Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 05 September 2026

Keturunan Indonesia Jadi Miliarder di Singapura karena Tulang

- Senin, 09 November 2015 14:06 WIB
534 view
Keturunan Indonesia Jadi Miliarder di Singapura karena Tulang
Cliff Hartono
Karier Cliff Hartono, managing director perusahaan pengelola keuangan Three Arrows Capital yang berbasis di Singapura tergolong unik. Pada September 2012, dia masih duduk di depan 6 layar komputer berjualan produk investasi jenis exchange-traded funds (ETF) untuk Credit Suisse Group di Canary Wharf, London. Satu bulan kemudian di tahun yang sama, dia berdiri di sebuah bukit di Wyoming, Amerika Serikat yang menjadi pusat penggalian benda-benda purbakala. Ya, Hartono kini juga menjadi seorang kolektor dan penjual fosil.

Aktivitas barunya selain di sektor keuangan itu bermula saat dia berkunjung ke Natural History Museum di London. Pria 27 tahun ini menjadikan Wyoming sebagai sumber utama penggalian fosilnya. Lokasi lainnya adalah di Jerman yang menjadi tempat dia dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orangtuanya yang berasal dari Indonesia. Saat bersama para penggali fosil di Wyoming, Hartono teringat ketika salah satu dari mereka berkata, “Hai, Nak, apakah ini pertama kalinya kamu memegang palu godam?” Saat itu Hartono menjawab, “Benda terberat yang aku angkat bulan lalu adalah mouse komputer.” Dari kantornya di Singapura, Hartono telah menciptakan ceruk pasar baru di dunia perfosilan dengan menjadikannya sebagai barang seni dan dekorasi rumah yang cantik.

Salah satu koleksinya berupa fosil reptil laut, Ichthyosaurus pada periode Jurassic, yang dijualnya sekitar US$ 140.000 (Rp 1,91 miliar). Fosil tersebut kabarnya berusia antara 20 juta hingga 230 juta tahun. Seorang peselancar yang berdedikasi, Hartono mengejar bisnisnya dengan penuh semangat tanpa henti dengan mengutip peselancar lengedaris Mark Foo: “Jika kamu ingin naik gelombang yang besar, kamu harus bersedia membayar dengan pengorbanan yang besar pula.” (Dream.co.id/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru