Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Rusia Putus Jalur Pipa Gas ke Uni Eropa

* NATO Tuduh Rusia Langgar Gencatan Senjata Ukraina
- Rabu, 03 Desember 2014 13:40 WIB
361 view
Ankara (SIB)- Presiden Rusia Vladimir Putin mulai bertindak tegas kepada Uni Eropa (UE). Dia berencana untuk menghapus proyek pipa gas ke negara-negara UE. Seperti dilansir Reuters, Selasa (2/12), jalur pipa gas rencananya akan dibangun dari Rusia melewati Ukraina dan menuju UE. Namun, Presiden Putin mengancam menghapus rancangan tersebut.

Sebagai gantinya Presiden Putin mengalihkan jalur pipa gas menuju Turki. Turki pun akan mendapat keuntungan besar dengan pengalihan jalur pipa gas ini, mengingat Rusia merupakan salah satu pemasok gas terbesar di dunia. Pengalihan ini dikarenakan Turki bukan negara anggota UE. Tetapi, Turki masih diperbolehkan untuk mendistribusikan gas ke UE dengan melewati Yunani.

Tentu saja keputusan Rusia tersebut mendapat protes dari negara UE. Bulgaria adalah negara yang akan paling parah terkena imbas akibat pengalihan ini, mengingat negeri itu sangat tergantung dari pasokan gas Rusia untuk kebutuhan energinya.

Keputusan ini diambil sebagai respon Rusia terhadap sanksi ekonomi yang dijatuhkan UE terhadap negaranya. Rusia mulai merasakan dampak dari sanksi ekonomi seperti melemahnya mata uang Rubbel dan turunnya neraca perdagangan Rusia.

Sebelumnya Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menuduh Rusia melanggar kesepakatan gencatan senjata di Ukraina timur dengan mengirimkan persenjataan canggih dalam jumlah banyak kepada para separatis pro-Rusia.

Ukraina mengatakan iring-iringan 106 kendaraan telah memasuki wilayah timurnya dari Rusia tanpa izin Kiev. Ukraina menuduh Moskow menggunakan kesempatan pengiriman bantuan kemanusiaan untuk memasok senjata dan amunisi kepada para pemberontak separatis.

"Kami melihat adanya penambahan militer di dalam dan di sekitar Ukraina," kata Stoltenberg saat jumpa pers. "Pengiriman persenjataan canggih Rusia dalam jumlah besar, peralatan dan personel militer kepada para separatis yang brutal."

Moskow membantah menggunakan iring-iringan itu untuk mengirimkan persenjataan dan menolak tuduhan Barat bahwa Rusia sedang mempersenjatai para pemberontak serta mengirimkan para petempur untuk membantu mereka. Rusia sebaliknya menuding Barat dan Kiev melakukan kekerasan tanpa pandang bulu di wilayah-wilayah timur, yaitu Luhansk dan Donetsk.

Saat memberikan komentar soal iring-iringan, Stoltenberg mengatakan jalan terbaik untuk meningkatkan situasi kemanusiaan di Ukraina timur adalah dengan berhenti melanggar perjanjian Minsk, yang dibuat untuk menghentikan konflik di Ukraina timur, dan dengan menghormati gencatan senjata.

"Kami melihat para separatis dan Rusia tidak melakukannya. Rusia mengobarkan konflik itu dengan memberikan ... perlengkapan serta bentuk-bentuk dukungan lain bagi para separatis dan dengan demikian (mereka) mengecilkan serta melanggar gencatan senjata dan upaya-upaya untuk menciptakan penyelesaian damai dan melalui perundingan," katanya.

Para menteri luar negeri NATO pada Selasa melakukan pertemuan di Brussel untuk membahas situasi di Ukraina serta meninjau kembali langkah-langkah yang telah diambil perhimpunan 28 negara itu dalam meningkatkan pertahanannya. Pertemuan juga membahas upaya untuk meyakinkan sekutu-sekutu mereka dari Eropa timur yang khawatir, menyusul pencaplokan oleh Rusia terhadap wilayah Ukraina, Krimea, pada Maret lalu. Mereka akan meneruskan langkah-langkah tersebut, termasuk latihan serta rotasi sejumlah kecil pasukan ke Eropa bagian utara sepanjang 2015. (Ant/Rtr/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru