Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

AS Selidiki Laporan Tewasnya Warga Sipil dalam Operasi Anti-ISIS

* ISIS Ganti Kurikulum Sekolah Suriah
- Kamis, 08 Januari 2015 16:24 WIB
198 view
Washington (SIB)- Militer Amerika Serikat mengaku menerima 18 laporan soal jatuhnya korban tewas dari warga sipil akibat serangan udara mereka terhadap ISIS di Irak dan Suriah. AS menegaskan tengah menyelidiki laporan tersebut secara mendalam.

Pentagon menyatakan pihaknya menanggapi serius setiap laporan jatuhnya korban sipil yang mereka terima dan menegaskan akan menyelidiki laporan tersebut. Ini merupakan pernyataan pertama dari militer AS yang mengakui bahwa kampanye udara anti-ISIS kemungkinan telah merenggut korban jiwa warga sipil. "Kami menerapkan standar yang sangat ketat dalam upaya kami mengutamakan pencegahan jatuhnya korban dari pihak sipil," ucap juru bicara Pusat Komando Pentagon yang mengawasi militer AS di Timur Tengah, Sersan Kelas Satu Sheryl Lawry seperti dilansir Reuters, Rabu (7/1).

Dari total 18 laporan yang diterima, sebanyak 9 laporan menyebut jatuhnya korban warga sipil di Suriah dan 9 laporan lainnya di Irak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 laporan telah dinyatakan tidak kredibel. Kini, AS masih melakukan peninjauan atas 5 laporan jatuhnya korban tewas dari pihak sipil. Lawry menambahkan, dua laporan di antaranya yang memicu korban tewas kurang dari 5 orang, diselidiki lebih mendalam.

Menurut Lawry, dua laporan yang diselidiki lebih mendalam tersebut merupakan hasil dari proses review internal militer AS dan tidak didasarkan pada tudingan dari pihak luar. Tercatat hingga Senin (5/1) malam, menurut Pentagon, militer AS telah melancarkan 1.350 serangan udara terhadap ISIS, dengan rincian sebanyak 687 serangan di Irak dan 663 serangan di Suriah. Sedangkan mitra koalisi AS telah melakukan 309 serangan udara, dengan rincian mayoritas serangan atau sekitar 237 serangan di Irak.

ISIS Ganti Kurikulum
Diperkirakan sekitar 670.000 anak-anak Suriah kehilangan pendidikan setelah pasukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) memerintahkan sekolah-sekolah ditutup untuk mengubah kurikulumnya, kata badan PBB untuk anak-anak UNICEF seperti dikutip Reuters.

ISIS yang telah menduduki sebagian besar Suriah dan Irak, menerapkan kurikulum kewajiban mempelajari hukum Islam. November lalu ISIS menutup sekolah-sekolah di wilayah yang mereka kuasai di Suriah timur untuk menunggu revisi kurikulum. "Pada Desember terbit dekrit ISIS yang memerintahkan penghentian pendidikan di wilayah-wilayah yang mereka kuasai," kata juru bicara UNICEF Christophe Boulierac. "ISIS mengatakan bahwa kurikulum perlu dipertajam dan dikonsepsikan kembali," sambung dia.

Anak-anak yang belajar di SD-SD dan SMP-SMP di Raqqa, dan wilayah perkotaan di provinsi Deir al-Zor serta Aleppo terpengaruh oleh penutupan sekolah itu, kata dia.  Para guru mesti dilatih kembali.

UNICEF juga mengatakan bahwa paling sedikit 160 anak terbunuh dan 343 terluka akibat serangan ke sejumlah sekolah di seluruh Suriah tahun lalu. Jumlah pastinya mungkin lebih besar dari itu akibat sulitnya akses dan mendapatkan data, kata Boulierac. "Di samping itu minimnya akses ke sekolah, serangan ke sekolah, guru dan murid semakin menjadi petunjuk risiko berbahaya yang dihadapi anak-anak Suriah dalam krisis yang sudah mendekati tahun kelima," kata Hanaa Singer, perwakilan UNICEF di Suriah. ISIS telah menjadi sasaran serangan udara pimpinan AS baik di Suriah maupun Irak sejak September lalu, demikian Reuters.

Tewaskan 24 Anggota ISIS
Setidaknya 24 anggota ISIS tewas dalam bentrokan dengan para pejuang Kurdi di kota Kobane, Suriah, dimana pertempuran telah berkecamuk selama hampir empat bulan, kata kelompok pemantau.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan para anggota kelompok garis keras ISIS tewas dalam baku tembak dan penyergapan oleh Unit Perlindungan Rakyat (YPG) di sektor timur Kobane. Tujuh pejuang YPG serta dua warga sipil tewas dalam peristiwa itu.

Kelompok, yang bergantung pada jaringan aktivis dan petugas medis di lapangan untuk informasinya, Senin, mengatakan para pejuang Kurdi kini menguasai 80 persen kota perbatasan itu. ISIS melancarkan serangan terhadap Kobane pada pertengahan September dan hampir menduduki kota yang juga dikenal sebagai Ain al-Arab itu. Tetapi pejuang Kurdi, yang didukung oleh serangan udara yang dipimpin AS, mampu secara bertahap merebut kembali wilayah di kota kecil itu, yang strategis karena lokasinya di perbatasan dengan Turki, demikian seperti dikutip dari AFP. (Rtr/dtc/AFP/Ant/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru