Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Iran Kirim 30 Ribu Bala Tentara ke Irak

* AS Waspadai Ancaman ISIS di Internet
- Selasa, 24 Maret 2015 12:37 WIB
267 view
Iran Kirim 30 Ribu Bala Tentara ke Irak
Baghdad (SIB)- Otoritas Kurdi di Irak menuduh Iran mengirimkan 30.000 bala tentara dan ahli militer guna bertempur melawan kelompok bersenjata Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Shakhawan Abdullah, Kepala Keamanan Parlemen dan Komite Pertahanan Irak, mengatakan kepada Al Jazeera, Minggu (22/3), pasukan Iran sedang beroperasi di sejumlah Kota Irak dan bertempur di tanah Irak.

Abdullah mengatakan kehadiran pasukan Iran melampui jumlah penasihat dan ahli militer. "Mereka bertempur di bawah panji Pasukan Mobilisasi Popular." Pasukan Mobilisasi Popular adalah organisasi payung bagi kelompok bersenjata Syiah yang berjumlah 100 ribu orang di Irak. Namun demikian, tudingan itu, termasuk tuduhan dari Amerika Serikat, berkali-kali dibantah oleh Iran.

Pada Agustus 2014, Iran didakwa mengirimkan ratusan pasukan untuk mengabil alih Kota Jalawla dari kelompok bersenjata ISIS. Sedangkan pada Desember 2014, AS menuduh jet tempur F-4 Iran telah membombardir markas pertahanan ISIS di Provinsi Diyala.

Laskar Syiah juga dituding membunuh puluhan warga sipil karena dianggap membantu ISIS sejak kelompok bersenjata itu menguasai wilayah di Irak dan Suriah guna mendirikan kekhalifanan (pemerintahan) di dua negara tersebut.

Sementara militer Amerika Serikat mendesak penerapan "kewaspadaan" setelah kemunculan ancaman di internet yang diduga berasal dari kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS terhadap 100 serdadunya. Daftar nama dan alamat para serdadu tersebut dicantumkan pada situs internet kelompok tersebut. Ada pula ajakan membunuh personel militer AS.

Seorang pejabat keamanan Amerika mengatakan kepada media negara itu, "Saya tidak bisa memastikan kesahihan informasi, tetapi kami sedang menyelidikinya. " Kelompok terkait ISIS mendapatkan informasi lewat peretasan server dan database, tetapi para pejabat AS mengatakan sebagian besar data berada di ranah publik.

Sumber keamanan Amerika mengatakan kepada BBC bahwa pihak-pihak yang berada di daftar tersebut akan dihubungi. Di sisi lain, Divisi Peretasan ISIS mengatakan orang-orang yang namanya dalam daftar telah ikut serta dalam misi AS melawan ISIS. Mereka mendesak para pendukung di AS untuk "mengambil langkah terakhir" dan "menangani" pihak-pihak yang disebutkan namanya.

Sementara itu beberapa orang yang tidak setuju dengan ISIS sedang membuat sebuah daftar teroris ISIS paling dicari. Peringkat teratas dari daftar tersebut adalah seorang ulama yang disebut ‘Penjagal dari Nineveh.’ Sang jagal adalah seorang pria berusia sekira 60 tahun dengan janggut putih lebat dan jubah hitam. Dia menjadi sosok yang memerintahkan hukuman mati bagi puluhan penduduk Irak di Raqqa yang dianggap melanggar peraturan-peraturan yang terdapat dalam hukum syariah.

Dalam tiga eksekusi terakhir yang dilakukan ISIS, sang jagal memimpin pelaksanaannya. Dia ada saat seorang perempuan dirajam hingga tewas karena melakukan perselingkuhan, dia juga tampak saat ISIS mengeksekusi dua orang karena perampokan, begitu juga saat militan ISIS memenggal tiga orang pria karena dugaan mereka adalah homoseksual. Berbeda dengan para algojo ISIS lainnya, sang jagal tidak repot menyembunyikan wajahnya.

“Kami berusaha mengidentifikasi identitas sang jagal di seluruh Suriah dan Irak, agar jika saatnya tiba dan kami telah bebas dari penindasan mereka, keadilan dapat ditegakkan,” kata salah seorang dari kelompok penentang tersebut.

“Saat ini, kami hanya mengenalnya dengan julukan tukang jagal dari Nineveh, tapi kami akan segera mengungkap identitasnya,” tambahnya lagi. Jagal dari Nineveh juga dianggap bertanggung jawab atas pemotongan tangan bagi para pencuri serta hukuman kepada tiga orang pria dengan cara melemparkan mereka dari atas gedung atas tuduhan homoseksualitas.

Sebuah tim PBB saat ini, tengah membuat sebuah daftar pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan kelompok militan ISIS di wilayah tersebut. Lebih dari 200 ribu penduduk sipil telah terbunuh selama konflik di Timur Tengah dan jutaan orang terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka. (BBC/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru