Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 06 September 2026
Obama Sebut Serangan di California Mungkin Terkait Teroris

Senat Tidak Sepakat Soal Kontrol Ketat, Pembelian Senjata Api di AS Meningkat

- Sabtu, 05 Desember 2015 10:35 WIB
282 view
 Senat Tidak Sepakat Soal Kontrol Ketat, Pembelian Senjata Api di AS Meningkat
AS (SIB)- Dalam konferensi pers di Gedung Putih Kamis siang waktu setempat, Presiden Barack Obama mengatakan terorisme atau perselisihan di tempat kerja bisa menjadi motif pasangan melakukan serangan di Inland Regional Center, San Bernardino, California. “Mungkin saja penembakan terkait teroris, tetapi kita masih belum tahu. Mungkin juga serangan itu terkait perselisihan di tempat kerja,” ujar Obama.

Motif penembakan brutal tersebut masih misterius. Namun otoritas setempat meyakini penembakan massal itu telah direncanakan sebelumnya. Kepala Kepolisian San Bernardino, Jarrod Burguan mengatakan, hasil penyelidikan sejauh ini menunjukkan bahwa penembakan tersebut telah direncanakan. Bahkan kedua pelaku, Syed Rizwan Farook dan istrinya, Tashfeen Malik diyakini berniat menimbulkan jumlah korban jiwa yang besar. Hal ini didasarkan pada temuan bahan peledak yang ditinggalkan pasangan itu di lokasi penembakan.

Bahan peledak tersebut berupa tiga bom pipa dengan alat peledak dari jarak jauh yang tampaknya gagal berfungsi. Ditambah lagi, polisi juga menemukan 12 bom pipa dan amunisi di rumah kontrakan pasangan tersebut di kota Redlands. Dikatakan Burguan, hal-hal itu makin mengarah ke kesimpulan bahwa penembakan tersebut telah direncanakan. "Saya pikir berdasarkan apa yang telah kami lihat dan berdasarkan bagaimana mereka telah dilengkapi, pasti ada beberapa tingkat perencanaan dalam hal ini," tutur Burguan seperti dilansir media CBC, Jumat (4/12).

Hal senada disampaikan David Bowdich, wakil direktur FBI untuk kantor Los Angeles. "Jelas ada misi di sini. Kami tahu itu," tutur Bowdich. "Kami tidak tahu mengapa. Kami tidak tahu apakah ini merupakan target yang diharapkan atau ada sesuatu yang memicu dia melakukan ini segera," imbuhnya.

Presiden Obama telah memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di seluruh gedung-gedung pemerintah, kedutaan besar dan instalasi militer hingga hari Senin mendatang guna menghormati korban penembakan tersebut. Aksi penembakan tersebut hanya berselang beberapa hari dari penembakan di klinik “Planned Parenthood” di Colorado Springs – Colorado yang menewaskan tiga orang dan melukai sembilan lainnya. Penembakan di San Bernardino merupakan insiden ke-355 pada tahun 2015 ini.

Kontrol Senjata
Sehari setelah penembakan massal di California yang menewaskan 14 orang dan melukai 21 orang, anggota Senat Amerika Serikat dari Partai Republik dan Partai Demokrat berdebat soal pengendalian senjata api. Namun seperti sebelumnya, lagi-lagi usulan untuk memperketat kontrol senjata tak lolos.

Partai Demokrat mencoba memperluas latar belakang terhadap pembelian senjata di pameran senjata dan internet. Mereka juga mengusulkan menutup celah yang memungkinkan orang-orang yang berada di bawah pengawasan untuk membeli senjata dan bahan peledak. Kedua upaya itu gagal menabrak oposisi mereka, Partai Republik yang mayoritas.

Partai Republik mengatakan bahwa pemerintah bisa saja keliru menempatkan seseorang dalam daftar pengawasan, menolak hak konstitusional mereka untuk membeli senjata. Asosiasi Senapan Nasional yang berpengaruh juga telah memberi argumen yang sama.

Senator Partai Republik asal Texas, John Cornyn, juga gagal memberi alternatif untuk menahan penjualan selama 72 jam bagi mereka yang berada dalam daftar pengawasan. Banyak yang menganggap bahwa pemeriksaan latar belakang semacam itu butuh waktu lebih lama.

FBI, sementara itu, sedang memastikan motif dan keterkaitan dua pelaku penembakan di Inland Regional Center, San Bernardino, dengan terorisme.

Sebelumnya, pihak berwenang AS mengatakan bahwa pelaku pria, Syed Rizwan Farook, kemungkinan teradikalisasi kerena pernah berhubungan dengan orang yang berada di daftar pengawasan FBI.

Dalam konferensi pers sebelum pemungutan suara, senator Partai Demokrat Richard Blumenthal mengatakan, "Kongres terlibat dalam pembunuhan massal tersebut ketika gagal untuk bertindak." Negara bagian asal Blumenthal dari Connecticut adalah lokasi penembakan massal tiga tahun lalu ketika seorang pria bersenjata berusia 20 tahun memasuki sekolah dasar dan membunuh 20 anak dan enam karyawan.

Setelah tragedi itu, undang-undang kontrol senjata muncul, namun gagal pada 2013 menyusul debat Senat yang emosional. Dengan penembakan massal terbaru di Paris, serta di Colorado dan California yang belum lama terjadi, Partai Demokrat berpendapat sentimen sedang berbalik menguntungkan mereka soal kontrol senjata. "Saya pikir kita...mencapai titik kritis," kata Senator asal New York Charles Schumer. Penembakan massal "minggu demi minggu…membangkitkan hati nurani Amerika."

Namun hasil pemungutan suara dan sebuah jajak pendapat menyiratkan bahwa AS bisa jadi belum mencapai “titik kritis” yang dimaksud Schumer. Satu jajak pendapat oleh Washington Post/ABC News bulan lalu menemukan 82 persen berpikir kekerasan senjata adalah masalah yang sangat serius atau agak serius. Tapi pendapat terbagi hampir merata soal mana yang lebih penting: memberlakukan undang-undang baru untuk mengurangi kekerasan senjata atau melindungi hak untuk memiliki senjata. Jajak pendapat juga menemukan bahwa 63 persen menyalahkan penembakan massal pada masalah kesehatan mental, sementara 23 persen menyalahkan kontrol senjata yang tidak memadai.

Pembelian Meningkat
Dalam perkembangan lainnya, pembelian senjata api tetap meningkat, bahkan menjadi salah satu yang paling dicari warga dalam musim diskon “Black Friday” akhir pekan lalu.

Menurut FBI’s National Instant Criminal Background Check System ada 185.345 permohonan pemeriksaan latar belakang untuk memiliki senjata api pada tanggal 27 November atau sehari setelah Thanksgiving, yang dinilai sebagai musim belanja tertinggi.

Menurut Kepala FBI’s multimedia production Stephen Fischer – dalam tulisannya di suratkabar USA Today – terjadi peningkatan 5 persen dibanding tahun lalu yang mencapai 175.754.

“Black Friday” tahun 2012 hingga 2014 adalah salah satu masa di mana FBI paling banyak menerima permintaan pemeriksaan latar belakang untuk memiliki senjata api. Sejak melakukan pemeriksaan dan pencatatan pada tahun 1998, ada sekitar 220 juta senjata api yang tercatat dimiliki warga.

Selain musim diskon seperti “Black Friday”, penjualan senjata api juga diketahui meningkat setelah terjadi insiden penembakkan massal. Setelah penembakan di sekolah dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut pada pertengahan Desember 2012 yang menewaskan 26 orang, terjadi kenaikan pembelian senjata api.

Presiden Amerika Barack Obama telah berulangkali menyerukan pengetatan pemeriksaan latar belakang guna memiliki senjata api dan sekaligus pengendalian penjualan senjata api. Hal yang sama ditegaskannya kembali beberapa saat setelah insiden penembakan di California, Rabu (2/12) kemarin. (CNNIndonesia/AFP/dtc/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru