Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

Mojtaba Khamenei Resmi Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Redaksi - Senin, 09 Maret 2026 11:17 WIB
165 view
Mojtaba Khamenei Resmi Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
Foto: X
Mojtaba Khamenei, pemimpin spiritual baru Iran menggantikan Ali Khamenei.

Teheran (harianSIB.com)

Majelis Ahli Iran menunjuk Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Baru Revolusi Islam. Demikian dilaporkan Kantor berita Iran Tasnim pada Senin (9/3/2026) seperti dikutip dari kompas.com

Disebutkan bahwa, penunjukan Mojtaba Khamenei dilakukan setelah wafatnya Ayatollah Seyed Ali Khamenei, yang memimpin Iran selama 37 tahun sejak meninggalnya Imam Khomeini pada 1989. Majelis Ahli kemudian memilih Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Revolusi Islam ketiga di Iran.

Sebelumnya, seorang anggota Majelis Ahli, Ayatollah Mohsen Heidari Alekasir, mengeluarkan pernyataan yang menyiratkan sudah adanya pengganti Ayatollah Ali Khamenei di posisi Pemimpin Tertinggi Iran tanpa menyebut nama.

Ia hanya menyampaikan, pemilihan pemimpin baru Iran mengikuti arahan dari mendiang Ali Khamenei, bahwa pemimpin tertinggi Iran seharusnya menjadi sosok yang "dibenci oleh musuh".

Ulama tingkat menengah berusia 56 tahun tersebut dipilih lebih dari sepekan setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara di tengah perang antara Iran dengan AS dan Israel.

Sosok yang disebut "penjaga gerbang" Khamenei Mojtaba Khamenei dikenal sebagai figur yang memiliki pengaruh besar di balik layar selama kepemimpinan ayahnya. CNN melaporkan, ia memiliki hubungan dekat dengan aparat keamanan Iran serta jaringan bisnis besar yang berada di bawah pengaruh mereka.

Mojtaba juga dikenal menentang kalangan reformis yang ingin membuka hubungan lebih luas dengan Barat, terutama terkait upaya pembatasan program nuklir Iran. Kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memberinya pengaruh besar dalam struktur politik dan keamanan Iran.

Dalam sebuah pernyataan pada Senin, Garda Revolusi Iran pun menyampaikan kesiapan mendukung kepemimpinan Mojtaba Khamenei. "IRGC siap untuk patuh sepenuhnya," tulis mereka, dikutip dari AFP.

Sumber yang mengetahui dinamika politik di negara itu menyebut Mojtaba selama ini berperan sebagai "gatekeeper" atau penjaga akses terhadap ayahnya. "Dia memiliki basis dukungan kuat di dalam IRGC, terutama di kalangan generasi muda," kata Kasra Aarabi, kepala riset IRGC di organisasi kebijakan berbasis di AS, United Against Nuclear Iran, dilansir dari Reuters.

Di Iran, pemimpin tertinggi memiliki kewenangan paling besar dalam urusan negara, termasuk kebijakan luar negeri dan program nuklir.

Mojtaba tercatat lahir pada 1969 di kota suci Syiah, Mashhad. Ia tumbuh ketika ayahnya terlibat dalam gerakan oposisi terhadap Shah Iran sebelum Revolusi Islam 1979. Saat muda, ia sempat bertugas dalam perang Iran-Irak.

Mojtaba kemudian menempuh pendidikan agama di seminari Qom, pusat pembelajaran teologi Syiah di Iran, dan memiliki gelar ulama dengan tingkat Hojjatoleslam. Meski memiliki pengaruh besar, ia tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan Republik Islam Iran.

Ia juga jarang berbicara di depan publik, meski kadang terlihat menghadiri aksi massa yang mendukung pemerintah. Peran Mojtaba di dalam negeri sendiri sempat memicu kontroversi karena sebagian pihak menolak kemungkinan munculnya politik dinasti di Iran, negara yang menggulingkan monarki pada 1979.

Sementara itu, Istri Mojtaba, yang tewas dalam serangan udara pada Sabtu (8/3/2026), merupakan putri dari tokoh Iran dan mantan ketua parlemen, Gholamali Haddadadel.

Pada 2019, Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba Khamenei. Pemerintah AS menilai Mojtaba menjalankan peran resmi mewakili pemimpin tertinggi Iran meski tidak pernah dipilih atau ditunjuk dalam jabatan pemerintahan, selain bekerja di kantor ayahnya.

AS juga menuduh Mojtaba bekerja sama dengan komandan Pasukan Quds dari IRGC serta milisi Basij untuk "mendorong ambisi regional yang mengganggu stabilitas serta tujuan domestik yang represif". Pada 2024, sebuah video yang menunjukkan Mojtaba menghentikan kelas fikih Islam yang ia ajarkan di Qom sempat beredar luas dan memicu spekulasi mengenai alasannya. (*)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru