Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

PM Australia Siap "Berkeringat Darah" Demi Suku Aborigin

- Sabtu, 13 Desember 2014 14:10 WIB
303 view
Sydney (SIB)- Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengaku siap "berkeringat darah" demi memperjuangkan pengakuan terhadap suku Aborigin dalam referendum perubahan konstitusi yang rencananya akan digelar pada 2017.

Sebagaimana diketahui, undang-undang dasar Australia yang ditulis lebih dari seabad lalu hingga kini masih belum mengakui suku Aborigin sebagai penduduk asli negara tersebut. Bahkan salah satu pasal secara eksplisit menyebut bahwa hak pilih seseorang dapat dicabut berdasarkan rasnya.

Sejumlah upaya telah dilakukan untuk memperjuangkan hak-hak suku Aborigin, di antaranya pengakuan dari parlemen Australia pada tahun lalu--atau lima tahun setelah permintaan maaf resmi dari negara terhadap pelanggaran hak asasi manusia terhadap pribumi.

Abbott berjanji akan menggelar referendum perubahan konstitusi demi pengakuan suku Aborigin pada 27 Mei 2017, bertepatan dengan peringatan 50 tahun referendum dimasukkannya penduduk asli tersebut dalam sensus.

"Saya adalah pendukung utama pengakuan dalam konstitusi. Saya siap berkeringat darah demi hal ini," kata Abbott.

Saat diangkat sumpah sebagai pemimpin Australia pada 2013 lalu, Abbott berjanji akan menghabiskan satu pekan bersama suku Aborigin di tengah wilayah terpencil demi menjadi "perdana menteri untuk urusan pribumi."

Dia menepati janjinya pada September lalu dengan memindahkan kantornya di tengah komunitas Aborigin ujung utara Australia--sekitar 1.000 kilometer sebelah timur kota Darwin.

Terkait keberhasilan referendum yang dijanjikannya, Abbott mengatakan bahwa sekitar 60 persen penduduk Australia menyetujui rencana tersebut namun di sisi lain mengingatkan bahwa dukungan lebih luas masih dibutuhkan--terutama dari kalangan konservatif.

Menurut Abbott, pengakuan konstitusi akan menjadi pakta perdamaian antara kelompok pribumi dengan konservatif Australia yang selama ini menentang perubahan undang-undang dasar.

"Warga pribumi harus menerima apapun usulan yang muncul karena akan membuat mereka diakui sebagai penduduk pertama Australia.

Sementara konservatif juga harus bersikap sama karena usulan ini bertujuan melengkapi konstitusi dan bukan merubahnya," kata dia.

Suku Aborigin sendiri adalah kelompok paling tidak diuntungkan di Australia, dengan angka harapan hidup terendah dan seringkali hidup di bawah garis kemiskinan.
Pada masa lalu, kelompok tersebut juga sering menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia. Pada awal pendudukan Inggris 1788, jumlah penduduk Aborigin adalah satu juta orang namun kini angka itu turun drastis menjadi 470.000 dari total populasi 23 juta jiwa. (Ant/AFP/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru