Damaskus (SIB)- Operasi koalisi pimpinan Amerika Serikat di Suriah memakan korban jiwa dari pihak militer pemerintah Suriah. Sedikitnya empat tentara rezim Suriah dilaporkan tewas akibat serangan udara koalisi AS. Disampaikan kelompok pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, seperti dilansir Reuters dan AFP, Senin (7/12), insiden ini terjadi di Provinsi Deir al Zor, yang sebagian besar dikuasai militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Serangan udara AS ini mengenai kamp militer Saeqa, dekat kota Ayyash, Provinsi Deir al Zor sebelah barat. Disebutkan bahwa kamp militer itu berjarak 2 kilometer dari wilayah yang dikuasai ISIS. Serangan ini melukai 13 personel militer Suriah lainnya.
Syrian Observatory menyebut serangan udara ini dilakukan oleh koalisi internasional, merujuk pada koalisi pimpinan AS. Menurut Syrian Observatory, ini merupakan pertama kalinya serangan udara koalisi AS mengenai tentara pemerintah Suriah. "Tentara rezim (Suriah) belum pernah terkena serangan koalisi internasional, yang menargetkan markas militan dan tangki minyak di Deir al Zor," ujar Direktur Syrian Observatory, Rami Abdel Rahman.
Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Suriah membenarkan adanya serangan yang mengenai kamp militer di wilayah Deir al Zor. Otoritas Suriah bahkan menyebut ada 9 rudal yang ditembakkan ke kamp militer mereka pada Minggu (6/12) malam waktu setempat.
Kementerian Luar Negeri Suriah juga mengutuk serangan udara oleh koalisi pimpinan Amerika Serikat tersebut dan menyebutnya sebagai serangan yang keji, demikian laporan media nasional. "Republik Arab Suriah mengutuk keras serangan keji ini yang dilakukan oleh pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat, yang secara terang-terangan melanggar tujuan piagam PBB," kata Kementerian itu dalam sebuah surat kepada Dewan Keamanan dan Sekjen PBB.
Koalisi AS melancarkan serangan udara di wilayah Suriah sejak September 2014 lalu, setelah sebelumnya melancarkan operasi di Irak dalam rangka melawan ISIS. Operasi militer terhadap ISIS semakin diperluas setelah serangan teror Paris pada 13 November lalu.
Pada Minggu (6/12), serangan udara AS mengenai posisi ISIS di Provinsi Raqa, Suriah. Dilaporkan Syrian Observatory, serangan udara ini menewaskan sedikitnya 49 orang yang sebagian besar merupakan militan ISIS. Sebanyak 8 anak-anak dan lima wanita juga ikut tewas dalam serangan itu, namun tidak diketahui pasti apakah mereka terkait dengan ISIS.
Banyak wilayah Provinsi Deir Ezzor berada di bawah kekuasaan kelompok bersenjata ISIS, yang biasanya menjadi sasaran serangan gabungan yang dipimpin Amerika Serikat, namun pasukan rezim Suriah masih ada di sebagian kecil wilayah, termasuk di ibu kota provinsi.
Koalisi tersebut telah melancarkan serangan terhadap kelompok bersenjata ISIS sejak September 2014, dan tidak berkoordinasi dengan pemerintah di Damaskus.
Pemerintah Suriah telah berulang kali mengkritik serangan gabungan Amerika Serikat sebagai langkah yang tak efektif dan ilegal karena mereka tidak berkoordinasi dengan pasukan rezim pemerintah, dan insiden yang terjadi di Deir Ezzor merupakan bukti lebih lanjut terkait kegagalan koalisi tersebut.
"Koalisi Amerika Serikat itu tidak memiliki keseriusan dan kredibilitas untuk memerangi terorisme secara efektif," kata kementerian itu seperti dikutip AFP.
NATO Tidak akan Kirim Pasukan Darat ke Suriah
NATO menyatakan tidak akan mengirim pasukan darat ke Suriah untuk memerangi ISIS, dan menekankan dukungan untuk memperkuat pasukan lokal dalam konflik Suriah. “Itu tidak ada di agenda koalisi dan sekutu NATO,†kata Sekjen NATO Jens Stoltenberg kepada surat kabar Swiss Tages-Anzeiger. “Amerika Serikat hanya punya pasukan khusus dalam jumlah terbatas. Di darat, meski begitu, menguatkan pasukan lokal. Ini tidak mudah, tapi satu-satunya pilihan.â€
Stoltenberg menekankan bahwa konflik Suriah bukanlah perang antara Barat dan dunia Islam, namun perang melawan eksremisme dan terorisme. “Muslim ada di garis depan perang ini. Kebanyakan korban adalah Muslim, dan kebanyakan mereka yang memerangi ISIS adalah Muslim. Kami tak bisa memerangi perang ini untuk mereka,†ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa NATO tidak akan menolong Turki meningkatkan pertahanan udaranya serekah menembak jatuh jet tempur Rusia bulan lalu.
Stoltenberg menegaskan pentingnya untuk mendinginkan situasi setelah insiden jatuhnya jet tempur tersebut.
“Kini penting untuk menurunkan eskalasi dan mengembangkan mekanisme untuk menghindari insiden serupa di masa datang. Kami melihat peningkatan kehadiran militer Rusia dari utara ke Mediterania. Di sana juga, kami berupaya menghindari insiden serupa seperti di Turki,†tuturnya. Ia juga menyerukan agar Rusia memainkan peran yang lebih penting dalam menyerang ISIS di Suriah. “Sejauh ini, Rusia teah menyerang kelompok lain dan fokus mendukung rezim Assad.â€
Presiden AS Barack Obama mengatakan pekan lalu bahwa keputusannya untuk mengirim pasukan khusus untuk menyerang ISIS di Irak bukan indikasi bahwa AS bergerak menuju invasi seperti tahun 2003. Obama mengatakan bahwa strateginya untuk memerangi kelompok militan di Irak dan Suriah tidak termasuk mengirimkan pasukan darat, namun Pentagon mengumumkan akan mengirim pasukan khusus baru. (Rtr/dtc/Ant/CNNIndo/f)