Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 12 April 2026

Petani Mengeluh, Pupuk Bersubsidi Langka di Taput

- Rabu, 15 Maret 2017 22:42 WIB
231 view
Taput (SIB)- Petani mengeluh karena pupuk bersubsidi langka di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput). Pupuk bersubsidi jenis Ponska tidak bisa didapatkan petani dari kios pengecer.

Salah seorang petani di Tarutung, R Hutabarat kepada SIB mengatakan, pupuk bersubsidi itu langka sejak Desember 2016 sampai Maret 2017 sekarang.
"Di kios pengecer, kita tidak bisa mendapatkan pupuk bersubsidi itu. Tujuh kios pengecer pupuk di Tarutung ini sudah saya datangi, namun semuanya stok pupuk tersebut kosong," ujarnya.

Dia mengaku, baru inilah kelangkaan pupuk yang sangat parah terjadi di Taput. Atas kondisi itu, ia pun harus mengeluarkan biaya yang besar membeli pupuk non subsidi untuk memupupuk tanaman pertaniannya miliknya.

"Kita lihat, pemerintah kurang kontrol dan tidak mau peduli apa yang dikeluhkan oleh petani di Taput saat ini. Mau sampai kapan lagi kita menunggu. Kita lihat pemerintah yang selama ini ingin membantu petani, itu terkesan hanya janji belaka. Buktinya kelangkaan pupuk bersubsidi selama 3 bulan tidak bisa diatasi," tuturnya.

Sementara dari Kios Pengecer CV Anugerah Roy Hutabarat yang juga dikonfirmasi SIB mengaku, Ponska memang sudah 3 bulan lebih tidak masuk ke kiosnya.
"Memang hanya pupuk Ponska itu saja yang bermasalah. Kalau pupuk subsidi jenis SP 36, ZA dan Urea, stoknya ada dikios kita," ungkapnya.

Direktur Perusahan Daerah  Pertanian Taput Siswanto Hutasoit yang dikonfirmasi via telepon selulernya mengungkapkan, kelangkaan pupuk itu memang benar. Dan kelangkaan itu sudah terjadi sejak Desembar 2016 kemarin.

"Dan saat ini, kita masih membicarakan masalah tersebut dengan Bagian Perekonomian Pemkab Taput. Kelangkaan pupuk itu sebenarnya disebabkan karena stok pupuk dari PT. Petro Kimia Gresik kosong," ungkapnya.

Ketika ditanya pengaruh dari pupuk sistem bayar panen, dia menuturkan, kelangkaan pupuk itu tidak disebabkan sebagian petani belum membayarkan tunggakan pupuk tahun 2016 lalu.

"Itu tidak ada pengaruhnya dengan kelangkaan pupuk yang sekarang. Memang pupuk sistem bayar panen yang kita bagikan ke petani di Taput tahun 2016 lalu, sampai sekarang belum dilunaskan. Tunggakan yang belum dibayarkan itu sebesar Rp 1 miliar lagi," tuturnya.

Dia mengungkapkan, petani yang kesulitan membayarkan tunggakan itu yakni dari Kecamatan Tarutung, Siatas Barita dan Siborongborong. (E03/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru