Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Persulit Perdamaian Israel-Palestina, Obama Kritik Netanyahu

- Senin, 23 Maret 2015 14:54 WIB
249 view
Persulit Perdamaian Israel-Palestina, Obama Kritik Netanyahu
Washington DC (SIB)- Di masa kampanye, Benjamin Netanyahu menyatakan dia tidak akan mengakui Palestina sebagai sebuah negara. Kini ketika Netanyahu sudah terpilih sebagai perdana menteri Israel, janji kampanyenya itu dianggap sebagai rintangan besar untuk sebuah solusi perdamaian.

Presiden AS Barack Obama mengatakan janji politik Netanyahu itu membuat situasi menjadi sulit. Dalam sebuah wawancara dengan Huffington Post yang dilakukan pada hari Jumat (20/3) dan diterbitkan pada hari Sabtu (21/3), Obama menjelaskan bahwa ia melakukan percakapan telepon dengan Netanyahu pada hari Kamis (19/3), dua hari setelah pemimpin Israel tersebut terpilih kembali.

“Aku mengatakan kepadanya bahwa kami tetap percaya akan solusi kedua negara adalah satu-satunya cara untuk kedamaian jangka panjang Israel, jika ingin tetap menjadi negara Yahudi yang baik dan demokratis,” kata Obama. “Dan aku mengatakan kepadanya bahwa mengingat pernyataan-pernyataannya sebelum pemilu, itu akan sulit untuk menemukan titik temu di mana orang-orang serius mempercayai bahwa mungkin akan ada negosiasi (kedua negara)."

Krisis hubungan AS-Israel terburuk dalam beberapa dekade terakhir diperparah dengan pernyataan kontroversial Netanyahu tepat sebelum pemilihan umum negeri itu digelar pada Selasa (16/3). Saat itu, Netanyahu mengatakan tak akan ada negara Palestina merdeka dalam agendanya saat memerintah. Pernyataan ini membuat AS mengancam akan mengevaluasi hubungannya dengan negeri Yahudi itu dan kebijakannya di Timur Tengah.

"Kami menganggap bahwa retorika seperti itu sangat bertentangan dengan tradisi Israel, yaitu meski Israel dibangun dengan dasar sejarah bahwa bangsa Yahudi membutuhkan sebuah negara, namun demokrasi Israel menjanjikan semua orang di negeri itu akan diperlakukan setara," kata Obama.

"Saya kira itulah hal terbaik dalam demokrasi Israel. Jika hal itu hilang, maka saya kira situasi tersebut tak hanya memberi amunisi bagi mereka yang tak menyetujui keberadaan sebuah negara Yahudi namun juga akan memulai proses hilangnya demokrasi di negeri itu," Obama menegaskan.

Sebelumnya Sekretaris Pers Gedung Putih Josh Earnest mengatakan, bahwa sebelum percakapan telepon tersebut, ia (Obama) diam sejenak dan mengatakan mengatakan bahwa AS akan menilai ulang kerjasama kedua negara (AS-Israel) yang mencakup penawaran dukungan padanya (Israel) untuk resolusi PBB yang menyerukan pembentukan sebuah negara Palestina. Resolusi ini ditentang oleh Yerusalem, namun para pejabat AS telah melayangkan hal tersebut sebagai konsekuensi atas pernyataan Netanyahu. (Detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru