Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Arab Saudi Tegaskan akan Terus Gempur Houthi

* Negara-negara Arab Sepakat Bentuk Pasukan Persatuan Arab
- Sabtu, 28 Maret 2015 15:25 WIB
294 view
Arab Saudi Tegaskan akan Terus Gempur Houthi
Sanaa (SIB)- Pesawat-pesawat tempur koalisi yang dipimpin Arab Saudi terus menyerang pemberontak Syiah Houthi, Jumat (27/3), untuk mendukung Presiden Yaman, yang telah menuju pertemuan puncak Arab guna menggalang dukungan. Sementara itu, Iran memperingatkan bahwa intervensi tersebut "berbahaya".

Ledakan keras mengguncang Kota Sanaa segera setelah pemimpin pemberontak Abdulmalik al-Huthi mengecam intervensi tersebut sebagai "tidak dibenarkan" dan menyerukan kepada para pendukungnya untuk menghadapi "agresi" itu.

Juru bicara koalisi operasi militer, Ahmed Assiri, mengatakan saat ini belum ada rencana untuk mengerahkan pasukan darat guna bertempur memerangi pemberontak Houthi di Yaman. "Namun jika diperlukan adanya pasukan darat, Arab Saudi dan negara-negara sahabat siap dan akan merespons setiap agresi dalam bentuk apapun," tandas Assiri. Ditegaskan Assiri, koalisi tak akan membiarkan pasokan apapun mengalir ke para pemberontak Houthi dan tak ada pihak yang akan dibiarkan mendukung pemberontakan Houthi.

Di hari pertama serangan militer Saudi dkk, sistem-sistem pertahanan antipesawat, rudal dan posisi artileri Houthi berhasil dihancurkan. Puluhan orang pun tewas termasuk para pemberontak Houthi dan warga sipil Yaman. Ditambahkan Assiri, operasi militer ini akan terus dilakukan selama diperlukan, hingga legitimasi Presiden Abedrabbo Mansour Hadi dan pemerintahannya kembali pulih di Yaman.

Televisi pemberontak, Al-Massira, mengatakan, pertahanan anti-pesawat ditembakkan setelah sejumlah pesawat tempur menghantam sejumlah target baru di sekitar ibukota. Sejumlah saksi mata mengatakan, serangan udara menyasar pangkalan militer Al-Samaa di utara Sanaa, dan kamp Al-Istiqlal, di tepi barat ibukota itu. Seorang koresponden AFP mengatakan, ledakan terdengar di Sanaa saat pesawat tempur menghantam pangkalan udara yang berdekatan dengan bandara internasional dan lokasi lainnya.

Warga pun lari keluar dari Sanaa untuk mencari daerah yang aman. "Saya akan berangkat dengan keluarga saya. Sanaa tidak aman lagi," kata seorang warga, yang hanya menyebut namanya sebagai Mohammed, saat ia menumpuk barang-barangnya ke dalam sebuah minibus.

Seorang pejabat kementerian kesehatan mengatakan, 20 orang tewas dan 33 lainnya luka-luka dalam serangan hari Kamis. Pejabat itu mengatakan, korban tewas disebabkan serangan udara yang melanda daerah Al-Nasr dan Bani Hawat, di utara Sanaa.

Presiden Yaman, Abedrabbo Mansour Hadi, tiba di Riyadh, Kamis (26/3). Sejumlah pejabat mengatakan, ia dalam perjalanan ke Mesir untuk ikut serta dalam pertemuan puncak Liga Arab yang digelar selama dua hari pada akhir pekan ini.

Itu merupakan konfirmasi pertama tentang keberadaan Hadi sejak pemberontak pada minggu ini mulai menggempur Kota Aden yang terletak di selatan negara itu. Hadi telah bersembunyi Aden sejak melarikan diri dari Ibukota Sanaa yang dikuasai para pemberontak bulan lalu.

Gerak maju pemberontak Huthi menimbulkan ketakutan Saudi bahwa para kelompok pemberontak Syiah itu akan menguasai seluruh wilayah tetangganya yang penduduknya mayoritas sunni itu dan membawa negara itu ke dalam orbit Syiah Iran.

Gedung Putih telah menyuarakan keprihatinan terkait "laporan tentang aliran senjata Iran ke Yaman" saat koalisi yang dipimpin Saudi menyatakan gelombang pertama serangannya "sukses" dan bersumpah untuk mencegah pasokan senjata itu mencapai para pemberontak. Ketika berbicara kepada wartawan di Ibukota Saudi, Juru Bicara Pemerintah Saudi, Ahmed Assiri, mengatakan bahwa tidak ada rencana untuk mengerahkan pasukan darat ke Yaman.

Arab Saudi melancarkan serangan udara menjelang fajar pada hari Kamis. Saudi mengatakan, pihaknya telah membentuk koalisi yang terdiri lebih dari 10 negara, termasuk lima kerajaan di Teluk. Duta Besar Saudi untuk AS, Adel al-Jubeir, mengatakan koalisi itu siap untuk melakukan "apa pun" guna melindungi pemerintahan Hadi.

Namun Iran bereaksi marah dengan mengecam intervensi itu sebagai "sebuah langkah berbahaya" yang melanggar "tanggung jawab internasional dan kedaulatan nasional". Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengatakan serangan itu setara "agresi militer" dan "mengecam semua intervensi militer dalam urusan internal negara-negara merdeka".

Bentuk Pasukan Persatuan Arab
Sementara itu para menteri luar negeri Arab sepakat untuk membentuk pasukan persatuan Arab untuk tindakan cepat. "Ini adalah kemajuan sangat besar dan tindakan bersejarah dalam hal kegiatan gabungan Arab bahwa pasukan persatuan Arab akan dibentuk untuk pertama kali dan beroperasi atas nama negara Arab," , kata pemimpin Liga Arab Nabil Al-Arabi dalam taklimat bersama Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shukry, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat (27/3).

Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuan persiapan menteri luar negeri Arab di Kota Sharm-esh-Sheikh di tepi Laut Merah di Mesir. Selama pertemuan tersebut krisis Yaman dan "serangan pimpinan Arab Saudi" terhadap gerilyawan Al-Houthi di Yaman menjadi topik utama.

Al-Arabi menyatakan ia diberi tugas untuk mengundang para kepala staf militer Arab dalam waktu satu bulan untuk pertemuan pembentukan pasukan militer persatuan Arab. Ia menambahkan tindakan tersebut dilandasi atas Kesepakatan Pertahanan Bersama Arab, yang ditandatangani pada 1950.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shukry, mengatakan pasukan persatuan militer Arab yang direncanakan tersebut akan bekerja "sesuai dengan kerangka kerja yang mendukung pemeliharaan persatuan nasional Arab". Shukry menambahkan tak ada silang-pendapat di kalangan menteri luar negeri Arab mengenai pembentukan blok militer Arab itu, yang akan mampu "bertindak cepat" terhadap mereka yang melawan keabsahan.

Ia mengatakan situasi di Yaman telah dibahas dalam sidang khusus yang diselenggarakan oleh para menteri luar negeri Arab pada Kamis pagi. Shukry juga menyampaikan dukungan bagi "serangan militer pimpinan Arab Saudi" di Yaman. (Detikcom/Ant/Xinhua/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru