Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

AS Selidiki Peretasan Pendukung ISIS

*5 Ribu Warga Eropa Telah Bergabung dengan ISIS
- Kamis, 15 Januari 2015 12:22 WIB
260 view
Washington (SIB)- Para peretas yang mengaku setia kepada kelompok Negara Islam (ISIS) telah memasang pesan pada akun Twitter dan YouTube milik Komando Sentral militer Amerika atau US CENTCOM yang memimpin perang melawan kelompok teror itu. Peretasan itu terjadi tak lama setelah Presiden AS Barack Obama mengumumkan rencana pemerintahnya untuk meningkatkan keamanan dunia maya bagi konsumen Amerika. Akun Twitter dan YouTube milik Komando Sentral Amerika yang mengawasi operasi militer di Timur Tengah hari Senin (12/1) diretas oleh orang-orang yang memasang video klip dan pesan simpati pada ISIS.

Pesawat-pesawat tempur Amerika dan koalisi telah membombardir kubu-kubu pertahanan ISIS di Irak dan Suriah. Satu pesan pada laman twitter US CENTCOM mengancam tentara Amerika . Pesan lainnya berbunyi, "Kekhalifahan dunia maya meneruskan jihad dunia mayanya”. Peretasan itu tampaknya lebih menyebabkan rasa malu pemerintah AS, daripada kekhawatiran mereka atas bobolnya sistem pengamanan.

Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest mengatakan, “Jelas ini harus kita selidiki secara serius. Namun sekedar mengingatkan kepada yang meliput berita ini, ada perbedaan sangat jelas antara peretasan sejumlah besar data dengan peretasan akun Twitter.”

Peretasan itu terjadi tak lama setelah Presiden Barack Obama mengumumkan rencana untuk meningkatkan keamanan dunia maya guna melindungi ekonomi Amerika. "Kami akan mengajukan rancangan undang-undang baru, tentang hak Privasi Konsumen. Lewat kerja sama dengan sektor swasta dan kelompok-kelompok penasehat, kami telah mengidentifikasi beberapa prinsip dasar untuk melindungi privasi pribadi dan memastikan industri terus berinovasi ," janji Obama.

Obama mengusulkan undang-undang baru yang akan mewajibkan perusahaan untuk memberitahu kepada pelanggan tentang pencurian data dalam waktu 30 hari, dan menjadikannya sebagai kejahatan jika menjual identitas pelanggan ke luar negeri. Negara-negara bagian Amerika memiliki aturan yang berbeda, banyak di antaranya sudah usang.

Obama juga mengusulkan dipermudahnya cara mengecek laporan kredit konsumen dan disusunnya undang-undang yang melarang perusahaan-perusahaan perangkat lunak pendidikan menjual data tentang siswa kepada pihak ketiga. Pemerintahan Obama juga berencana untuk mengajukan RUU keamanan dunia maya ke Kongres pada akhir bulan Januari.

Sementara kepala badan kepolisian Eropa (Europol), Rob Wainwright, sebanyak 5 ribu orang warga Eropa telah bergabung dengan kelompok-kelompok jihadis termasuk ISIS di Suriah dan Irak.  "Kita bicara tentang sekitar 3 ribu, 5 ribu warga Uni Eropa," ujar Wainwright ketika ditanya mengenai berapa banyak warga Eropa yang telah pergi bertempur untuk kelompok jihadis.

"Kita berurusan dengan banyak orang, khususnya para pemuda yang berpotensi untuk datang kembali dan punya potensi atau niat dan kemampuan untuk melakukan serangan-serangan seperti yang kita lihat di Paris dalam sepekan terakhir," tutur Wainwright.

Dikatakannya, kembalinya para militan tersebut ke negara asal mereka merupakan ancaman teroris paling serius yang dihadapi Eropa sejak serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat. Wainwright pun menyerukan adanya pengawasan yang lebih ketat atas penggunaan media sosial. Sebab menurutnya, media sosial telah digunakan sebagai alat rekrutmen bagi para jihadis. "Kita harus memiliki hubungan yang lebih erat, jauh lebih produktif antara penegak hukum dan perusahaan tekonologi," tandasnya.

Sebelumnya, kepala kontraterorisme Uni Eropa, Gilles de Kerchove memperkirakan pada September 2014 lalu, bahwa sekitar 3 ribu warga Eropa telah bergabung dengan para militan ISIS di Suriah dan Irak. Menurut de Kerchove, sekitar 30 persen dari mereka telah kembali ke negara-negara Eropa mereka. (Detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru