Moskow (SIB)- Pemerintah Rusia dikabarkan tengah mempersiapkan segala bentuk upayanya untuk melakukan perang nuklir. Salah satunya adalah dengan meluncurkan pesawat Ilyushin Il-80. Pihak Amerika Serikat (AS) dikabarkan menjuluki pesawat Ilyushin I1-80 sebagai ‘pesawat kiamat’. Presiden Rusia, Vladimir Putin dilaporkan menginginkan pesawat Ilyushin Il-80 untuk disiapkan dalam waktu dua pekan.
Angkatan Militer Negeri Beruang Merah juga telah menyelesaikan serangkaian tes untuk pusat kendali terbang pesawat raksasa yang dibanggakan produsennya itu sebagai ‘pesawat tak terkalahkan’. Sebagaimana diberitakan Daily Star, Sabtu (5/12), perintah Presiden Putin itu muncul setelah Rusia saat ini tengah di ambang perang dengan Turki akibat insiden ditembak jatuhnya Sukhoi.
Media Inggris itu juga mengaitkan persiapan perang nuklir Rusia itu dengan ramalan kuno kaum Yahudi 200 tahun silam tentang akhir dunia yang akan dimulai dengan perang antara Rusia dan Turki. Pesawat Ilyushin Il-80 dikabarkan akan membawa jenderal senior, staf perwira tim operasional, dan kru teknisi untuk menjaga peralatan-peralatan militer mutakhir Angkatan Udara (AU) Rusia. Sedangkan unit komando mobile akan memungkinkan para pemimpin militer Rusia untuk mengarahkan tentara darat, Angkatan Laut dan AU untuk membuat ancaman rudal nuklir.
Satu-satunya tandingan Rusia yang memiliki senjata elit semacam itu adalah AS. Aleksander Komyakov, direktur umum tim peneliti di belakang proyek pesawat Ilyushin Il-80 itu mengatakan, pesawat raksasa itu merupakan pesawat super yang tak terkalahkan.
Presiden Putin awalnya telah bersitegang dengan Eropa dan AS (NATO) yang dampaknya dirasakan di seluruh dunia. Ketegangan dimulai ketika Rusia menganeksasi wilayah Krimea setelah memisahkan diri dari Ukraina. Baik Ukraina, Eropa maupun AS sampai saat ini tidak bisa menerima tindakan itu.
Ketegangan berlanjut dalam perang sipil di Suriah, ketika Rusia dan AS berada di dua kubu yang berlawanan. Rusia membela rezim Presiden Suriah Bashar Al Assad sedangkan AS dan sekutunya membela pemberontak Suriah. Ketegangan dikabarkan semakin memanas ketika Turki yang merupakan bagian dari koalisi pimpinan AS menembak jatuh pesawat jet tempur Su-24 Rusia dengan alasan pesawat itu melanggar kedaulatan wilayah udara Turki.
Selain tengah mempersiapkan perang nuklir, Putin juga dilaporkan meningkatkan keterlibatan Rusia dalam perang di Timur Tengah dengan menurunkan kendaraan tempur lapis baja paling canggih mereka, tank T-90, ke garis depan pertempuran Suriah. Rusia juga memperluas pangkalan udara mereka di negara itu. Informasi yang disampaikan kantor berita Iran, Fars, didukung oleh bukti-bukti foto tank yang beredar di sosial media pekan ini. Tank tersebut diduga telah berada di wilayah kekuasaan rezim Bashar al-Assa di selatan Aleppo.
T-90 disebut diturunkan setelah pasukan pemberontak Suriah mampu menghancurkan tank-tank Rusia lainnya dengan rudal yang mereka miliki. Tank T-90 dilengkapi dengan tameng peledak, membuat sebagian besar rudal tidak akan bisa mendekati kendaraan lapis baja ini.
Media pro-Assad mengatakan, tank ini nantinya akan dikendarai oleh pasukan Suriah yang terlatih. Namun klaim ini diragukan karena tank tersebut memiliki spesifikasi tinggi sehingga tidak sembarang orang bisa menggunakannya.
Walaupun tank ini juga diturunkan dalam konflik di Ukraina dan Chechnya, namun ini adalah kali pertama T-90 digunakan di medan perang. Para ahli mengatakan, intervensi Rusia dalam perang Suriah malah justru akan memperpanjang konflik di negara itu yang saat ini telah memakan korban jiwa hingga 250 ribu orang. Penurunan T-90 juga dianggap wujud rasa frustrasi Rusia setelah banyak tank mereka dengan spesifikasi lebih rendah mampu dihancurkan rudal pemberontak yang dipasok oleh negara-negara Teluk dan Turki.
Selain menurunkan senjata baru, Rusia juga memperluas pangkalan udara mereka di Homs agar bisa menampung lebih banyak lagi jet tempur. Pangkalan udara lainnya di timur Homs juga telah digunakan Rusia untuk markas helikopter tempur, seperti disampaikan oleh lembaga Syrian Observatory for Human Rights.
Memperkuat kehadiran Rusia di Homs dan Suriah tengah diharapkan bisa membantu merebut kota Palmyra dari ISIS. Sudah tujuh bulan ISIS menguasai kota tua itu dan menghancurkan banyak peninggalan bersejarah. Cara ini juga diharapkan bisa mengamankan ladang gas alam yang penting bagi ketersediaan energi di Damaskus.
Tak Ikut Serang ISIS
Amerika Serikat diam-diam menunda permintaan agar Turki memainkan peran lebih aktif dalam serangan udara melawan ISIS pimpinan AS untuk mengendorkan ketegangan dengan Rusia. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa langkah ini bertujuan memberi waktu agar ketegangan Rusia-Turki mereda.
Amerika Serikat berharap ketegangan antara Moskow dan Ankara akan segera melunak, sehingga Turki bisa lebih berperan dalam serangan udara koalisi pimpinan AS. Pentagon sendiri menolah berkomentar terkait status jet tempur sejak penembakan jet Rusia. Dua pejabat Turki menolak berkomentar secara langsung tetapi menegaskan Turki masih bagian dari serangan udara tersebut. “Bagi kami tidak ada yang berubah,†kata pejabat Turki.
Para pejabat AS mengatakan, operasi serangan udara koalisi secara keseluruhan tidak terganggu oleh ketegangan antara Turki dan Rusia. Sementara dua pejabat AS mengatakan, Turki belum ikut serta dalam misi serangan udara ke ISIS di Suriah sejak insiden penembakan jet tempur Rusia pada 24 November.
Penghentian sementara ini merupakan kerumitan terbaru terkait peran Turki telah menguji kesabaran pengambil keputusan AS yang menginginkan sumbangan lebih besar dari negara itu, terutama dalam menutup perbatasan dengan Suriah yang dipandang sebagai rute pasok utama bagi ISIS.
Ketika Inggris mulai melakukan serangan di Suriah, dan Perancis meningkatkan perannya setelah serangan berdarah di Paris, Menteri Pertahanan AS Ash Carter secara terbuka meminta peran militer Turki yang lebih besar. Prioritas tertinggi AS adalah Turki mengamankan perbatasan dengan Suriah di selatan sepanjang 98 kilometer uang digunakan oleh ISIS untuk mendatangkan pejuang asing dan perdagangan ilegal.
Tetapi AS juga ingin Turki lebih sering melakukan serangan udara yang mensasar ISIS, meskipun Washington juga mendukung serangan udara Ankara terhadap Partai Pekerja Kurdistan Turki yang dianggap sebagai kelompok teroris. Bulan lalu, pesawat tempur F-16 milik Turki mengikuti operasi udara bersama untuk mendukung para pemberontak Suriah untuk merebut kembali dua desa dari ISIS di sepanjang wilayah yang disebut garis Mara. (CNN Indonesia/okz/f)