Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 19 Januari 2026

Papan 'Closed' Melintasi Singapura, Restoran Turun-Temurun Tumbang di Tengah Lonjakan Biaya

Redaksi - Sabtu, 27 Desember 2025 15:14 WIB
1.600 view
Papan 'Closed' Melintasi Singapura, Restoran Turun-Temurun Tumbang di Tengah Lonjakan Biaya
Foto: Instagram @ahseahteochew
Restoran Bubur Legendaris di Singapura.

Jakarta(harianSIB.com)

Papan "For Rent" dan "Closed" kini mudah ditemui di Singapura. Sektor kuliner menghadapi gelombang penutupan terburuk dalam hampir dua dekade, dengan lebih dari 3.000 bisnis F&B menghentikan operasi tahun lalu, sekitar 250 per bulan, melansir Channel News Asia dan dikutip dari CNBC Indonesia.

Banyak di antaranya adalah usaha turun-temurun, seperti Ka-Soh, restoran Kanton berusia 86 tahun yang tutup pada 28 September.

"Kalah," ujar pemilik generasi ketiga Cedric Tang. "Kami tak bisa terus naikkan harga untuk tetap terjangkau, hingga tekanan biaya membuat kami tidak sanggup."

Baca Juga:

Burp Kitchen & Bar dan seluruh jaringan Prive Group juga tutup, serta dua restoran berlabel Michelin Guide. Mantan pemilik restoran Chua Ee Chien menyatakan, "Bahkan restoran yang paling sehat pun tidak bisa bertahan."

*Kenaikan sewa menjadi faktor utama.

Terence Yow dari SGTUFF mengatakan sebagian besar penyewa menghadapi kenaikan 20-49 persen, yang belum pernah terjadi dalam 15-20 tahun. Ethan Hsu dari Knight Frank Singapura menjelaskan, lonjakan ini dipicu minat investor pada ruko setelah kebijakan pendinginan pasar hunian, dengan biaya konstruksi naik 30 persen dan pemeliharaan 10 persen. "Kenaikan 50-100 persen mungkin belum menyentuh harga pasar," katanya, menambahkan bahwa sewa bukan satu-satunya biaya penyewa.

Di Burp Kitchen & Bar, masalah diperparah oleh kekurangan tenaga kerja dan melemahnya permintaan. Restoran besar mampu bersaing merekrut staf dengan gaji tinggi, sementara usaha kecil kesulitan bertahan. Asosiasi Restoran Singapura mengingatkan akan krisis tenaga kerja, namun pemerintah melihat faktor kelebihan pasokan – jumlah gerai makanan mencapai 23.600 tahun lalu, naik dari 17.200 pada 2016, dengan 3.800 gerai baru dibuka meskipun ribuan tutup.

Data Juni 2025 menunjukkan omzet restoran turun 5,6 persen dan kafe 0,1 persen, meskipun katering dan cepat saji tumbuh. Ronald Chye dan Sarah Lim dari Burp Kitchen menyatakan frekuensi kunjungan pelanggan menurun drastis. Survei SevenRooms 2023 menunjukkan lebih dari separuh warga Singapura mencari restoran baru melalui media sosial.

Untuk bertahan, pemilik Marie's Lapis Cafe Christopher Lim bahkan menjual rumah dan mencairkan tabungan pensiunnya, bekerja sama dengan konsultan digital yang membuat omzet melonjak 30-40 persen – meskipun popularitas online tak cukup mengatasi masalah struktural.

Anggota parlemen Edward Chia mendorong peningkatan kuota tenaga kerja asing dan peningkatan produktivitas UMKM. Beberapa bisnis seperti Keng Eng Kee Seafood mulai menggunakan sistem CRM, sementara SGTUFF melobi agar kenaikan sewa dibatasi mengikuti inflasi atau pertumbuhan PDB. "Supaya usaha tidak tiba-tiba dihantam kenaikan sewa 50-70 persen," kata Yow.(*)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
3 Warga Singapura Didakwa Menyuap Pejabat Kedubes RI
Polisi Singapura Kerahkan Robot Amankan KTT ASEAN
Dubes RI untuk Singapura Dorong Wirausaha Muda Perbanyak Ekspor
Rekor Buruk Timnas Indonesia vs Singapura di Piala AFF
Pidato BTS di PBB Jadi Bahan Pelajaran di Korsel, AS, Vietnam dan Singapura
BI Jalin Kerja Sama Swap dengan Bank Sentral Singapura
komentar
beritaTerbaru