Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Di Ambang Perang Saudara, Yaman Minta Bantuan

* Menlu Saudi: Negara Arab akan Hentikan Agresi Syiah Houthi
- Rabu, 25 Maret 2015 12:57 WIB
335 view
Di Ambang Perang Saudara, Yaman Minta Bantuan
Sanaa (SIB)- Konflik di Yaman kian memanas. Menteri Luar Negeri Yaman Riyadh Yaseen meminta negara-negara Teluk Arab melakukan intervensi militer di Yaman, guna menghentikan aksi milisi Syiah Houthi yang terus menguasai wilayah-wilayah di negeri itu.

"Mereka bertambah luas dalam hal wilayah, menduduki bandara-bandara dan kota-kota, menyerang Aden dengan pesawat-pesawat, menahan siapapun yang mereka mau, mengancam dan mengumpulkan pasukan mereka," tutur Yaseen dalam wawancara dengan media Al-Jazeera seperti dilansir kantor berita Reuters, Selasa (24/3).

"Kami telah menyampaikan pada Dewan Kerjasama Teluk, PBB serta komunitas internasional bahwa seharusnya ada zona larangan terbang, dan penggunaan pesawat militer harus dicegah di bandara-bandara yang dikuasai Houthi," tandasnya. Sebelumnya, sebagian kota terbesar ketiga Yaman, Taiz, telah diduduki oleh pemberontak Syiah Houthi. Bandara kota tersebut merupakan salah satu daerah yang direbut oleh pemberontak Houthi.

Saat ini kekerasan antara kelompok bersenjata di Yaman, seperti Houthi, al-Qaeda, dan militan ISIS semakin meningkat. Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi yang dilengserkan oleh Houthi pada Februari silam, telah melarikan diri dari ibukota Sanaa ke kota Aden di Yaman selatan.

Sementara itu, Dewan Keamanan PBB telah menggelar sidang darurat terkait situasi keamanan di Yaman pada Minggu, 22 Maret waktu setempat. Sebelumnya, para pemberontak Houthi mendeklarasikan pemerintahan baru pada Februari lalu untuk menggantikan pemerintahan Presiden Hadi.

Houthi merupakan kelompok minoritas Syiah dan deklarasi mereka tak diakui oleh kelompok Sunni dan para pemimpin di wilayah selatan. Hadi sendiri telah menyerukan agar para pemberontak menarik anggotanya dari Sanaa, namun Houthi malah menyerukan mobilisasi untuk melawan pasukan presiden.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud al-Faisal, mengatakan negara-negara Arab akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga wilayah tersebut dari agresi kelompok Syiah Houthi yang bersekutu dengan Iran. Hal ini akan dilakukan jika solusi damai tak bisa dicapai atas konflik yang tengah melanda Yaman.

Saat ini di Yaman tengah terjadi perebutan kekuasaan antara kubu Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi dan kelompok pemberontak Syiah Houthi. Setelah berhasil menguasai ibukota Sanaa, pemberontak Houthi mendeklarasikan pemerintahan baru pada Februari lalu untuk menggantikan pemerintahan Presiden Hadi.

Houthi merupakan kelompok minoritas Syiah dan deklarasi mereka tak diakui oleh kelompok Sunni dan para pemimpin di wilayah selatan. Hadi sendiri telah menyerukan agar para pemberontak menarik anggotanya dari Sanaa, namun Houthi malah menyerukan mobilisasi untuk melawan pasukan presiden. Saat ini, Houthi bahkan terus menguasai wilayah-wilayah lain di Yaman.

Ketika ditanya apakah pemerintah Saudi akan memberikan bantuan militer pada Presiden Hadi, Pangeran Saud berkata: "Tentu saja, negara-negara di wilayah ini dan dunia Arab akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi wilayah ini dari agresi."

Hal tersebut disampaikan Pangeran Saud dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond di Riyadh, Saudi. Saud pun mengulang ajakan bagi semua faksi-faksi berseteru di Yaman, termasuk Houthi, untuk mengikuti pembicaraan damai yang akan digelar di Saudi.

"Komunitas internasional tak akan berdiam diri sementara pasukan Houthi dan para pemain lainnya terus mengganggu stabilitas di Yaman dan berusaha memecah negara itu, serta mengganggu presiden legalnya," ujar Saud. Namun ditambahkannya: "Tak ada dari kami yang ingin melihat aksi militer."

Saud juga berbicara mengenai peran pemerintah Iran yang mendukung kelompok Houthi. Ditegaskannya, dirinya menentang intervensi Iran dan mengecam apa yang disebutnya sebagai upaya Iran untuk memicu konflik sektarian di negara-negara Arab. (Detikcom/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru