Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 06 September 2026

Din Syamsuddin Jadi Pembicara di Paviliun Indonesia di COP-21 Paris

- Rabu, 02 Desember 2015 12:34 WIB
305 view
Din Syamsuddin Jadi Pembicara di Paviliun Indonesia di COP-21 Paris
Jakarta (SIB)- Ketua Dewan Pengarah Siaga Bumi (Indonesia Bergerak Menyelamatkan Bumi) Din Syamsuddin tampil sebagai pembicara pada Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (Conference of Parties, atau COP-21) di Paris. Din berbicara di Pavilion Indonesia pada sesi Interfaith Dialogue: Faith Action for Climate Solution bersama empat tokoh/aktivis lintas agama lain dengan moderator Mantan Menlu Hasan Wirayuda.

Dalam presentasinya, Senin (30/11), Din menegaskan bahwa kerusakan lingkungan hidup, perubahan iklim dan pemanasan global adalah masalah moral; krisis lingkungan adalah manifestasi krisis moral. Oleh karena itu, solusi terhadap perubahan iklim yang menjadi salah satu fokus COP-21 di Paris harus menyertakan pendekatan moral dan etika agama. Tanpa landasan dan pendekatan moral, solusi menjadi tidak berarti dan tak akan sejati.

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini, Alquran empat belas abad silam sudah menegaskan bahwa semua kerusakan di muka bumi adalah akibat ulah perbuatan manusia.

Kerusakan alam sebagai krisis moral adalah karena manusia memandang alam sebagai obyek, yakni ciptaan Tuhan untuk diduduki dan dieksploitasi demi kehidupan dan penghidupan. Padahal alam diciptakan dan diperuntukkan sebagai subyek, yakni untuk dihuni dan dimanfaatkan bagi manusia, maka harus dimuliakan.

"Maka, penanggulangan masalah perubahan iklim dengan segala dampaknya harus menjadi tanggung jawab bersama semua umat beragama," ujar Din.

Din pada sesi yang juga dihadiri sejumlah tamu asing itu berbagi pengalaman Indonesia melalui Siaga Bumi ikut menanggulangi dampak perubahan iklim dan kerusakan ekosistem melalui pendekatan keagamaan. Siaga Bumi, yang merupakan gerakan nasional lintas agama, tengah melakukan gerakan aksi berupa penyadaran untuk pemuliaan lingkungan hidup, penciptaan Eco-Rumah Ibadat (Eco-RI), dan penciptaan sungai bersih.

"Terkait Eco-RI, Siaga Bumi telah meluncurkan Eco-Vihara di Bogor akhir Oktober lalu, dan Eco-Masjid pada awal Januari yang akan datang, yang akan disusul oleh Eco-Masjid, Eco-Gereja, Eco-Pura, Eco-Klenteng, dan seterusnya. Kita perlu mulai dari menjadikan Rumah Tuhan sebagai tempat ramah lingkungan, sebelum kita bergerak memuliakan bumi ciptaanNya," papar mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang sekarang menjadi Ketua Ranting Muhammadiyah Pondok Labu ini.

Eco-Rumah Ibadat tersebut akan mengambil bentuk pengasrian bangunan, pengasrian halaman melalui penanaman pohon, dan perbaikan sanitasi atau saluran air. Sedangkan gerakan kali bersih akan diawali dengan perubahan cara pandang dan budaya masyarakat bahwa kali bukan tempat pembuangan barang-barang buruk, tapi aliran air dan sumber mata air kehidupan serta penghidupan.

Untuk itu, lanjut Din yang juga pendiri Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) ini, menegaskan bahwa Siaga Bumi akan bekerja sama dengan semua pihak yang peduli, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat luas.

"Solusi terhadap kerusakan lingkungan hidup, perubahan iklim dan pemanasan global tidak dapat ditangani satu pihak saja, tapi merupakan tanggung jawab bersama. Pada titik tanggung jawab kolektif inilah agama-agama menemukan rendezvous-nya, yakni pada nilai kemanusiaan bahwa agama diturunkan untuk menebarkan rahmat bagi kemanusiaan," ujar Din Syamsuddin di akhir presentasinya. (detikcom/y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru