Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Presiden Perancis Bela Kebebasan Berekspresi

- Senin, 19 Januari 2015 12:49 WIB
198 view
Paris (SIB)- Presiden Perancis Francois Hollande mengatakan para pengunjuk rasa anti-Charlie Hebdo di negara lain tidak mengerti keterikatan Perancis pada kebebasan berbicara. “Kami telah mendukung negara-negara ini dalam perang melawan tereorisme,” ujarnya dalam kunjungan ke kota Tulle, Perancis Selatan, pada Sabtu (17/1). “Saya ingin menyatakan solidarritas (dengan mereka), tetapi pada saat yang bersamaan Perancis memiliki prinsip dan nilai, terutama kebebasan berekspresi,” ujarnya.

Hollande berbicara setelah edisi terbaru majalah satir Charlie Hebdo menerbitkan karikatur Nabi Muhammad dan menyebabkan bentrokan berdarah di sejumlah negara Islam seperti Aljazair, Niger dan Pakistan. “Ada ketegangan di luar negeri, di negara dimana warganya tidak mengerti keterikatan kami dengan kebebasan berbicara,” kata Hollande. “Kami telah melihat aksi protes itu, dan saya tegaskan bahwa di Perancis semua agama dihormati.” Pihak aparat di Pakistan, Aljazair dan Niger terlibat bentrokan penuh kekerasan dengan pengunjuk rasa yang marah dengan penerbitan kartun Nabi Muhammad di edisi terbaru majalah Charlie Hebdo, yang sejak lama memancing kontroversi melalui satire yang mengkritik semua agama dan pemimpin politik.

Sementara itu dari sisi politik dalam negeri, presiden Perancis ini mendapat tambahan dukungan pemilih sehingga mencapai titik tertinggi dalam satu setengah tahun terakhir, para pemilih memandangnya cakap dalam mengatasi serangan di Paris itu. Jajak pendapat dari BVA yang diumumkan pada Sabtu memperlihatkan tingkat popularitasnya naik menjadi 34 persen dari 24 persen sebelum serangan militan Islam tersebut.

Dianugerahi
Kewarganegaraan
Malian Lassana Bathily, karyawan muslim yang ikut menyelamatkan orang-orang Yahudi yang sedang berbelanja saat terjadi aksi terror di Paris, 9 Januari lalu, dianugerahi kewarganegaraan Perancis. Lassana Bathily sedang bekerja di supermarket itu ketika seorang laki-laki bersenjata, yang disebut bernama Amedy Coulibaly, masuk dan menyandera orang. Empat sandera dan Coulibaly akhirnya tewas dalam insiden tersebut.

Bathily menyembunyikan beberapa pengunjung supermarket di dalam ruangan pendingin yang dimatikan di ruang bawah tanah, lalu meminta mereka agar tenang selagi ia mencari bantuan. Warga asal Mali berusia 24 tahun itu awalnya dianggap sebagai kaki tangan pelaku dan lalu ditahan. Namun, Bathily kemudian dibebaskan dan membantu polisi mengetahui apa yang terjadi di dalam supermarket itu.

Kementerian Dalam Negeri Perancis minggu ini mengatakan telah mempercepat proses permohonan Bathily untuk menjadi warga negara atas keberaniannya itu. Bathily dijadwalkan mendapat status warga negara dalam upacara hari Selasa. Kepada saluran televisi Perancis BFMTV, Bathily mengatakan “kita semua bersaudara, tidak masalah apakah orang Yahudi, Kristen atau Islam.” (CNNIndo/VoAIndo/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru