Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 06 September 2026

Sungai Tercemar Limbah Arsenik, Brasil Tuntut Perusahaan Tambang Rp 71,5 T

- Minggu, 29 November 2015 15:28 WIB
332 view
Sungai Tercemar Limbah Arsenik, Brasil Tuntut Perusahaan Tambang Rp 71,5 T
Rio de Janeiro (SIB)- Perusahaan tambang Samarco bersama BHP Billiton PLD, dan Vale SA, dituntut pemerintah Brasil atas tuduhan kelalaian menyebabkan kerusakan lingkungan. Bendungan penampungan limbah mereka di Minas Gerais, Mariana, jebol, memicu 60 juta kubik meter bahan buangan hasil tambang mencemari hulu Sungai Rio Doce, sampai muaranya di Samudra Atlantik. Kawasan tercemar ditaksir sepanjang 800 kilometer.

Kantor Berita AFP melaporkan, Sabtu (28/11), tuntutan pemerintah Brasil ini termasuk perusahaan wajib membersihkan kembali Sungai Rio Doce, serta memperbaiki bendungan yang rusak. Nilai ganti ruginya 20 miliar Reais (setara Rp 71,5 triliun). "Ini bukan bencana alam. Pencemaran sungai ini dipicu kegiatan ekonomi tapi daya rusaknya sama seperti kerusakan alam," kata Menteri Lingkungan Brasil Izabella Teixeira.

Hasil kajian perusahaan air minum Minas Gerais menunjukkan kualitas air Rio Doce sangat buruk. Terdapat tujuh titik aliran sungai yang kini mengandung arsenik berbahaya bagi manusia dan biota lainnya setelah dikotori limbah. Pemerintah Brasil mengingatkan bahwa dana sebesar itu juga harus dipakai untuk memberi ganti rugi pada warga sekitar bendungan. Hingga berita ini dilansir, setidaknya 13 orang tewas, dan 11 masih hilang sampai sekarang terseret arus deras limbah tambang.

Tuntutan pemerintah Brasil jauh lebih tinggi dari hitung-hitungan perusahaan. Ketiga investor tambang besi itu mengklaim taksiran Deutsche Bank, ongkos pembersihan Sungai Rio Doce senilai USD 1 miliar saja.

Petinggi Vale, perusahaan tambang pasir besi yang juga beroperasi di Sulawesi, membantah bila Sungai Rio Doce rusak parah akibat bocornya bendungan. Lebih jauh lagi, CEO Vlae, Murilo Ferreira, berusaha cuci tangan lalu mengaku perusahaannya cuma menanamkan modal di bendungan Samarco. "Kerusakan sudah terlalu luas. Brasil kehilangan salah satu kekayaan hayatinya akibat insiden ini. Maka kami sekarang harus memastikan perusahaan dapat mengupayakan munculnya ekologi baru," kata Teixeira. (AFP/Mdk.com/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru