Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 14 April 2026

Kebakaran di Tambang Emas Afsel, 8 Orang Tewas

- Jumat, 07 Februari 2014 13:34 WIB
589 view
 Kebakaran di Tambang Emas Afsel, 8 Orang Tewas
SIB/int
Ilustrasi
Johannesburg (SIB)- Regu penyelamat menemukan delapan mayat pada Kamis dan melanjutkan upaya pencarian terhadap pekerja lain yang masih hilang, menyusul terjadinya kebakaran dan runtuhan batu di tambang emas Harmony Gold dekat Johannesburg, yang merupakan insiden tambang terburuk di Afrika Selatan dalam kurun waktu lima tahun.

Menteri Sumberdaya Mineral Susan Shabagu memerintahkan penyelidikan atas insiden di tambang Doornkop, sekitar 30 km barat kota, setelah sebelumnya dilaporkan kebakaran yang dipicu gempa kecil pada Selasa malam.

"Insiden ini sangat disesalkan," kata Shabangu dalam sebuah pernyataan.

"Kami harus memastikan melakukan yang terbaik untuk mengetahui penyebab insiden ini untuk mencegah insiden serupa terjadi di masa depan."
Ini merupakan insiden paling serius di tambang Afrika Selatan sejak peristiwa tewasnya sembilan pekerja akibat runtuhnya bebatuan di tambang platinum pada Juli 2009.

Regu penyelamat harus melintasi debu dan reruntuhan sekitar satu mil di bawah tanah pada Rabu untuk mencapai lokasi delapan pekerja tambang lain yang berhasil lolos ke tempat perlindungan dengan membawa telepon dan perlengkapan lain. Mereka berhasil dibawa ke permukaan dengan selamat.
Tambang-tambang emas Afrika Selatan merupakan yang terdalam di dunia dan termasuk paling berbahaya di era apartheid.

Sejak berakhirnya kekuasaan minoritas kulit putih pada 1994, pemerintah, serikat pekerja dan perusahaan bekerja untuk meningkatkan keselamatan. Namun sepanjang 2012 lalu tercatat 112 pekerja tewas.

Serikat Pekerja Tambang Nasional (NUM) dan Harmony mengatakan api mulai menjalar pada Selasa petang setelah gempa bumi merusak ventilasi, pipa air dan kabel-kabel listrik.

Meski demikian, NUM tetap mempertanyakan standar keamanan di tambang itu, dan mengatakan pekerja tambang yang selamat melaporkan bahwa sistem ventilasi di salah satu ruang perlindungan bisa dimasuki asap.

"Ini membuktikan kepada kami bahwa ruang perlindungan tidak sesuai dengan standar keamanan," kata Sekretaris Jendral NUM Frans Baleni kepada Reuters. "Kami tidak bisa hanya menyesalkan hal tersebut. Penyelidikan harus dilakukan untuk menemukan adanya keteledoran."

Seorang jurubicara Harmony mengatakan kemungkinan tempat perlindungan telah terganggu oleh gempa bumi ataupun kebakaran yang terjadi kemudian.
Penyelidikan yang dilakukan pemerintah, serikat pekerja dan perusahaan tengah berlangsung, katanya. (Rtr/Ant/x)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru