Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 07 September 2026

Petani Sawit di Asahan dan Labura Menjerit, Harga Sawit Turun

Redaksi - Selasa, 03 Maret 2020 20:28 WIB
213 view
Petani Sawit di Asahan dan Labura Menjerit, Harga Sawit  Turun
metro-online.co
James Ganda Sormin
Kisaran (SIB)
Hanya dalam tempo 2 minggu atau 14 hari, harga sawit tani di Kabupaten Asahan dan Labuhan Batu Utara (Labura) mengalami penurunan drastis dari Rp 1.800/kg menjadi Rp 1.200. Kondisi ini membuat petani sawit menjerit.

“Sampai Minggu (1/3) terus turun dan mau bergerak menuju ke angka Rp 1.000,” ungkap James Ganda Sormin dari Ketua Kelompok Tani Lestari Mandiri Asahan â€" Labura kepada SIB, Senin (1/3).

Disebutkan Ganda Sormin, program pemerintah B30 yang mewajibkan pencampuran 30% Biodiesel dengan 70% bahan bakar minyak jenis Solar, diikuti B50 dan B100 belum mampu menaikkan harga sawit petani. Hal ini ditengarai dampak dari ditutupnya ekspor CPO ke luar negeri yang mengakibatkan minyak-minyak sawit perusahaan besar swasta lari ke B30, B50, B100, sehingga mengakibatkan tidak tercovernya sawit petani.

Lanjut Ganda, program B30, B50, B100 membuat perusahaan swasta besar malas melakukan eksport. Karenanya, pemerintah diminta untuk serius menangani masalah ini karena berdampak krusial pada petani sawit. “Pemerintah harus jelilah mengutamakan para petani sawit, bukan perusahaan besar swasta yang notabene bisa melakukan eksport sendiri,” tukasnya.

Dikatakan Ganda Sormin, petani sawit merasa senang karena harga sawit mengalami peningkatan sampai Rp 1.800. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, hanya bertahan selama 3 minggu atau 21 hari. “Peningkatan harga tidak sampai sebulan,” ucapnya.

Ditambahkannya, program Mandatori B30 dan seterusnya menjadi salah satu program strategis pemerintah dalam menekan defisit neraca dagang. Tetapi meski demikian, pemerintah harus jeli melihat saluran pendistribusiannya, apakah menguntungkan petani atau malah ke perusahaan swasta besar.

“Kalau memang untuk itu tutup aja program tersebut, tak ada gunanya karena tidak menguntungkan rakyat. Tak usah dibangga-banggakan program B30 itu, jika rakyat tidak makmur,” tutup James Ganda Sormin. (A02/f)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru