Mandalay (SIB)- Pemilihan Umum (Pemilu) Myanmar yang digelar, Minggu (9/11) disebut yang paling demokratis pertama selama 25 tahun. Meski dibayangi isu sektarian soal Rohingya, warga Myanmar dari berbagai agama berbaur mengikuti pemilu bersejarah tersebut. Seperti dalam jepretan wartawan foto Reuters di salah satu Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Mandalay, Myanmar, warga Muslim, Buddha dan Hindu berbaur mengantre untuk memberikan hak suaranya. Bahkan warga muslim ikut antre untuk memilih pada TPS yang bangunan aslinya adalah wihara Buddha di Mandalay.
Di lokasi pengungsi Rohingya di Sittwe, disediakan TPS bagi warga Rohingnya yang mengantongi kartu kependudukan (citizen card). Warga Rohingya yang berhak memilih dan mengantongi kartu kependudukan itu adalah harapan di tengah pemerintah Myanmar yang menghilangkan hak pilih ratusan dari ribuan warga Rohingya di bagian barat Myanmar.
Suara warga Myanmar akan menentukan siapa di antara 6.000 kandidat dari lebih 90 partai yang mengisi 664 kursi parlemen, demikian dilansir BBC. Dari 6.000 kandidat dari lebih 90 partai yang memperebutkan 664 kursi parlemen, hanya ada selusin kandidat muslim yang bertanding, utamanya dari Partai United National Congress (UNC).
Tokoh dari UNC tersebut adalah Khin Maung Thein. "Muslim telah menderita di Myanmar untuk beberapa tahun terakhir, dan ini mendorong kami untuk bisa ke parlemen," tutur Khin Maung Thein (71), seperti dilansir Reuters edisi 1 November 2015 lalu.
Tak mudah bagi Khin untuk berkampanye di daerah Mandalay, daerah pilihan Khin yang mayoritas warganya beragama Buddha. Gerakan Buddha ultranasionalis Ma Ba Tha yang dipimpin para biksu dengan gerakan memboikot bisnis warga muslim dan melarang pernikahan beda agama sangat berpengaruh di kota-kota besar di Myanmar.
Populasi warga muslim sekitar 5 persen dari 51 juta total populasi Myanmar. Kekerasan sektarian berlatar belakang agama sudah menewaskan ribuan orang, mayoritas Muslim sejak 2011. Bentrokan antara warga Buddha dan Muslim di Mandalay pada 2014 lalu menewaskan 2 orang dan membuat warga muslim menjadi tersudut dan marjinal. Apalagi, Mandalay, adalah kota basis gerakan Ma Ba Tha yang dipimpin biksu Ashin Wirathu yang menyebut dirinya "Bin Laden dari Myanmar" yang dinilai anti-Muslim.
Khin, satu-satunya kandidat anggota parlemen di Mandalay, kota kedua terbesar di Myanmar, mengatakan bahwa pemilu ini adalah kesempatan untuk mengembalikan harga diri etniknya. Khin mengidentifikasikan dirinya sebagai Pathi, kelompok muslim berdarah Persia dan sudah tinggal selama berabad-abad di Myanmar. Khin juga mempromosikan kebijakan UNC seperti mengurangi anggaran militer dan mengalihkannya kepada bidang pendidikan.
Khin juga tak mudah untuk berkampanye di ruang-ruang publik di Mandalay. Pada Juli 2015 lalu, polisi menangkap 3 warga, 2 di antaranya muslim, kala pertemuan antaragama dihelat karena dinilai berkampanye kotor pada gerakan Ma Ba Tha. Seorang aktivis muslim memberitahu Reuters bahwa dia menerima ancaman mati. Bahkan muslim di sekitar Mandalay mengungkapkan bahwa mereka takut keluar rumah di malam hari dan berhenti bepergian dalam kelompok besar karena takut ditangkap.
Khin sendiri, satu-satunya kandidat anggota parlemen Muslim di Mandalay, hanya berkampanye di masjid-masjid daripada di jalanan karena khawatir ancaman dari kelompok Ma Ba Tha. "Saya tak bisa mengadakan kampanye terbuka," tutur Khin.
Suu Kyi Dielu-elukan
Aung San Suu Kyi, pimpinan partai oposisi Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Suu Kyi pun dielu-elukan rakyat Myanmar yang ada di TPS itu. Suu Kyi datang ke TPS yang adalah gedung sekolah di Yangon, Minggu (9/11) pagi. Dia turun dari mobil dan terlihat dikawal beberapa orang. Para pengawal meneriaki rakyat Myanmar yang berkerubung untuk memberi jalan bagi Suu Kyi.
Memakai blus merah marun, Suu Kyi menunjukkan wajah datar, tak ada senyum ataupun lambaian tangan. Ekspresi Suu Kyi begitu terus meski rakyat Myanmar yang ada di TPS itu mengelu-elukan dan para wartawan foto mengabadikannya dengan kamera, demikian seperti dilansir Reuters.
Rakyat Myanmar sendiri antusias mengantre di TPS sejak pagi. Mereka berharap ada titik balik dengan diadakannya Pemilu ini. "Saya sudah melakukan tugas saya untuk perubahan, bagi munculnya demokrasi. Saya harap peristiwa bersejarah ini semuanya berjalan baik ," tutur seorang guru Daw Myint (55), setelah memberikan suaranya untuk NLD.
Namun, ada juga nada pesimis seperti dilontarkan Khin May Oo (73). Dia berharap ada titik balik perubahan dengan pemilu ini namun dia khawatir akan dominasi militer. "Saya tak yakin mereka akan menerima hasil pemilu," tuturnya. Pada pemilu Myanmar tahun ini, sekitar 30 juta orang terdaftar untuk memilih. Suara mereka akan menentukan siapa di antara 6.000 kandidat dari lebih 90 partai yang mengisi 664 kursi parlemen.
Partai Persatuan Pembangunan Solidaritas (USDP), yang telah berkuasa sejak 2011 dan disokong militer, ialah salah satu partai yang diperkirakan bakal meraup banyak suara. Pesaingnya ialah partai oposisi Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi. Namun, 25% dari seluruh kursi tersebut telah dialokasikan untuk perwakilan militer. Besar kemungkinan mereka akan berpihak pada USDP. Untuk bisa menjadi mayoritas sekaligus mengalahkan USDP, NLD dan partai-partai oposisi harus meraih 67% dari semua kursi di parlemen.
NLD diduga akan meraih kemenangan besar dalam pemilu, walaupun Suu Kyi tidak bisa menjadi presiden karena konstitusi negara itu -yang dirancang rezim militer- melarangnya. Dalam ketentuan itu, seseorang tidak bisa menjadi presiden jika menikah dengan orang asing dan juga memiliki anak orang asing. Sekadar catatan, suami Suu Kyi ialah mendiang Michael Aris, sejarawan asal Inggris. Pasangan tersebut memiliki dua putra. (Rtr/dtc/c)