Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 14 Februari 2026
Tanggapi FDT 2020 Ditiadakan

Pegiat Budaya : Kembalikan Marwah Pesta Danau Toba

Redaksi - Kamis, 16 Januari 2020 15:57 WIB
123 view
Pegiat Budaya : Kembalikan Marwah Pesta Danau Toba
SIB/Dok
Dian Damanik
Simalungun (SIB)
Menanggapi kebijakan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, untuk membatalkan Festival Danau Toba (FDT) tahun 2020, Pegiat Budaya Dian Manik menegaskan, agar Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk mengembalikan marwah Pesta Danau Toba (PDT) seperti semula, Rabu(15/1).

"Kita ingin Festival Danau Toba dikembalikan menjadi Pesta Danau Toba yang sudah ada sejak pertama kali digelar," katanya.

Menurutnya, sejak pertama kemunculan Pesta Danau Toba, tujuannya ini bukan untuk mendatangkan turis semata, sejak tahun 80-an Pesta Danau Toba adalah sebagai Syukuran masyarakat Batak terhadap Danau Toba. Sejak awal ini hanya bersifat lokal, tapi karena diagendakan menjadi setiap tahun, maka Pesta Danau Toba berubah menjadi Festival (Even) tahun 2013 kalau tidak salah.

Kemudian sejak saat itu, Gaung Festival Danau Toba semakin merosot baik lokal maupun interlokal. Sepinya pengunjung itu bukan karena Festival Danau Tobanya, tapi kita harus tau siapa even organizernya, bagaimana proses pendanaannya dan bagaimana proses promosinya.

Banyak hal yang mempengaruhi ketika even itu tidak dihadiri ataupun tidak ramai pengunjung. Bisa karena promosi yang tidak tepat, bisa karena pemilihan waktu yang tidak tepat, bisa saja yang menjalankan even itu bukan orang yang tepat. Artinya FDT itu perlu solusi strategi yang tepat agar gaungnya terdenggar hingga ke tingkat nasional dan internasional.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk masalah waktu yang tepat, kita harus tahu dulu, tujuan acara itu sasarannya wisatawan mancanegara atau wisatawan dalam negara. Jadi tinggal menyesuaikan kapan visitor wisatawan paling tinggi ke Asia Tenggara disitulah waktu yang tepat.

Dian juga menambahkan, pelaku itu kalau bisa warga lokal, acara demi acara yang bertajuk kebudayaan haruslah masyarakat yang ada di Kawasan Danau Toba (KDT). Kemudian tidak menutup kemungkinan berkolaborasi dengan orang di luar KDT jika diperlukan.

Tetapi bagi pengelola even diharuskan orang yang berpengalaman menangani even skala internasional. Sehingga FDT bisa maksimal mendatangkan wisatawan mancanegara dan juga pengelola even harus membuka diri terhadap pelaku-pelaku wisata, seperti travel-travel, tourguide juga rekan-rekan media harus dilibatkan. Sehingga acara itu dapat berjalan dengan maksimal dan memberikan dampak sosial kepada masyarakat lokal juga mendatangkan pendapatan asli daerah yang mumpuni.

Kemudian sasaran utama yang paling memungkinkan adalah masyarakat lokal di luar KDT, lalu wisatawan mancanegara dan terakhir masyarakat lokal di sekitar KDT dengan menampilkan pertunjukan berbasis budaya, bisa juga seperti konser musik, tari tradisional, bazar makanan lokal, jika memungkinkan dihindari proses kompetisi, tapi pertunjukan budaya berbasis kolaborasi. Sehingga hasil dari promosi even itu bisa berdampak secara ekonomi dan promosi berkelanjutan.

Lebih lanjut dikatakan pegiat budaya ini, pemerintah juga harus mensosialisasikan terlebih dahulu untuk membuat suatu even. Sebab, alam budaya Batak itu ada Tonggo Raja, yang dalam artinya musyawarah untuk membicarakan sesuatu yang ingin dilakukan.

Seharusnya ada ruang diskusi dan dialog terhadap masyarakat lokal baik itu raja-raja bius, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah untuk bisa saling bergandengan tangan mempromosikan Danau Toba. Sehingga marwah Pesta Danau Toba kembali terlahir seperti semula, harapnya.(S13/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru