Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 14 April 2026

DPRDSU: 20 Km Jalan Lumban Rau Menuju Borbor Tobasa Rusak Parah, Masyarakat Resah

* Minta Dinas BMBK Sumut Alokasikan Dana Perbaikannya di P-APBD 2020
Redaksi - Rabu, 29 Januari 2020 16:27 WIB
165 view
DPRDSU: 20 Km Jalan Lumban Rau Menuju Borbor Tobasa Rusak Parah, Masyarakat Resah
tribunnews.com
Ilustrasi
Medan (SIB)
Anggota DPRD Sumut Dapil IX kawasan Tapanuli Jubel Tambunan menemukan jalan Lumban Rau menuju Borbor Kecamatan Borbor Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) sepanjang kurang lebih 20 Km mengalami kerusakan sangat parah, sehingga masyarakat yang setiap hari melintasi kawasan itu merasa resah.

"Kita sudah turun langsung ke lapangan dan melihat jalan itu mengalami kerusakan parah, masyarakat resah karena perekonomian mereka terganggu disebabkan arus lalu-lintas dan pengangkutan hasil-hasil pertanian terkendala," ujar Jubel Tambunan kepada wartawan, Selasa (28/1) ketika dihubungi melalui telepon dari Medan.

Selain itu, Jubel juga melihat kondisi jalan dari Sigapiton-Sionggang-Perik-Siregar mengalami rusak berat dan kondisinya saat ini sangat tidak layak dilalui kendaraan roda empat dan roda dua, sehingga perlu gerak cepat untuk memperbaikinya.

"Jika infrastruktur jalan di suatu daerah mengalami kerusakan, tentu perekonomian kawasan itu juga akan macet. Disini besar harapan kita kepada Dinas BMBK (Bina Marga dan Bina Konstruksi) Sumut untuk secepanya menampung anggaran Perbaikannya di APBD Sumut," ujar Jubel.

Berkaitan dengan itu, politisi Partai Nasdem itu berharap kepada Pemprov Sumut Cq Dinas BMBK Sumut untuk menampung anggaran perbaikannya di P-APBD Sumut 2020, guna mengobati kerinduan masyarakat menikmati mulusnya jalan provinsi maupun jalan kabupaten di daerah ini," ujar politisi yang dikenal santun tersebut.

Enceng Gondok
Dalam kesempatan itu, Jubel Tambunan juga menyampaikan apresiasinya terhadap masyarakat Tobasa yang saat ini melakukan pencacahan enceng gondok untuk dijadikan sebagai pupuk buatan yang tidak kalah mutu dengan pupuk yang dijual di pasaran.

"Untuk menghemat biaya dalam hal pembelian pupuk, sekaligus mengatasi kelangkaan pupuk bersubsidi, masyarakat melakukan pencacahan enceng gondok untuk dijadikan pupuk buatan. Mutunya tidak kalah dengan pupuk kimia yang dijual di pasaran," ujar Jubel.

Namun kendalanya saat ini, tambah anggota Komisi D ini, belum tersedianya kendaraan angkutan bagi kelompok tani, sehingga masih diperlukan biaya kendaraan pengangkut enceng gondok agar bisa diproduksi untuk pembuatan pupuk yang memiliki kandungan melebihi pupuk NPK.

"Saat ini enceng gondok dikemas dengan harga Rp800/Kg. Jika ini rutin dikelola oleh kelompok tani, tentunya akan sangat menguntungkan," ujar Jubel sembari berharap kepada Pemprov Sumut untuk mengalokasikan anggaran pengelolaannya melalui kelompok tani di APBD Sumut.(M03/c).
SHARE:
komentar
beritaTerbaru