Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 28 Maret 2026

Indonesia Harus Punya Skenario Sendiri Menghadapi Perang Supremasi AS-China di Laut China Selatan

Redaksi - Kamis, 23 September 2021 15:50 WIB
389 view
Indonesia Harus Punya Skenario Sendiri Menghadapi Perang Supremasi AS-China di  Laut China Selatan
Foto Istimewa
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Anis Matta
Jakarta (harianSIB.com)
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengatakan, Indonesia saat ini sedang menghadapi bahaya besar tanpa disadari oleh pemerintah, karena berada di tengah pertarungan supremasi antara Amerika Serikat (AS) dan China.

“Perang dingin masa lalu, seperti tragedi berdarah yang namanya G30S PKI, menunjukkan bahwa Indonesia menjadi target collateral damage, dan sekarang jangan sampai menjadi collateral damage," kata Anis Matta dalam diskusi Gelora Talk bertajuk 'Perang Supremasi Amerika Vs China, Akankah Meledak di Laut China Selatan", yang siaran persnya disampaikan kepada wartawan, yang juga diterima Jurnalis Koran Jamida P Habeahan di Jakarta ,Kamis ( 23/9/21).

Terkait kondisi ini, Partai Gelora mengingatkan pemerintah supaya lebih berhati-hati dalam menyikapi konflik tersebut, karena bisa punya implikasi besar terhadap Indonesia.

“Masalah ini merupakan isu strategis yang berhubungan dengan eksistensi Indonesia sebagai bangsa. Dengan mengangkatnya secara terus menerus diharapkan menjadi medium penyadaran kepada pemerintah dan masyarakat, sehingga berhati-hati dan waspada, ” kata Anis Matta.

Menurutnya, Indonesia, harus pandai melihat perang supremasi antara AS dan China dari skenarionya, bukan drama yang terjadi. Artinya, Indonesia mesti bisa membacanya dan menempatkan skenario tersendiri.

Anis Matta berpendapat, kini Indonesia tidak mempunyai skenario, sehingga menjadi persoalan. Akibatnya, kebijakan luar negeri yang diambil Indonesia terputus-putus, tidak terintegrasi. Bahkan cenderung merupakan kebijakan yang reaktif atau tidak menjadi bagian dari satu rencana jangka panjang.

Dikatakan, dalam pertarungan antara 'elang' dan 'naga' , Indonesia memerlukan skenario jangka panjang dengan melihat skenario kekuatan AS dan China. Kemudian Indonesia mencari celah untuk kepentingan nasional.

Dalam babak sejarah Indonesia yang baru, kata Anis, diperlukan satu arah, yang mengajak kepada satu cita-cita dan satu imajinasi. Di tengah krisis global saat ini, ada dua celah, yaitu menjadi korban dan mendapatkan manfaat.

"Jadi, sudah saatnya kita membuat terjemahan baru yang lebih imajiner terhadap makna konstitusi kita. Makna (politik luar negeri) bebas aktif, tapi kita juga harus ikut dalam pelaksanakan ketertiban dunia, sehingga Indonesia menjadi kekuatan kelima dunia," ujar Anis Matta.

Perang supremasi ini, akan melahirkan kepemimpian baru dan aturan global baru ke depan. Makanya, Indonesia harus memahami filosofi dari perang supremasi antara AS-China.

“Sebaiknya kita mesti paham dari filosofinya, kalau kita tidak duduk di meja makan, kita tidak akan pernah ikut makan," ucap Anis Matta.

Diskusi ini juga dihadiri Pakar Hukum Internasional Hikmahanto Juwana, Pengamat Militer dan Pertahanan Keamanan Connie Rahakundini Bakrie, serta mantan Kepala BAIS TNI Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto. (*)

Editor
:
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru