Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Setelah Ukraina, Rusia Mungkin Incar Lithuania

- Selasa, 24 Maret 2015 12:31 WIB
410 view
Setelah Ukraina, Rusia Mungkin Incar Lithuania
Vilnius (SIB)- Konflik Ukraina yang berkepanjangan telah mengejutkan negara-negara di Eropa Timur. Aksi Rusia sejak aneksasi Krimea pada tahun lalu menjadi sebuah hal yang sulit untuk ditebak arahnya. Kemungkinan pecahnya Perang Dunia III pun bukan sesuatu yang mustahil terjadi.

Dalam keadaan seperti ini, negara-negara tetangga Ukraina yang juga menjadi anggota NATO, yaitu Estonia, Latvia, dan Lithuania, merasa terancam dengan kemungkinan serangan oleh Rusia. Lithuania bahkan mencanangkan wajib militer bagi warganya demi mempersiapkan diri dari konflik bersenjata dengan Rusia.

Berbeda dengan Latvia dan Estonia, Lithuania tidak berbatasan langsung dengan Rusia. Di sebelah utara, Lithuania berbatasan dengan Belarusia yang dipimpin Aleksander Lukashenko yang dianggap sebagai “boneka” Presiden Vladimir Putin. Rusia dilaporkan telah memperkuat kubu-kubunya di sana. Sedangkan di sebelah barat Lithuania terletak Kaliningard kubu militer Rusia yang mengawasi sisi tenggara Eropa.

Penetapan wajib militer ini sekaligus bertujuan untuk mencegah apa yang terjadi di Krimea saat prajurit-prajurit Rusia berhasil menyusup ke Krimea tanpa menggunakan lambang militer, dan menimbulkan kekacauan di Sevastopol yang memicu referendum Krimea.

Analis senior dari Lithuania di Pusat Studi Eropa Timur, Marius Laurinavicius, justru mengkhawatirkan serangan konvensional dari Kaliningard. “Mereka (Kremlin) membutuhkan koridor dari Kaliningard ke daratan Rusia. Seperti halnya mereka membutuhkan koridor dari Krimea ke Donbas,” kata Marius, seperti dikutip dari Reuters, Senin (23/3).

Kaliningard telah lama menjadi garis depan Rusia untuk menghadapi negara Barat. Meski begitu, negara-negara Uni Eropa tetap beranggapan Rusia tidak akan berani menyerang negara anggota NATO. Menanggapi pernyataan itu, Marisu mengatakan negara Barat melakukan kesalahan jika melihat Putin dengan kacamata mereka. “Putin percaya NATO tidak akan mempertahankan, beberapa negara yang tidak penting, dengan risiko menghadapi perang nuklir,” jelas Marius.

Muncul dugaan bahwa Rusia akan menggunakan penduduk etnis Rusia yang ada di Lithuania sebagai alasan untuk melakukan invasi, seperti yang dilakukan di Krimea dan Donbas. Tapi jika dibandingkan dengan Latvia dan Estonia, jumlah etnis Rusia di Lithuania jauh lebih kecil. Saat ini Lithuania bersiap untuk kemungkinan terburuk.

Sebelumnya Rusia mengancam akan meledakkan kapal perang Denmark dengan misil nuklirnya begitu Denmark resmi bergabung dengan pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). "Saya pikir Denmark tidak sepenuhnya paham konsekuensi jika Denmark bergabung dengan pasukan misil pelindung yang dipimpin Amerika Serikat," kata Duta Besar Rusia untuk Denmark, Mikhail Vanin, kepada Jyllands Posten.

Vanin menegaskan, jika bergabung dengan NATO, Denmark menjadi ancaman bagi Rusia dan hubungan bilateral kedua negara akan hancur. Denmark, ancam Vanin, juga akan kehilangan uang dan keamanannya. Pernyataan Vanin yang secara terang-terangan itu membuat Menteri Luar Negeri Denmark Martin Lidegaard marah. "Ini sungguh tidak dapat diterima," ujarnya.

Menurut Martin, Rusia tahu persis sistem pertahanan misil NATO adalah upaya pertahanan. "Kami tidak setuju akan banyak hal penting dengan Rusia, tapi hal penting adalah nada keduanya harus tetap sepositif mungkin," tuturnya.

Pernyataan Vanin muncul delapan bulan setelah Denmark menyatakan akan bergabung dengan sistem pertahanan misil NATO. Menteri Pertahanan Denmark Nicolai Wammen berusaha mencairkan ketegangan dengan Rusia. Nicolai menyatakan Rusia bukan target kerja sama NATO. Kerja sama ini ditujukan kepada organisasi-organisasi teroris dan ancaman yang bermaksud menyerang Eropa dan Amerika Serikat. (okz/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru