AS (SIB)- Usai teror menyelimuti kota Paris, Prancis, Pemerintah Amerika Serikat langsung mengeluarkan peringatan global. Peringatan berlaku global, karena AS menilai serangan teror tersebut turut terjadi di dua negara lain yakni Australia dan Kanada.
Dikutip dari laman New York Dailynews, peringatan telah diunggah ke situs resmi Departemen Luar Negeri AS. Dalam peringatan tersebut, AS memperingatkan seluruh warganya yang berada di seluruh dunia, agar meningkatkan kewaspadaan mereka. Mereka juga menyebut beberapa tempat yang berpotensi tinggi menjadi sasaran pembalasan karena keterlibatan AS dalam koalisi melawan kelompok militan Islamic State of Iraq and al Sham (ISIS).
Pada Jumat pekan lalu, polisi anti teror Prancis berhasil melumpuhkan tiga teroris yang melakukan penyanderaan di dua tempat berbeda. Akibat tindakan teror yang berlangsung selama tiga hari, total sebanyak 17 orang tewas. Sebanyak 12 orang di antaranya terbunuh dalam insiden penyerbuan kantor majalah mingguan, Charlie Hebdo. Penyerangan tersebut menjadi insiden teror terparah di Prancis dalam satu dekade terakhir.
Ingin Pindah ke Israel
Serangan di supermarket Yahudi atau kosher di Paris, Prancis membuat sebagian warga Yahudi di negeri itu terpikir untuk meninggalkan Prancis. Terlebih serangan-serangan anti-Semit memang meningkat di Prancis belakangan ini. "Seandainya saya masih 30 tahun, saya akan keluar dari Prancis dan pindah ke Israel," cetus Laurent S., pria Yahudi yang berumur 50-an tahun seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (12/1).
Empat orang tewas, Jumat ( 9/1) waktu setempat ketika Amedy Coulibaly menyerbu toserba di Paris timur dan menyandera beberapa pengunjung. Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah tiga orang termasuk pria kakak-beradik Kouachi membantai 12 orang di kantor majalah satir Charlie Hebdo di Paris.
Insiden mematikan itu kian membuat takut komunitas Yahudi di Prancis, yang berjumlah antara 500 ribu hingga 600 ribu orang. Serangan tersebut juga membangkitkan kembali kenangan mengenai serangan Maret 2012 di Tolouse, ketika pria muslim bernama Mohamed Merah menembak mati tiga anak dan seorang guru di sekolah Yahudi.
Seorang manajer supermarket di sebelah utara Paris mengaku, dirinya hidup dalam ketakutan seiring melonjaknya serangan dan ancaman anti-Semit hingga dua kali lipat antara tahun 2013 dan 2014. "Sejak kita memiliki Internet, penghinaan terus menghujani kami dan kebencian menyebar," tutur wanita yang enggan disebut namanya itu. Banyak warga Yahudi lainnya yang telah memilih untuk angkat kaki dari Prancis. Sekitar 7 ribu orang Yahudi tercatat telah meninggalkan Prancis pada tahun 2014 dan pindah ke Israel. Angka ini sekitar dua kali lipat dari tahun 2013.
Menyusul serangan di supermarket Yahudi di Paris tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerukan warga Yahudi lainnya untuk pindah ke Israel. "Bagi seluruh warga Yahudi Prancis, seluruh Yahudi Eropa, saya ingin menyatakan bahwa Israel bukan hanya sebagai arah tempat kalian berdoa, negara Israel adalah rumah kalian," tutur Netanyahu dalam statemennya.
Untuk meredakan kekhawatiran warga Yahudi, pemerintah Prancis melakukan berbagai upaya untuk menenangkan komunitas Yahudi. "Prancis tanpa Yahudinya adalah bukan Prancis," kata Perdana Menteri Prancis Manuel Valls. Presiden Prancis Francois Hollande pun telah bertemu dengan para pemimpin Yahudi dan berjanji akan meningkatkan keamanan bagi komunitas Yahudi.
4 Korban Tewas Dimakamkan di Israel
Sementara itu, empat sandera yang tewas dalam penyanderaan di supermarket Hypercacher, Paris, Prancis akan dimakamkan di Israel. Keempatnya merupakan warga Yahudi berkebangsaan Prancis. Keputusan ini diambil setelah Kementerian Luar Negeri Israel menawarkan kepada keluarga korban untuk memakamkan korban di Israel. Meskipun keempatnya bukan warga negara Israel, keluarga korban setuju untuk memakamkan mereka di negeri Yahudi itu.
Seperti dilansir media Israel, The Times of Israel, Senin (12/1), upacara pemakaman keempat korban akan dilakukan pada Selasa (13/1) besok dan keempat korban akan diberi status sebagai korban teror. Keempat korban tewas diidentifikasi sebagai Yohan Cohen (22), pegawai supermarket HyperCacher, Yoav Hattab (21), seorang mahasiswa asal Tunisia dan juga anak seorang rabbi Yahudi di Tunis, Phillipe Barham (45), seorang eksekutif di perusahaan IT setempat, yang juga saudara seorang rabbi Yahudi di Prancis, dan Francois-Michel Saada (64), seorang pensiunan yang juga ayah dari dua anak.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menugaskan Menteri Budaya dan Olahraga Limot Livnat untuk menangani pemakaman keempat korban tersebut. Jenazah kempat korban diterbangkan ke Israel pada Senin (12/1) malam waktu setempat dan kemudian dimakamkan di Mount of Olives.
Informasi berbeda disampaikan ayah salah satu korban, yang menyebut keempat korban akan dimakamkan di pemakaman Har Hamenuhot di Yerusalem.
Keempat korban tewas dalam aksi brutal Amedy Coulibaly yang mengaku berkoordinasi dengan pelaku penembakan kantor majalah Charlie Hebdo, yang tengah menjadi pemberitaan dunia. Keempatnya dijadikan sandera oleh Coulibaly yang menuntut pembebasan pelaku penembakan Charlie Hebdo. Coulibaly akhirnya tewas di tangan polisi Prancis yang menggerebeknya di dalam supermarket Yahudi atau kosher tersebut.
PM Israel Puji Keberanian Pria Mali
Kisah kepahlawanan imigran muda asal Mali, Lassana Bathily, mencuat dalam tragedi penyanderaan di supermarket Yahudi atau kosher di Paris, Prancis. Pemuda berumur 24 tahun itu membantu beberapa pengunjung Yahudi untuk bersembunyi di lemari pembeku di supermarket tersebut. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu pun menyampaikan apresiasinya kepada pemuda muslim itu.
"Saya ingin menyampaikan apresiasi saya kepada warga Mali yang membantu menyelamatkan tujuh orang Yahudi," tutur Netanyahu dalam kunjungan ke sebuah sinagoga di Paris pada Minggu, 11 Januari malam waktu setempat seperti dilansir New Straits Times, Senin (12/1). Ucapan pemimpin negeri Yahudi itu mendapat sambutan meriah dari para pengunjung sinagoga.
Saat kejadian, Bathily sedang berada di gudang bawah tanah toko tersebut ketika pria bersenjata, Amedy Coulibaly datang menyerang di lantai atas toko Hyper Cacher tersebut. Melihat beberapa pengunjung lari ketakutan ke ruang bawah tanah tempatnya berada, Bathily yang berpikir cepat, mematikan lemari pembeku di gudang tersebut dan menyuruh mereka masuk bersembunyi.
Setelah itu, dia menyelinap keluar lewat jalan darurat untuk berbicara kepada polisi mengenai situasi di toko. "Saya memutuskan untuk pergi. Jika saya tidak pergi, polisi tak akan tahu bahwa ada banyak orang yang bersembunyi di ruang bawah tanah. Jadi saya mengambil risiko," tuturnya seperti dilansir NDTV, Senin (12/1). Awalnya, polisi sempat mengira dia sebagai pelaku penyerangan. Bathily pun sempat dipaksa untuk tiarap dan diborgol. Namun setelah dijelaskan, polisi melepaskan borgolnya dan Bathily pun memberikan kunci untuk membuka tirai logam supermarket tersebut sehingga polisi bisa masuk dan melancarkan serangan.
Keberanian Bathily ini menuai pujian banyak orang. Orang itu sangat berani," tutur Mohammed Amine, teman dan mantan rekan kerja Bathily. Para saksi mata dan polisi pun memberikan pujian senada tentang Bathily.
(vvn/AFP/dtc/Ant/i)