Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Hong Kong Kembali Pulih, 209 Demonstran Ditangkap

- Sabtu, 13 Desember 2014 14:17 WIB
279 view
Hong Kong (SIB)- Kepolisian Hong Kong berhasil melakukan pembersihan total lokasi unjuk rasa prodemokrasi di Admirality. Sebanyak 209 demonstran ditangkap karena menolak meninggalkan lokasi unjuk rasa. Ratusan polisi dikerahkan ke lokasi untuk menyingkirkan tenda serta barikade yang dipasang demonstran, yang menggelar aksinya di Admirality selama dua bulan terakhir. Polisi kemudian meminta para demonstran, termasuk pemimpin mahasiswa dan anggota parlemen yang ikut dalam aksi, untuk segera meninggalkan lokasi unjuk rasa.

Operasi pembersihan yang didasarkan pada perintah Pengadilan Tinggi Hong Kong ini terus dilakukan hingga Kamis (11/12) tengah malam. Kantor berita Reuters, Jumat (12/12), melaporkan saat pembersihan dilakukan, sebagian ruas jalan di kawasan Admiralty dibuka untuk pertama kalinya sejak September lalu.
Ribuan orang sengaja berkumpul di Admirality sejak Rabu (10/12) malam. Mereka nekat bertahan di lokasi meskipun telah diminta pergi oleh polisi. Beberapa bahkan nekat berbaring di jalanan menolak pergi. "Kami beraksi dengan damai. Kami tidak akan menyerah. Saya ingin demokrasi yang sebenarnya," tegas demonstran lain.

Polisi pun terpaksa mengamankan para demonstran yang tetap bertahan di lokasi.

 Namun Asisten Komisioner Kepolisian Hong Kong, Cheung Tak-keung menyebutkan, total ada 209 orang yang ditangkap karena dianggap menghalang-halangi polisi yang melakukan tugasnya.

Kelompok unjuk rasa Hong Kong Federation of Students (HKFS) menyebut ada 9 anggota mereka yang ditangkap. Pemimpin mahasiswa Nathan Law dan Eason Chung juga ikut diamankan polisi. Pengusaha media Jimmy Lai yang kerap mengkritik otoritas China, kemudian aktivis veteran Martin Lee, penyanyi Denise Ho dan anggota parlemen Claudia Mo juga ikut diamankan polisi setempat.

Para demonstran menyerukan pemilu yang sepenuhnya bebas untuk memilih pemimpin kota Hong Kong pada 2017, namun Beijing bersikeras untuk mengajukan calon dari komite loyalisnya, yang diserukan oleh demonstran sebagai kandidar antek pro-Tiongkok.

Demonstran merasa pendudukan berkepanjangan mereka telah menempatkan gerakan demokrasi dalam agen da dengan Beijing dan pemerintah daerah, setelah memacetkan kote tersebut dan mengerahkan puluhan ribu demontran di jalan sebagai kekuatannya.

Meskipun demikian, para pemimpin protes mengatakan mereka akan terus mendorong reformasi. "Ini bukan akhir dari pergerakan kami. Kebangkitan politik di tengah kaum muda tidak terbantahkan dan kami akan terus berjuang," tegas Mo kepada AFP sebelum dia diamankan polisi.

"Jika kita berjuang dengan lama, pasti kita tidak memiliki sumberdaya seperti yang dimiliki pemerintah," kata pemimpin mahasiswa remaja Joshua Wong. "Jika kita mendapatkan dukungan dari orang-orang muda mengenai demokrasi ... ada kesempatan yang lebih besar untuk mencapai hak pilih universal," tambahnya.
Pemimpin Kampanye Occupy Central, Benny Tai, memperingatkan masih akan ada tindakan di masa mendatang. "Jika masalah reformasi politik tidak ditangani dengan tepat saya percaya tahap berikutnya akan ada tindakan perlawanan baru. Apakah itu pekerjaan jangka panjang ? Mungkin tidak," kata Tai.

Tai menyerahkan diri ke polisi pekan lalu dalam upaya simbolik untuk menraik para demonstran dari jalanan di tengah bentrokan, namun hanya diperintahkan untuk kembali tanpa dikenakan sanksi atau ditangkap.

Analis mengatakan gerakan pro-demokrasi oleh mahasiswa untuk legislator harus menjadi lebih koheren jika ingin mencapai sebuah konsesi politik. "Mereka perlu bersatu untuk menciptakan koalisi yang layak dari para pemangku kepentingan," kata analis politik Willy Lam dari Universitas China Hong Kong.

"Mereka harus bertindak bersama-sama untuk melobi dan bernegosiasi dengan administrasi Hong Kong dan Beijing. Selain itu juga akan memberikan kesan menyuarakan satu suara dan jauh lebih terorganisir kepada masyarakat Hong Kong," kata Lam. Dukungan publik kepada gerakan tersebut berangsur berkurang ketika protes berminggu-mingg itu berlalu dan kampanye pecah ke arah yang berbeda.(Detikcom/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru