar wilayah Guinea, Sierra Leone, dan Liberia. Namun, di daerah tertentu, seperti ibu kota Sierra Leone, target masih sulit tercapai. "Di daerah-daerah itulah, kami perlu memfokuskan aset dan kemampuan kami," kata Banbury.

Sejak virus Ebola mewabah, sedikitnya 16.000 orang terinfeksi di Afrika Barat dan sedikitnya 7.000 orang meninggal dunia. Angka terkini menunjukkan antara 200 dan 300 orang meninggal setiap pekan akibat virus tersebut.

Terdeteksi di Belanda

Kasus baru flu unggas telah dideteksi di satu peternakan unggas di Zoeterwoude, Provinsi Holland Selatan, kata Kementerian Urusan Ekonomi Belanda, Minggu (30/11). Kasus di Zoeterwoud itu adalah mengenai varian influenza unggas H5 di satu perusahaan ayam petelur dengan sebanyak 28.000 hewan. Peternakan yang terpengaruh direncanakan dibersihkan oleh Lembaga Keselamatan Produk Konsumen dan Pangan Belanda (NVWA).

Belum jelas apakah itu adalah mengenai patogen rendah atan patogen tinggi varian influenza unggas H5. Analisis lebih lanjut diharapkan bisa mengungakp jenis pasti flu unggas tersebut. Menurut perkiraan Kementerian itu, hasil analisis diperoleh pada 1 Desember 2014.

Semua peternakan lain dalam radius 10 kilometer dari perusahaan di Zoeterwoude tersebut akan diperiksa untuk mengetahui kemungkinan kehadiran flu unggas, demikian laporan Xinhua. Penyebab penularan itu belum diketahui. Semua ayam tersebut tak memiliki akses ke luar.

Penularan pertama wabah paling belakangan flu unggas di Belanda itu ditemukan pada 15 November di satu peternakan di Hekendorp di Provinsi Utrecht. Lima hari kemudian, virus tersebut muncul di satu peternakan unggas di Desa Ter Aar di Holland Selatan, lalu diikuti oleh dua penularan lagi di satu peternakan itik dan satu peternakan ayam di Kamperveen di Provinsi Overijssel.

Semua penularan flu unggas tersebut melibatkan varian H5N8. Setelah pengumumnan terakhir mengenai flu unggas di Kamperveen, Jumat (21/11), tak ada laporan mengenai kasus baru.

Pada Minggu (23/11), larangan pengangkutan unggas nasional selama 72 jam berakhir. Bukan melaksanakan kebijakan baru nasional, Kementerian Urusan Ekonomi Belanda malah melakukan pendekatan regional guna memerangi wabah flu unggas. Negeri itu terbagi atas empat wilayah peternakan unggas. Semua tindakan dirancang guna mencegah penyebaran lebih lanjut flu unggas. Tindakan tersebut diperkirakan berjalan setidaknya selam dua pekan lagi dari Minggu (30/11).

"Ini adalah kemunduran besar," kata Sharon Dijksma, Sekretaris Negara Kementerian Urusan Ekonomi Beland, dalam acara TV Buitenhoff. "Kami telah melakukan langkah maksimal sejak wabah di Hekendorp dua pekan lalu. Kami masih berharap itu takkan seburuk kondisi pada 2003." Wabah besar terakhir flu unggas, varian H7N7, di Belanda terjadi pada 2003. Secara keseluruhan tak kurang dari 30,7 juta hewan dipilah pada saat itu. (BBC/Xinhua/Ant/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru