Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

3 Negara Gelar Operasi Anti-Teror, 2 Orang Tewas

- Sabtu, 17 Januari 2015 13:05 WIB
336 view
Verviers (SIB)-Setelah Prancis, giliran Belgia yang melancarkan operasi penumpasan terhadap teroris. Dua orang tewas dalam operasi anti-terorisme di Kota Verviers, Belgia bagian timur, Kamis (15/1). Kedua orang yang tewas itu ditembak karena melepaskan tembakan ke arah polisi. Orang ketiga ditahan di sebelah timur kota itu. Disebut, suasana operasi diliputi hujan tembakan. Demikian diungkapkan juru bicara jaksa federal Belgia Eric Van Der Sypt seperti dilaporkan kantor berita Associated Press, Jumat (16/1).

Saat menangkap orang ketiga tersebut, polisi berlari menuju apartemen di atas pusat penjualan roti di kota ini. Tiga orang terduga teroris dinyatakan sebagai warga negara Belgia. Dalam operasi lainnya, polisi mendatangi sejumlah rumah yang ditinggali orang-orang bekas pejuang Syria. Van Der Sypt menyatakan orang-orang tersebut diduga merencanakan serangan terhadap sejumlah kantor polisi. "Pencarian telah dilanjutkan ke arah sel operasi yang dihuni orang-orang yang kembali dari Syria," kata Van Der Sypt.

Jaksa federal Belgia menyebut negaranya sedang diliputi "serangan teroris dalam skala besar". Penyelidikan terhadap aksi terorisme di Belgia ini dimulai sebelum 7 Januari alias lebih awal dari peristiwa terorisme di Prancis. Namun Van Der Sypt menyatakan ini tak ada hubungannya dengan kejadian di Paris. "Untuk saat ini, tak ada hubungannya dengan serangan di Paris," katanya.

Namun demikian sebelumnya, Belgia telah berhasil mengamankan seorang pria di Belgia selatan yang memasok persenjataan untuk Amedy Coulibaly.

Sebagaimana diketahui, Coulibaly adalah pembunuh dari empat orang di toko bahan makanan milik Yahudi Paris setelah serangan terhadap Charlie Hebdo.

Pemasok senjata bernama Neetin Karasular itu, kini berada dalam penahanan kepolisian Belgia. Karasular berasal dari kota Charleroi di Belgia bagian selatan, yang sebagian besar warganya berbicara bahasa Prancis. Kepada polisi, Karasular mengaku membeli mobil yang dijual Amedy Coulibaly, salah satu pelaku serangan teror di Paris, sepekan lalu. Mobil tersebut merupakan milik istri Coulibaly, Hayat Boumeddiene yang kini masih buron.

"Persoalan senjata masih dalam penyelidikan," ujar juru bicara jaksa federal Belgia, Eric Van der Sijpt kepada AFP. Van der Sijpt menyatakan, Karasular sendiri sebelumnya berada di bawah pengawasan polisi Belgia atas kecurigaan praktik perdagangan senjata api secara ilegal.

Polisi Belgia yang menggeledah rumah Karasular, menemukan sejumlah dokumen yang membuktikan pembelian mobil dan dokumen lain, yang menunjukkan proses negosiasi dengan Coulibaly soal pembelian senjata dan amunisi. Ini termasuk sebuah pistol Tokarev yang digunakan Coulibaly dalam penyanderaan di supermarket Yahudi di Paris. Karasular akan mulai diadili di pengadilan di Charleroi pada Senin (19/1) mendatang, untuk menentukan apakah dia akan tetap ditahan atau tidak.

Digelarnya operasi anti-terorisme menyebabkan satu-satunya sekolah Yahudi Orthodoks di Belanda diliburkan. Media televisi nasional Belanda, NOS menyatakan tak ada ancaman konkret terhadap sekolah Cheider School di kota Amsterdam tersebut. NOS mengutip keterangan pemimpin sekolah tersebut, Rabbi Binyomin Jacobs. Sementara itu, sekolah-sekolah Yahudi di Antwerp dan Brussels, Belgia juga ditutup sementara setelah dua terduga teroris tewas dalam operasi penangkapan di Verviers, Belgia pada Kamis, 15 Januari waktu setempat.

Sebelumnya, sekolah Yahudi Belanda dan monumen-monumen terkemuka Yahudi -- termasuk Anne Frank House dan Museum Sejarah Yahudi di Amsterdam -- telah diperketat pengamanannya sejak Juni 2014 lalu. Langkah ini dilakukan atas saran dari kantor antiterorisme nasional negeri tersebut.

Operasi anti-teror juga dilakukan dua negara Eropa lainnya. Kepolisian Paris menangkap sekitar 12 orang terkait serangan teror di Prancis sepekan lalu. Orang-orang yang ditangkap ini dicurigai ikut memberi dukungan logistik bagi para pelaku serangan teror tersebut.

Penangkapan ini dilakukan polisi sepanjang Kamis (15/1) malam hingga Jumat (16/1) dini hari di sejumlah wilayah Paris, termasuk Montrouge yang menjadi lokasi penembakan polisi wanita pada pekan lalu oleh salah satu pelaku. "Memberikan dukungan logistik (kepada pelaku)," ujar salah satu pejabat kantor jaksa setempat yang enggan disebut namanya. Namun tidak disebutkan identitas maupun hubungan orang-orang ditangkap ini dengan pelaku serangan teror yang menewaskan 17 orang, sepekan lalu.

Usai ditangkap, mereka diinterogasi polisi setempat terkait keterlibatannya dengan ketiga pelaku serangan teror, yakni kakak-beradik Said dan Cheriff Kouachi serta Amedy Coulibaly. Ketiga pelaku tewas di tangan polisi Prancis dalam penggerebekan yang dilakukan di dua lokasi berbeda, sepekan lalu.

Operasi anti-teror juga digelar di Jerman, di mana lebih dari 200 personel kepolisian menggerebek sel-sel kelompok militan di sekitar ibu kota Berlin, Jumat (16/1) dini hari. Kepolisian Jerman mengatakan, operasi itu berhasil menahan seorang pemimpin kelompok militan yang berencana melakukan serangan di Suriah.

Tersangka yang ditahan itu adalah seorang pria keturunan Turki berusia 41 tahun dan diduga memimpin sebuah kelompok ekstremis Islam yang beranggotakan warga Turki dan Rusia khususnya  yang berasal dari wilayah bergolak Chechnya dan Dagestan.

Sejauh ini kepolisian Jerman menegaskan belum menemukan bukti kelompok yang digerebek itu berencana melakukan serangan teror di dalam wilayah Jerman. Pemerintah sejumlah negara Eropa kini dalam keadaan siaga setelah aksi teror di Perancis pekan lalu menewaskan 17 orang disusul operasi anti-teror di Belgia yang menewaskan sedikitnya dua orang. (Detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru