Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Presiden Suriah Pesimistis ISIS Bisa Dimusnahkan

- Jumat, 05 Desember 2014 11:46 WIB
238 view
Damaskus (SIB)- Presiden Suriah Bashar al Assad menganggap serangan udara koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) dalam membasmi ISIS tidak akan berhasil. Terbukti kelompok militan tersebut masih terus leluasa bergerak di Suriah. Berbicara kepada majalah Paris Match, Assad yang tidak termasuk dalam bagian koalisi mengatakan, serangan udara tidak akan menghentikan teroris. Pasukan darat yang kenal betul tanah tersebut lah yang penting. “Itulah sebabnya belum ada hasil nyata dalam dua bulan penyerangan yang dipimpin oleh koalisi,” katanya seperti dilansir IB Times, Kamis (4/12).

Sementara itu, para pemimpin dunia dari 60 negara bertemu di kantor pusat North Atlantic Treaty Organization (NATO), Brussels hari Rabu 3 Desember 2014. Pertemuan itu dilakukan untuk membahas kemajuan serangan udara koalisi pimpinan AS melawan ISIS yang dimulai sejak bulan Agustus lalu.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry berjanji akan melanjutkan kampanye selama yang dibutuhkan. Melawan ISIS akan memakan waktu beberapa tahun. Serangan udara telah berhasil dengan menargetkan pemimpin ISIS. “Komitmen kami menghancurkan ISIS mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun. Namun, upaya kami sudah memiliki dampak yang signifikan. Sekira 1000 misi udara telah kami luncurkan untuk menghancurkan logistik operasional kelompok radikal itu,” kata Kerry.

Beberapa upaya pun dilakukan koalisi untuk menghancurkan ISIS. Upaya seperti mengurangi keluarnya penduduk ke negara Suriah yang ingin bergabung dengan ISI, memblokir pembiayaan ISIS, dan menurunkan dakwahan ISIS di media sosial untuk merekrut anggota. Sementara itu, menurut ilmuwan di Timur Tengah, ISIS telah menjual minyak illegal dengan penghasilan 1 Juta Euro per hari atau sekira Rp151 juta.

Sementara dari Yaman dilaporkan seorang warga negara Amerika Serikat yang ditahan militan Al Qaeda muncul dalam video memohon diselamatkan.  Muncul dalam video yang sama, anggota Al Qaeda Nasser bin Ali al-Ansi mengancam akan membunuh Somers jika pemerintah AS tidak memenuhi permintaan mereka. Namun anehnya, Ansi tidak menyebut permintaan yang dimaksud dan mengklaim bahwa pemerintah AS tahu benar apa permintaan mereka.

Ansi juga mengkritik serangan pesawat tak berawak AS terhadap militan di Yaman, serta operasi militer gabungan antara AS dengan Yaman pada pekan lalu. "Kami memperingatkan Obama (Presiden Barack Obama-red) dan pemerintah AS atas konsekuensi dari tindakan bodoh lainnya," tegas Ansi dalam video tersebut.

"Kami memberikan waktu kepada pemerintah AS selama 3 hari sejak dikeluarkannya pernyataan ini, untuk memenuhi permintaan kami yang mereka sendiri tahu; atau sebaliknya, warga AS yang kami sandera akan menghadap ajal," imbuhnya.

Dalam video tersebut, Somers juga memberi pernyataan singkat soal identitas dirinya serta memohon bantuan agar diselamatkan. "Nama saya Luke Somers. Saya berusia 33 tahun. Saya lahir di Inggris, tapi memegang kewarganegaraan Amerika dan tinggal di Amerika selama hidup saya," ucapnya. Somers yang seorang jurnalis foto ini, diculik militan di Yaman pada September 2013 lalu. Dia tidak ikut diselamatkan tentara AS dalam operasi militer pekan lalu yang dilakukan bersama militer Yaman.

Ada delapan sandera yang diselamatkan dalam operasi tersebut, sedangkan tujuh anggota militan yang juga pelaku penculikan tewas dalam baku tembak. Namun diketahui ada lima sandera lainnya, termasuk Somers yang dipindahkan ke lokasi lain sekitar 2 hari sebelum pasukan gabungan AS dan Yaman menyerbu lokasi. (Detikcom/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru