Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Obama Tolak Bertemu PM Israel

- Sabtu, 24 Januari 2015 11:44 WIB
388 view
Obama Tolak Bertemu PM Israel
Washington/Yerusalem (SIB)- Presiden Barack Obama tidak akan menemui Perdana Menteri Israel Banjamin Netanyahu apabila ia mengunjungi Washington pada Maret. Netanyahu diundang Partai Republik guna menyampaikan pidato di Kongres mengenai Iran.

Bernadette Neehan, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, mengatakan Obama tidak mengundang Benjamin Netanyahu ke Gedung Putih untuk berunding karena Israel akan menyelenggarakan Pemilu 17 Maret.

"Telah merupakan satu praktik dan prinsip yang sudah lama dianut, kami tidak akan bertemu dengan kepala-kepala negara atau kandidat-kandidat yang akan ikut dalam pemilihan, untuk menghindari adanya pengaruh bagi satu pemilihan yang demokratik di satu negara asing," kata Meehan seperti dilaporkan Reuters, Jumat (23/1). "Sesuai dengan kebijakan itu, presiden tidak akan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang ikut mencalonkan diri kembali dalam pemilu, yang hanya dua minggu setelah pidatonya di Kongres AS."

Netanyahu sebelumnya mengumumkan akan menyampaikan pidato di Kongres AS Maret. Keputusan Obama itu adalah penghinaan karena para pemimpin dari Israel, sekutu AS, hampir selalu mendapat kesempatan berunding dengan presiden AS saat mengunjungi Washington. Netanyahu menuduh Obama membuat terlalu banyak konsesi kepada Iran dengan terlalu sedikit imbalan dalam perundingan-perundingan nuklir antara Teheran dan negara-negara penting dunia.

Sebelumnya pemimpin sayap militer Hamas mengirim sepucuk surat menyerukan agar kelompok Hezbollah Lebanon bersatu dengan Hamas untuk memerangi Israel. Surat itu, yang diunggah ke situs stasiun televisi milik Hezbollah Al Manar TV, menyarankan agar kelompok Hamas dan Hezbollah mengesampingkan perbedaan pandangan mereka terkait perang saudara Suriah.

Hamas selama ini dikenal sangat menentang rezim Presiden Bashar al-Assad. Sementara, kelompok Hezbollah kini justru membantu rezim Assad memerangi para pemberontak yang berusaha menggulingkannya. "Musuh sebenarnya adalah Zionis dan semua senjata seharusnya diarahkan kepada mereka. Semua kekuatan perlawanan harus menyambut peperangan selanjutnya sebagai satu kesatuan," demikian isi surat yang ditandatangani Deif.

Surat itu juga berisi ucapan belasungkawa dari Hamas untuk pemimpin Hezbollah Hassan Nasrallah terkait tewasnya enam pejuang kelompok itu dalam suatu serangan udara Israel di kota Quneitra, dataran tinggi Golan.

Mohammed Deif sendiri bukan nama asing bagi Israel. Dalam perang 50 hari di Gaza tahun lalu, Deif adalah salah satu sasaran utama Israel. Israel mengatakan Deif bertanggung jawab atas sejumlah aksi bom bunuh diri di beberapa kota Israel yang menewaskan puluhan warga negeri itu. Militer Israel sudah berulang kali mencoba membunuh Deif, termasuk satu upaya pada Agustus tahun lalu di tengah kecamuk perang 50 hari di Jalur Gaza.

Hamas, yang saat ini terisolasi baik secara politik maupun finansial, mencoba untuk memperbaiki hubungannya dengan sekutu-sekutu lamanya untuk memperbaiki kondisi finansialnya. Pada Desember lalu, Hamas mengatakan sudah memperbaiki hubungannya dengan Iran yang selama ini marah dengan keputusan Hamas yang memusuhi Bashar al-Assad. (Ant/Rtr/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru