Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 06 September 2026
Erdogan Tegaskan Tidak Akan Minta Maaf

Turki Siagakan 20 Tank dan 18 Jet Tempur di Perbatasan Suriah

* Rusia Serukan Warganya yang Berada di Turki Segera Pulang
- Sabtu, 28 November 2015 11:48 WIB
894 view
Turki Siagakan 20 Tank dan 18 Jet Tempur di Perbatasan Suriah
SIB/AP
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri depan) mendengarkan penjelasan kepala Ural Transport Machine Building Design Bureau, Andrei Terlikov saat mengunjungi pabrik perakitan kendaraan tempur Rusia, Rabu (25/11) kemarin. Terus berlanjutnya ketegangan Moskow-A
Ankara (SIB)- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan tidak akan minta maaf kepada Rusia usai menembak jatuh pesawat tempurnya. Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan pihaknya menunggu permintaan maaf dari Turki. "Saya pikir jika ada pihak yang perlu meminta maaf, jelas bukan kami," tegas Erdogan dalam wawancara khusus dengan CNN di Ankara, Jumat (27/11).

"Mereka yang melanggar wilayah udara kami merupakan pihak yang perlu meminta maaf. Pilot-pilot dan angkatan bersenjata kami, mereka hanya menjalankan tugas mereka, termasuk merespons pelanggaran aturan keterlibatan. Saya pikir ini penting," imbuhnya.

Menyikapi situasi pasca insiden penembakan jet tempur Rusia, Turki menempatkan 20 tank di perbatasan dengan Suriah ketika ketegangan dengan Rusia berlanjut. Sumber militer di Turki mengatakan, tank-tank tersebut dibawa menggunakan kereta api ke barikade lapis besi di perbatasan barat dengan Suriah.

"Dikawal polisi dan polisi militer, 20 tank dikirim dengan kereta api dari provinsi barat Turki menuju Gaziantep di selatan Turki, kemudian dibawa langsung menuju perbatasan Suriah," kata seorang sumber militer kepada media Turki, Anadolu.

Sejumlah laporan juga menyatakan, 18 jet tempur Turki dikirimkan untuk berpatroli di dekat perbatasan. Ankara dan Moskow mengalami ketegangan pasca-penembakan jet tempur Rusia. Jet tempur Su-24 Rusia ditembak saat menyasar teroris di Provinsi Latkia, Suriah. Putin mengecam penembakan tersebut. Dia merasa Turki sudah menusuk dari belakang dan menyebut negara yang dipimpin Recep Tayyip Erdogan itu sebagai antek teroris.

Di lain pihak, presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan Turki akan bertindak berbeda jika mengetahui bahwa pesawat tempur yang melanggar wilayah udaranya merupakan pesawat Rusia. Turki menembak jatuh pesawat itu setelah beberapa kali peringatan diabaikan. "Jika kami mengetahui bahwa itu pesawat Rusia, mungkin kami akan memperingatkannya secara berbeda," tutur Erdogan kepada media setempat, France 24 dan dilansir AFP, Jumat (27/11).

Namun dia tidak menjelaskan lebih lanjut peringatan berbeda yang dimaksud. Pernyataan Erdogan ini disampaikan setelah militer Turki menyatakan, saat kejadian pada Selasa (24/11) lalu, pihaknya tidak mengetahui dua pesawat jenis Su-24 yang melanggar wilayah udaranya tersebut merupakan milik Rusia.

Erdogan juga mengungkapkan, Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menjawab teleponnya, Selasa (24/11) setelah penembakan terjadi. Insiden ini memperburuk hubungan antara kedua negara. "Saya menelepon Putin, tapi hingga sekarang beliau tidak pernah menjawab telepon saya," ucapnya.

Putin Tepis Klaim Ketidaktahuan Turki

Presiden Rusia Vladimir Putin menepis klaim Turki bahwa mereka tidak tahu pesawat yang ditembak jatuh di perbatasan Suriah merupakan milik Rusia. Putin berkeras bahwa pesawat-pesawat Rusia mudah dikenali dan koordinat penerbangan pesawat tempur telah diberikan kepada Amerika Serikat, yang merupakan sekutu Turki. Karena itu, kata Putin, mustahil Turki tidak mengetahui bahwa pesawat Su-24 yang ditembak pada ketinggian 6.000 meter dengan rudal udara ke udara oleh pesawat tempur F-16 Turki, sekitar satu kilometer dari perbatasan Turki, ialah milik Rusia.

"Sebagaimana diatur dalam kesepakatan dengan AS, kami memberi informasi di mana pesawat kami beroperasi, di ketinggian berapa dan di area mana saja. Turki adalah bagian dari koalisi dan mereka pasti tahu bahwa itu adalah pesawat tempur Rusia. Jika itu pesawat Amerika, akankah mereka menembak?"

Ucapan Putin mengemuka setelah Presiden Turki Recep Tayyp Erdogan berkomentar melalui stasiun televisi France24. Meski menolak minta maaf, Erdogan mengaku militer Turki tidak tahu pesawat yang ditembak kepunyaan Rusia. "Jika kami tahu itu adalah pesawat Rusia, mungkin kami memperingatkan dengan cara berbeda," kata Erdogan. Insiden pesawat yang ditembak bakal mempengaruhi hubungan Rusia dan Turki. Sebelumnya, Turki merilis rekaman suara berisi peringatan kepada pesawat Rusia. Dalam rekaman itu, terdapat suara berbahasa Inggris yang mengatakan, "Ubah arah Anda ke selatan secepatnya." Karena peringatan tidak digubris, pesawat-pesawat F-16 milik Turki menembaki pesawat Rusia itu.

Akan tetapi, salah satu pilot Rusia yang selamat menegaskan dirinya tidak mendapat peringatan sama sekali baik melalui radio maupun secara visual. Rusia menyebut rekaman audio itu palsu. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, bahkan menyebut penembakan pesawat tempur Rusia ini tidak tampak seperti insiden spontan. "Melainkan seperti provokasi terencana," tudingnya.

Atas kejadian itu, Rusia akan memberikan sanksi kepada Turki. Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev berkata fokus sanksi ada pada "pembatasan atau pelarangan" kepentingan ekonomi Turki di Rusia serta "pembatasan pasokan" produk, termasuk makanan. Sektor yang akan terpengaruh, kata Medvedev, adalah pariwisata, transportasi, perdagangan, tenaga kerja, bea cukai dan "hubungan kemanusiaan".

Sebut AS Tahu Rute Jet Tempur yang Ditembak Jatuh

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut Amerika Serikat tahu jalur penerbangan pesawat tempur jenis Su-24 yang ditembak jatuh Turki. Putin menyatakan pihaknya telah memberi informasi awal soal jalur pesawat itu ke AS yang juga melancarkan operasi di Suriah. "Pihak Amerika, yang memimpin koalisi militer tempat Turki bergabung, tahu soal lokasi dan jadwal waktu penerbangan pesawat-pesawat kami, dan kami ditembak tepat di sana dan pada saat itu," ujar Putin dalam konferensi pers gabungan dengan Presiden Prancis Francois Hollande di Kremlin, seperti dilansir AFP, Jumat (27/11).

Pernyataan Putin ini terkait dengan nota kesepahaman Rusia dan AS yang ditandatangani pada Oktober lalu, untuk meminimalkan risiko kontak antara pesawat-pesawat kedua negara di wilayah udara Suriah.

Putin juga membantah klaim Turki soal pihaknya yang tidak akan menembak jatuh pesawat tempur itu, jika tahu sejak awal pesawat itu milik Rusia. "Mereka (pesawat Rusia) memiliki tanda identifikasi dan semuanya jelas terlihat. Bukannya memastikan insiden seperti ini tidak akan terjadi lagi, kami malah mendengar penjelasan yang tidak bisa dipahami dan pernyataan soal tidak perlu meminta maaf," ucapnya.

Lebih lanjut, Putin menuding Turki membeli minyak dari kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), yang selama ini memang mengandalkan pemasukan dari sektor energi. Putin menyatakan, tidak ada keraguan bahwa minyak-minyak dari wilayah Suriah yang dikuasai ISIS dibawa melintasi perbatasan Turki.

"Kami melihat dari udara ke mana kendaraan-kendaraan (yang membawa minyak) ini bergerak. Mereka bergerak ke Turki siang dan malam. Barel-barel ini tidak hanya membawa minyak, tapi juga darah warga kami karena dengan uang ini teroris membeli senjata dan amunisi kemudian melakukan serangan mematikan," tudingnya.

Rusia Serukan Warganya di Turki Segera Pulang

Kementerian Luar Negeri Rusia menyerukan warganya yang saat ini tengah berada di Turki agar segera kembali pulang ke tanah air. Seruan ini disampaikan di tengah ketegangan dengan Turki akibat penembakan pesawat Rusia oleh jet tempur F-16 Turki.

"Sehubungan dengan ancaman teroris yang ada di wilayah Turki, kami sekali lagi merekomendasikan agar warga negara Rusia tidak mengunjungi Turki, dan merekomendasikan warga Rusia yang berada di sana untuk tujuan pribadi agar kembali pulang," demikian statemen Kementerian Luar Negeri Rusia seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (27/11).

Sebelumnya pada Selasa (24/11), Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengeluarkan seruan bagi warga Rusia untuk tidak pergi ke Turki. Lavrov pun membatalkan rencana kunjungannya ke Istanbul untuk melakukan pembicaraan bilateral. Menurut kantor berita Rusia, Interfax, ada sekitar 10 ribu turis Rusia di Turki, yang merupakan destinasi liburan populer bagi warga kelas menengah Rusia. (CNN/AFP/dtc/R17/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru