Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 07 April 2026

Infrastruktur Desa Sei Sembilang Jauh Tertinggal

* Puluhan Tahun Pemasaran Hasil Perkebunan Melalui Jalur Laut
- Jumat, 03 Maret 2017 20:03 WIB
1.098 view
Infrastruktur Desa Sei Sembilang Jauh Tertinggal
SIB/Usni Pili Panjaitan
RUSAK PARAH : Kondisi jalan yang rusak parah memaksa warga berjalan dan pengendara melintas dari atas tembok penahan agar dapat sampai ke Desa Sei Sembilang, Kec Sei Kepayang Timur, Kab Asahan.
Tanjungbalai (SIB) -Sungguh miris kehidupan masyarakat Desa Sei Sembilang Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kabupaten Asahan. Puluhan tahun hasil perkebunan warga dipasarkan melalui jalur laut.

Kehidupan masyarakat Desa Sei Sembilang jauh tertinggal dari seluruh sektor. Realitas didapati saat hendak memasuki kawasan desa. Infrastruktur jalan yang masih dilapisi tanah seakan luput dari perhatian Pemerintah Kabupaten Asahan.

Jalan menuju desa dipenuhi lubang berlumpur. Menurut warga desa pernah sekitar lima tahun silam ada peningkatan jalan yang dilaksanakan pihak Pemprovsu. "Pernah sekitar lima tahun lalu pengerasan jalan dari propinsi, konstruksinya batu cadas. Sejak itu tak pernah lagi dikerjakan. Sekarang kondisi jalan rusak parah,"ujar A Hadi Nasution tokoh masyarakat desa kepada SIB, Kamis (2/3) melalui telepon seluler berharap adanya perhatian nyata pemerintah dalam peningkatan infrastruktur jalan di desa penghasil kelapa itu.

Tertarik dengan kondisi infrastruktur desa yang jauh tertinggal dibanding desa-desa di Kabupaten Asahan, SIB melakukan penelusuran. Berdasarkan hasil penelusuran SIB, kondisi infrastruktur jalan menuju Desa Sei Sembilang jauh dari kata layak.

Sepanjang 12 Km jalan menuju Desa Sei Sembilang rusak parah. Padahal jalan tersebut merupakan satu-satunya akses penghubung ke desa lain. Jalan berlubang dan berlumpur ternyata tidak menyurutkan warga untuk mengangkut barang dagangan dari Kota Tanjungbalai menggunakan sepedamotor.

"Kalau mobil tak bisa lewat, sebab jalannya rusak banyak lubang berlumpur. Makanya hanya sepeda motor yang bisa melintas itupun saat cuaca baik tidak hujan. Saat musim hujan sangat berat dilalui karena lumpur tebal yang akan kita hadapi," cerita Agus (45) yang kesehariannya hilir mudik melalui jalur tersebut untuk memasarkan gas elpiji 3 Kg yang dibelinya dari Kota Tanjungbalai.

Selain jalan rusak yang belum tersentuh pembangunan, pemandangan miris yang dirasakan warga desa juga ketiadaan air bersih. "Air bersih ya dari air hujan yang ditampung. Pernah dibangun sumur bor tapi airnya tetap asin. Sejak dulu sampai sekarang kami memanfaatkan air hujan, paling air dari perigi (kolam) buatan, itupun di daerah tebing (jauh dari pesisir pantai)," terang Hadi.

Hasil penelusuran SIB, desa berpenduduk sekitar 2.000 jiwa lebih itu jauh tertinggal mulai dari infrastruktur jalan, kesehatan, pendidikan dan air bersih. Bahkan sungai di sepanjang jalan desa yang dahulunya dilintasi sampan-sampan milik warga yang berprofesi sebagai nelayan, kini tinggal kenangan. Sungai mengalami pendangkalan akibat dipenuhi lumpur dan ditutupi rumput tebal. Jalan di sepanjang sungai menurun akibat abrasi karena tidak adanya tembok penahan tanah. Sedangkan jarak tempuh menuju desa yang hanya belasan kilometer mencapai 2 jam lebih.

"Untuk mengangkut kelapa hasil perkebunan warga di sini dari dulu diangkut melalui jalur laut. Ada beberapa unit sampan milik warga khusus mengangkut kelapa yang akan dijual ke kilang kelapa di Kota Tanjungbalai. Sampan ini pula dimanfaatkan untuk mengangkut warga yang hendak ke Kota Tanjungbalai," sebut Amri (42) kepada SIB saat berkunjung ke desa itu belum lama ini.

Kepala Desa Sei Sembilang, Awaluddin Panjaitan yang ditemui SIB, menuturkan pembangunan sarana infrastruktur jalan merupakan prioritas utama program desa. "Kita akan berupaya memerjuangkan peningkatan jalan, tembok penahan dan air bersih. Meski bertahap yang penting dapat terealisasi. Desa ini jauh tertinggal sehingga butuh perhatian khusus," terangya. (D22/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru