Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 24 April 2026

Perhimpunan Dokter Hewan Minta Pemerintah Bantu Semprot Disinfektan pada Kandang dan Ternak Babi

Redaksi - Selasa, 21 Januari 2020 15:49 WIB
504 view
Perhimpunan Dokter Hewan Minta Pemerintah Bantu Semprot Disinfektan pada Kandang dan Ternak Babi
Foto: SIB/Dok
Disinfektan: Ketua PDHI SU Drh Adhona Bhajana Wijaya Negara MSi bersama pengurus menyerahkan disinfektan pada Pemkab Karo, Senin (13/1) untuk mengedukasi peternak babi menyemprot kandang dan ternak guna mengantisipasi terjangkit virus yang mematikan hewan
Karo (SIB)
Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Sumatera Utara (SU) Drh Adhona Bhajana Wijaya Negara MSi meminta Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabubaten dan Pemerintah Kota di Sumut mengedukasi para peternak untuk menyemprotkan disinfektan pada kandang dan ternak babi.

Sejauh ini, peternak belum melakukan hal tersebut dalam maksud mengeliminir semakin berbiaknya penyakit yang mematikan hewan spesifik tersebut. "Kami telah melakukannya di Tanah Karo. Pemerintah Kabupaten Karo apresiatif atas keterlibatan PDHI SU untuk mengantisipasi jangan sampai kembali berjangkitnya virus yang membuat babi peliharaan mati," ujarnya Senin (20/1) sekembali dari wilayah pegunungan penghasil buah dan sayuran tersebut.

Bersamaan dengan memberi disinfektan, PHDI SU tur ke daerah-daerah untuk memberi bantuan kepada peternak babi yang menderita kerugian karena kasus tersebut. Bantuan sebagai bentuk empati dan turut prihatin atas kerugian dimaksud. "Kami memberi bahan makanan khusus untuk peternak babi yang menerita kerugian. Tak seberapa nilainya, tapi sebagai bentuk empati dan rasa kebersamaan," tambah Adhona Bhajana Wijaya Negara didampingi sejumlah dokter dalam tim PDHI SU tersebut.

Menurutnya, pihaknya 'hanya' mampu memberi disfintektan gratis sebanyak 200 liter cair dan 20 kg dalam bentuk tepung. "Jumlah itu sangat sedikit. Pemerintah tentu akan mampu menyediakan lebih banyak lagi," tegasnya.

Menurutnya, langkah tersebut pun untuk mengedukasi publik bahwa virus yang membuat ternak babi mati, tidak akan menular pada manusia. "Termasuk virus african swine fever (ASF) yang diduga mulai menjangkit babi di daerah di Sumut, tidak akan menular pada manusia. Kerenanya, mengonsumsi babi tidak berdampak pada kesehatan. ASF yang mewabah pada babi bukan merupakan fooodborne zoonosis atau zoonosis," tegasnya. "Meski demikian, sangat baik jika dalam pemeliharaan dan pengelolaan daging babi tetap berpedoman pada standar higienis!" tegansya.

Bersamaan dengan itu, PDHI SU memberi edukasi pada publik. "PDHI SU sama sekali tidak melarang kegiatan adat (jambar) yang menggunakan ternak babi. Tetapi, daging sisa olahan, baik mentah maupu matang, tidak diberikan pada ternak babi yang masih hidup karena mungkin dapat mengjangkit penyakit," jelasnya.

PDHI SU menjelaskan, terkait wacana pemusnahan / stamping out yang berpinsip pada keilmuan, tentu merupakan solusi akhir dalam mengeliminasi suatu penyakit baru yang belum ditemukan metode penanggulannya. Bila pemikiran tersebut dikemukakan harus memertimbangkan segala aspek sosio, ekonomi dan budaya yang ada," jelasnya. "PDHI SU menyaranakan agar apabila dalam penetapan stamping out, perlu mempertimbangkan dilakukan penerapan kompartemen bebas AFS di peternakan babi," jelasnya.

Menurut Adhona Bhajana Wijaya Negara, dokter hewan yang terwadah dalam PDHI SU jumlahnya masih minim yakni kisaran 170-an orang. "Jumlah itu tetntu belum maksimal dalam mengedukasi publik khususnya peternak babi. Itu sebabnya PDHI SU meminta pemerintah memaksimalkan peran pembinaan pada peternak," harapnya. "Publik yang ingin mendapat pengetahuan tentang hal terkait dapat mendatangi Sekretariat PDHI SU Jalan Brigjen Zein Hamid - Komp Contempo Regency BLok B No 1 - Titi Kuning Medan," tutupnya. (R9/c)


SHARE:
komentar
beritaTerbaru