Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026

Mantan PM Jepang Bertemu Wanita Penghibur di Korsel

- Rabu, 12 Februari 2014 17:12 WIB
756 view
Mantan PM Jepang Bertemu Wanita Penghibur di Korsel
SIB/int
Tomiichi Murayama
Seoul (SIB)- Tomiichi Murayama, mantan perdana menteri Jepang yang pada tahun 1995 dikenal atas permintaan maafnya mengenai agresi Jepang pada masa perang, Selasa (11/2) bertemu dengan tiga wanita Korea Selatan yang pernah dijadikan sebagai "wanita Penghibur" (jugun ianfu) bagi pasukan Jepang.

"Semoga Anda tetap sehat," kata mantan perdana menteri berumur 89 tahun ini mendoakan tiga perempuan itu sambil menepuk tangan-tangan mereka dalam acara pameran karya seni yang diselenggarakan oleh para wanita penghibur di kompleks parlemen Korea Selatan di Seoul.

Salah seorang dari tiga wanita penghibur itu, Kang Ul-Chul mengatakan kepada Murayama melalui penerjemah, bahwa pemerintah Jepang harus meminta maaf secara patut terhadap para bekas budak nafsu dan memberikan ganti rugi yang layak bagi mereka.

Para perempuan itu juga mempersembahkan karya seni mereka yang berjudul "Bunga yang Layu Sebelum Berkembang" kepada Murayama.
Murayama menjadi perdana menteri Jepang pada 1994 hingga 1996 dan paling dikenang dalam pidatonya tahun 1995 di mana secara terbuka ia menyampaikan meminta maaf atas kekejaman Jepang selama Perang Dunia II.

Masa penjajahan Jepang antara 1910 hingga 1945 di Semenanjung Korea masih menjadi masalah peka yang besar dan Jepang diyakini belum sepenuhnya menjiwai permohonan maaf tahun 1995 itu serta tidak bertobat atas agresi pada masa lalu tersebut.

Hubungan kedua negara mencapai titik terendah pada Desember lalu ketika perdana menteri saat ini, Shinzo Abe, mengunjungi kuil kontroversi dalam memperingati gugurnya 2,5 juta warga Jepang akibat perang termasuk  di antaranya adalah sejumlah petinggi yang disebut sebagai penjahat perang.
Murayama tiba di Seoul pada Selasa untuk kunjungan selama tiga hari atas undangan dari partai oposisi.

Ia dilaporkan mengajukan permohonan untuk bertemu dengan Presiden Park Geun-Hey namun ditolak dengan alasan jadwal kesibukan presiden Korsel yang padat.

Presiden Park sudah membuat pernyataan tegas bahwa ia tidak akan melakukan pertemuan puncak dengan PM Abe sampai petinggi Jepang itu menanggapi keluhan Korsel. (Ant/AFP/x)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru