Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

ISIS Mulai Perluas Jaringan ke Afghanistan

*Wanita Yazidi Dipaksa Donorkan Darah
- Jumat, 16 Januari 2015 13:26 WIB
354 view
Kajaki (SIB)- Kelompok militan ISIS mulai memperluas jaringan ke Afghanistan. Kegiatan pertama gerakan yang berbasis di Irak dan Suriah itu pertama kali diketahui setelah para pemimpin suku mengungkapkan bahwa kelompok teror tersebut telah mendirikan basis di Provinsi Helmand Utara.

Menurut laporan The Times of London, Kamis (15/1), militer Afghanistan dan pejabat lokal menyatakan ISIS dipimpin oleh mantan narapidana Guantanamo Bay, Mullah Abdul Rauf Alizai. Pemimpin suku menyatakan Rauf, yang bebas dari Penjara Amerika Serikat (AS) pada Desember 2007, mendirikan markas ISIS di area Zamin Dawar di Provinsi Helmand dekat Kota Kajaki.

Sepertinya, Rauf melakukan perekrutan calon anggota ISIS dengan cara menawarkan upah yang tinggi agar mau bergabung dengannya. “Dia telah kembali melalui Iran,” kata mantan Gubernur Distrik Sangin, Sulaiman Shah. “Rauf mengatakan kepada semua orang bahwa pemimpinnya berada di Irak dan ISIS mulai melakukan sejumlah kegiatan di beberapa wilayah Afghanistan,” sambungnya.

Kelompok ISIS terus berusaha mendirikan khalifah di luar Irak dan Suriah. Terakhir mereka coba menguasai sebuah kota di Libya dengan cara melakukan serangan di seluruh Afrika Utara. Bahkan, ISIS mendapat janji kesetiaan dari kelompok militan di 12 negara lainnya.

Pembukaan operasi kelompok ISIS di Afghanistan membuka peluang bentrok dengan Taliban. Bahkan, muncul laporan militan kedua kelompok tersebut terlibat baku tembak. Banyak anggota Taliban yang memutuskan pindah ke ISIS. Dilaporkan bahwa ISIS telah menawarkan anggota Taliban upah sebesar USD500 (£330) per bulan dalam upaya untuk menarik milisi di Afghanistan.

Sementara itu otoritas Irak menemukan 16 jasad manusia di wilayah yang dikuasai militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Diduga kuat, jasad-jasad ini merupakan korban kekejaman ISIS yang merajalela di negara tersebut. "Kru gabungan yang melakukan penggalian telah menemukan 16 jasad manusia berjenis kelamin laki-laki, dalam keadaan ditutup matanya dan tangannya diikat di belakang," terang kepala distrik Saadiya, Mohammed Mulla Hassan. "Mereka (jasad-jasad tersebut) ditemukan di area Kobachi, yang merupakan bagian dari distrik Saadiya, dan mereka dieksekusi mati dalam beberapa bulan terakhir," imbuhnya.

Hassan menyatakan, jasad-jasad tersebut merupakan korban pembunuhan yang didalangi oleh ISIS, yang menguasai area tersebut hingga akhir November 2014 lalu, ketika milisi Syiah dan tentara Irak berhasil mengusir ISIS keluar.

Jasad-jasad ini ditemukan oleh tim gabungan dari pemerintahan wilayah Kurdistan dan Kementerian HAM Irak. Mereka melakukan pencarian korban kekejian ISIS, yang melakukan hukuman penggal terhadap orang-orang yang dianggap melakukan pelanggaran.

Kini, militer Irak serta pasukan Kurdi terus melakukan perlawanan terhadap ISIS dengan dibantu militer Amerika Serikat. Selain melalui serangan udara, AS juga membantu dengan melatih tentara Irak dan pasukan Kurdi agar lebih solid dalam melawan ISIS.

Dipaksa Donorkan Darah
Para wanita Yazidi, Irak yang ditawan kelompok ISIS, telah dipaksa untuk mendonorkan darah mereka bagi para militan ISIS yang terluka. Demikian diungkapkan seorang remaja yang berhasil kabur setelah sempat diculik dan disandera ISIS. Hamshe, remaja berumur 19 tahun yang telah memiliki seorang anak itu, mengaku telah disandera ISIS selama 28 hari. Dia juga yakin bahwa militan ISIS telah membunuh suaminya, iparnya dan ayah mertuanya.

Hamshe membeberkan hal itu kepada aktivis dan mantan jurnalis Nareen Shammo sebagai bagian dari dokumenter Arab di BBC, Slaves of the Caliphate. Dalam dokumenter itu, Shammo menelusuri para wanita Yazidi yang ditahan ISIS dan berupaya menegosiasikan pembebasan mereka.

"Mereka memaksa gadis-gadis Yazidi untuk menyumbangkan darah bagi para pejuang ISIS yang terluka. Tuhan mana yang mengizinkan perbuatan seperti ini?" kata Hamshe. Menurut Hamshe, dirinya berhasil kabur pada malam hari ketika para militan tidur di luar ruangan tempat dirinya ditahan. Dia membawa serta bayinya dan berjalan kaki selama sekitar empat jam, sebelum akhirnya ditemukan seorang pria Arab yang membantunya kembali ke keluarganya.

Seorang wanita korban ISIS lainnya yang berhasil lolos mengatakan kepada Shammo, dia melihat gadis-gadis diperkosa dan disiksa, bayi-bayi dipisahkan dari ibu mereka dan anak-anak kecil dibawa pergi dari keluarga mereka. Perempuan berumur 21 tahun itu menceritakan, salah seorang pemimpin ISIS membawa seorang anak perempuan berumur 13 tahun ke rumahnya dan memperkosanya berulang kali selama tiga hari.

Yazidi merupakan sekte agama yang mayoritas tinggal di wilayah Irak utara, yang keyakinannya merupakan gabungan unsur-unsur beberapa agama kuno Timur Tengah. Menurut kelompok HAM, Human Rights Watch dan Amnesty International, ribuan orang Yazidi telah tewas atau diculik sejak ISIS melancarkan serangan di wilayah Irak utara pada Agustus 2014 lalu. Sejak itu, ratusan wanita dan anak-anak perempuan Yazidi telah ditangkap, diperkosa dan disiksa, serta dipaksa berpindah ke agama Islam dan menikah dengan para militan ISIS. (Detikcom/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru